Ubah Sampah Jadi Briket, Air Selokan Bisa Diminum

Waktu baru menunjukkan pukul 08.00, namun sinar matahari sudah sangat menyengat. Tanpa ragu laki-laki ini turun di sela bak kontrol selokan yang tidak hanya menebar bau busuk, tapi juga terlihat begitu coklat dan kental.


Dengan menggunakan kayu, ia berusaha menyogok kotoran sampah agar tidak menghambat saluran air. Pagi itu bersama sekumpulan mahasiswa, Kadir (43) warga Dusun Dadapan, Desa Pandanrejo, Kecamatan Bumiaji sedang bereksprimen mengolah air selokan agar bisa dikonsumsi kembali.
Hasilnya, setelah melewati uji laboratorium di STIKES Widyagama Malang, air bersih hasil olahan air selokan ini dinyatakan bersih dan bisa dikonsumsi kembali. “Alhamdulillah, kita berhasil,” ujar ayah anak satu ini.
Tidak sembarang orang mau bekerja seperti Kadir, setiap hari ia bersentuhan dengan sampah limbah yang sering kali menebarkan bau busuk sangat menyengat. Begitu dekatnya dengan sampah, banyak yang menyebut Kadir dengan sebutan manusia sampah. “Banyak yang menyebut saya begitu, wong kenyataannya memang begitu,” ujarnya sambil tersenyum.
Namun di tangan Kadir, sampah yang tidak ada harganya menjadi sebuah benda yang sangat berharga dan bernilai. Air selokan disulap menjadi air bersih yang sehat, tumpukan sampah diubahnya menjadi biogas raksasa hingga bio gas sederhana, pupuk cair, bio aktifator untuk starter pengolahan kompos. Tak hanya itu saja, Kadir juga mengubah sampah menjadi briket, lalu mengubah dan memperlakukan sampah sedemikian rupa hingga menjadi daya listrik yang bisa dipergunakan untuk menyalakan sebuah bohlam lampu.
 “Dalam sebuah eksperimen saya sudah berhasil menyalakan bohlam, tapi masih ada saja kecerobohan, kesalahan penghitungan hingga dalam beberapa kali uji coba listrik menyala, yang terakhir malah padam,” ujarnya.
Seharusnya, kata Kadir, sebelum melakukan eksperimen dia harus menghitung semua komposisi. Mulai dari komposisi bahan-bahan yang digunakan, termasuk bahan-bahan penghantar listriknya, seperti tembaga.
Dari hasil evaluasi dengan ilmuwan di ITN, ia menyimpulkan listrik sampahnya tidak bisa menyalakan lampu bohlam 1,5 volt lantaran tembaga yang digunakan berbeda dengan tembaga yang digunakannya pada saat eksperimen awal. “Kualitas tembaga saat ini jauh berbeda dengan tembaga yang dihasilkan tempo dulu, itu yang membuat eksperimen saya yang terakhir tidak berhasil,” ujarnya.
Semua keahlian yang dimilik Kadir saat ini sebenarnya berawal dari keprihatinannya terhadap sampah. Sekitar tahun 1990-an ia melihat pekarangan rumah mulai sempit karena sampah terus bertambah seiring perubahan gaya hidup masyarakat yang tidak hanya membuat sampah semakin banyak, tapi jenis sampah yang dihasilkannya pun semakin beragam.
Menurutnya keberadaan sampah tidak lepas dari tiga hal, pertama geografis, status sosial dan gaya hidup. Letak geografis sebuah daerah, membuat jenis sampah yang dihasilkan berbeda. Begitu juga status sosial berpengaruh terhadap sampah, semakin tinggi tingkat sosial, gaya hidup berubah, dampak yang dihasilkan dari sampah juga tinggi. Kata Kadir, sampah yang dihasilkan masyarakat di strata ini juga semakin sulit diolah.
“Contohnya penggunaan popok bayi, kalau di perkotaan mereka pasti pakai popok buatan, sementara di desa menggunakan kain yang bisa digunakan ulang. Pengolahan popok buatan pun lebih sulit ketimbang jenis sampah lainnya,” terangnya.
Selama ini ia melihat penanganan sampah diselesaikan hanya dengan cara memindahkan sampah di tempat lain. “Sampah dikumpulkan, diangkut, kemudian dibuang di tempat lain. Tetap tidak bisa menyelesaikan masalah sampah, karena sampah hanya dipindahkan tempatnya saja.  saya berpikir sampah harus diolah menjadi sesuatu yang berguna,” ujarnya.
