Tularkan Kisah Sukses, Menginspirasi Siswa dan Orang Tua

Selama tiga hari, Wakil Rektor Bidang Akademik Universitas Ma Chung Ir. Stefanus Yufra Menahen Taneo, M.S., M.Si.  pulang kampung ke Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT). Kepulangannya kali ini cukup istimewa, karena membawa misi untuk menularkan kunci suksesnya sebagai orang Timor yang punya karir gemilang di Pulau Jawa. Wartawan Malang Post Lailatul Rosida, merekam langsung perjalanan pulang kampung dosen ahli ekonomi tersebut.

Hampir dua jam pesawat Garuda Boeing 737 800 yang kami tumpangi melayang di atas pulau Bali, Lombok, Sumbawa, Bima dan Flores. Keramahan kru, makanan yang nikmat dan kursi yang lapang membuat perjalanan terasa amat menyenangkan. Berkali-kali tayangan dari layar monitor di kursi masing-masing penumpang menyebut maskapai ini adalah member Skyteam. Jadi tidak heran kalau pelayanannya tak membuat kecewa.
"Mau jus, kopi, atau susu," ujar pramugari cantik yang mendorong setumpuk minuman dan menyodorkan sekotak nasi.
Keramahan awak kabin rupanya juga menular pada bandara El Tari Kupang yang menyambut kami dengan ramah ketika jam 23.00 pesawat landing. Bergegas kami mendorong troli yang penuh dengan beragam bawaan. “Saya membawa beberapa baju dan buah-buahan untuk keluarga, maklum sudah lama tidak pulang kampung,” ungkap Yufra.
Keberangkatan Yufra ke kota kelahirannya kali ini cukup istimewa dan sedikit berbeda dari sebelumnya. Alumnus Universitas Katolik Widya Karya ini mendapatkan tugas dari Ma Chung untuk menularkan kisah suksesnya kepada pelajar di Timor. Perjuangan panjang yang dilalui mulai dari berjalan kaki 45 km ke sekolah, hingga sukses mendapatkan beasiswa master dari Inggris dan Belanda. Selain Yufra, kami juga ditemani Marketing Communication Ma Chung Ratna Kristina.
Malam itu selepas dari bandara, kami menginap di Hotel T-More yang hanya beberapa menit dijangkau dengan kendaraan. Manajer Marketing and communication Ma Chung Jasmin Samat Simon yang sudah tiba lebih dulu menggunakan penerbangan hari sebelumnya menyambut kami dengan senyum ramah. Keramahan sepanjang perjalanan pun membuat saya tidur nyenyak malam itu.
Sarapan pagi di hotel kami lakukan lebih awal karena jadwal kegiatan yang cukup padat di hari pertama. Kami akan mengunjungi kampung halaman Stefanus Yufra, tepatnya sebuah SMA tempatnya belajar dulu. Perjalanan menuju kampung halaman Yufra yakni Kota Soe, memakan waktu enam jam pulang pergi. Namun sebelum berangkat ke Soe, terlebih dulu kami mengunjungi SMAK Giofani dengan agenda yang sama, yakni membuka wawasan para orang tua tentang pendidikan di Indonesia.
Kerinduan Yufra dengan kota kelahirannya benar-benar tak bisa disembunyikan. Maklum saja, pria yang tumbuh besar di Kota So'e ini sejak 1983 sudah tinggal di Malang untuk menempuh pendidikan tinggi. Karena itulah saat sarapan pagi di hotel T-More, ia begitu lahap memakan Jagung Bose dan Tumis Daun Pepaya.  Jagung bose terdiri dari jagung dan kacang yang dimasak dengan santan.
"Ini makanan favorit kami, setiap hari pasti ada tumis bunga pepaya. Kami tidak terbiasa makan nasi, tapi menggantinya dengan jagung bose," ujarnya.
Jagung bose rasanya sangat enak, mirip sereal tapi dengan kuah santan. Saya pun langsung menyukai makanan pokok itu. Hanya saja untuk tumis daun pepayanya terlalu pahit bagi lidah saya.
Puas mengisi perut, kami melanjutkan agenda pertama ke SMAN 3 Kupang. Rombongan diterima kepala sekolah, Dra Selfina S Dethan. Setelah itu perjalanan berlanjut ke SMAK Giofani. Karena aula sekolah sedang direnovasi, acara pertemuan dengan orangtua siswa pun digelar di aula gereja. Kami disambut kepala SMAK Giofani Romo Drs Stefanus Mau. Ia menyambut hangat kedatangan rombongan dari Kampus Ma Chung, dan berharap mendapatkan informasi yang banyak mengenai pendidikan khususnya di Pulau Jawa.
Yufra yang mendapatkan kesempatan pertama berbicara di hadapan orang tua siswa SMAK Giofani mengisahkan perjuangannya sebagai orang Timor untuk mengenyam bangku sekolah. Selain berjalan kaki berkilo-kilo, ia juga harus bekerja berat membantu keluarga mencukupi kebutuhan sehari-hari. Makan sehari-hari pun jauh dari kecukupan gizi seperti layaknya anak-anak di desa tertinggal.
“Saya ingin membuktikan bahwa meski kami makan jagung tapi kami tidak bodoh, semua orang bisa, orang Timor makan jagung tapi tidak bodoh,” ucapnya memberi semangat.
Kehadiran Yufra seolah memberikan suntikan semangat kepada para orangtua yang hadir, tak sedikit yang bertanya dan berdiskusi selama acara.“Saya berharap kehadiran rombongan dari Malang ini bisa merngubah pola pikir dan memberikan motivasi kepada orangtua, terutama dalam menyiapkan anak ke perguruan tinggi,” kata Romo Stefanus.
SMAK Giofani adalah salah satu sekolah favorit di Kupang, tak heran jika lulusannya banyak yang melanjutkan studi ke perguruan tinggi baik dalam maupun luar negeri. Kisah paling mengesankan adalah saat kami berkunjung ke SMA Kristen 1 Soe, almamater Yufra. Perjalanan berkelok-kelok membelah gunung dan lembah seakan terhapus menyaksikan keramahan para guru, siswa, penduduk, dan yang paling penting bertemu keluarga besar Yufra. (lailatul rosida/bersambung)