Ia pun mulai melakukan berbagai langkah, termasuk memobilisasi tetangganya untuk bersama-sama mengelola sampah. Awalnya ia membuat tong sampah yang dikenal dengan komposter aerob.
Dalam pengelolaan ini, sampah dipilah menjadi sampah kering dan sampah basah. Sampah basah dipergunakan untuk keperluan lain seperti pupuk organik. “Awalnya kita hanya memilah, setiap 2 minggu sampah plastik kita pilah, dari situ kita tahu kalau pemilahan tidak hanya membuat penyusutan sampah tapi juga mengurangi bau,” ujarnya.
Dari situ, Kadir berkesimpulan bahwa sampah membutuhkan sirkulasi udara, hingga akhirnya ia membuat komposter aerob yang diterapkan di satu RW. Awal komposter aerob itu digunakan untuk 48 KK, hingga akhirnya ia mengembangkan di daerah-daerah lain.
Kadir mengakui tidak mudah memobilisasi masyarakat untuk mengembangkan teknologi ini. “Kendalanya memang tidak semua masyarakat mendukung, program ini bisa dilaksanakan kalau semua masyarakatnya peduli, ditambah dengan dukungan pimpinan daerah. Tidak hanya butuh kemauan, tapi juga butuh kedisiplinan untuk hidup bersih,” ujar mantan penjual sayur ini.
Kadir berjuang mengendalikan sampah di sebuah lini kehidupan, ia tidak hanya berjibaku pada pengelolaan, ia juga mengembangkan teknologi dan menciptakan banyak peralatan, hingga turut serta memberikan edukasi kepada masyarakat dan akademisi.
Ia memiliki beberapa desa binaan, juga mendampingi pengelolaan sampah di perusahaan-perusahaan, menciptakan alat pengelolaan sampah hingga memberikan materi pengelolaan sampah di tingkat masyarakat hingga perguruan tinggi. Ia mendampingi warga Desa Giripurno dan YPPII dalam pengelolaan sampah di YPPII, melakukan pendampingan percobaan di perguruan tinggi hingga menjadi pemateri di Perpustakaan Mejikuhibiniu Sidomulyo.
Bahkan banyak mahasiswa dan dosen yang sharing keilmuan dengan dia. Banyak yang melihat hasil karya teknologi ciptaan Kadir, kemudian mereka mengembangkannya sendiri. Kadir, meski hanya lulusan SMP namun ia mampu membuktikan manfaat dirinya bagi masyarakat.
 “Saya hanya lulusan SMP, dulu saya tergiur dengan pekerjaan, hingga tidak meneruskan sekolah. Baru sekarang saya sadar betapa pentingnya melanjutkan sekolah,” ujarnya.
Lantas bagaimana caranya ia bisa menciptakan semua peralatan pengelolaan sampah, memberikan materi hingga untuk keperluan lain?. “Saya coba-coba, saya tidak berpendidikan tinggi, kita belajar secara otodidak, kalau gagal, ya dicoba lagi, gagal, dicoba lagi sampai berhasil,” paparnya.
Setelah berhasil dalam sebuah ujicoba baru ia mempelajari buku, karena baginya penting untuk mempertanggungjawabkan temuannya itu secara akademis. “Penting baca buku untuk menyamakan persepsi. Contoh, kita biasa menyebut air limbah dengan sebutan air lindi, kalau di kalangan akademisi kan disebut Licit, dengan membaca kita bisa semakin dimengerti oleh orang lain,” terangnya.
Mengelola sampah memang tidak mudah, namun jika sudah memegang kunci “tidak gampang menyerah”, niscaya bisa dilakukan . Kadir mengakui, terkadang kejenuhan melanda dirinya. Bila saat itu tiba, menurut Kadir adalah saat yang tepat untuk mendatangi kompetitornya, melihat kelemahan kompetitor dan membantu mereka untuk mendapatkan solusi. Lawan jangan dijadikan musuh, tapi dijadikan teman berpikir, begitu Kadir bersikap.
“Ada satu motto yang terus saya anut, jangan pernah berharap, apa yang kita dapatkan dari sampah dan kita harus berpikir, apa yang bisa kita lakukan untuk sampah. Sekecil apa pun hal yang kita lakukan, dampaknya akan sangat luar biasa, kita tidak akan pernah peduli siapa yang akan mendapatkan nama besar,” ujarnya. (Muhammad Dhani Rahman/han)