Waktu Kecil Pikul Air, Saat Kuliah Belajar Lagi Materi SMP

Perjalanan menuju Kota Soe adalah yang paling kami tunggu dalam agenda pulang kampung Wakil Rektor Bidang Akademik Universitas Ma Chung, Ir. Stefanus Yufra Menahen Taneo, M.S., M.Si. Karena di kota yang berada di wilayah Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS) itu terdapat banyak kisah dan kenangan masa kecil yang membuat kami semakin mengagumi keluarga besar Taneo.

Perjalanan ke Kota Soe memakan waktu sekitar tiga jam dari pusat Kota Kupang. Medan yang kami tempuh cukup menantang, karena jalannya yang berkelok-kelok. Maklum saja, Kota Soe ini berada di pegunungan tinggi di NTT.
”Kita melewati perbukitan, dan lihat itu yang paling ujung di atas pegunungan itulah Kota Soe,” ujar Yufra saat mobil meliuk-liuk di sebuah tikungan tajam.
Untung saja jalanan beraspal masih mulus sehingga tidak menyulitkan sopir yang memang sudah sangat hafal dengan tiap sudut kota. Sopir harus sedikit ngebut selama perjalanan, karena kami mengejar waktu agar bisa bertemu dengan guru dan siswa di SMA Kristen 1 Soe, almamater Yufra. Sekitar pukul 13.00 WIB kami tiba di sekolah dan langsung disambut hangat. Rasa haru dan bahagia tergambar di wajah Yufra ketika seorang guru bertubuh tinggi menyapanya. Rupanya dia adalah guru Bahasa Indonesia Yufra kala masih menjadi siswa SMA.
”Dulu saya berjalan kaki setiap hari ke sekolah, dan kami belum punya gedung semegah ini karena masih menumpang di SD,” kata Yufra.
Setelah bersalaman dengan para guru yang baru selesai dengan tugas mengajarnya, Yufra pun mulai mengisahkan bagaimana ia membangun mimpinya di Pulau Jawa. Kisah bapak satu putra ini diawali ketika pada 1983 ia peri kuliah ke Malang, waktu itu ia sengaja memilih program diploma III dengan harapan bisa segera lulus. Pada 1986, ia berhasil mengisi lowongan kerja sebagai dosen Matematika, Kalkulus dan Aljabar di Universitas Katolik Widya Karya, almamaternya.
”Saya tidak pernah pulang kalau liburan kuliah, tapi saya sempatkan beli buku-buku SMP dan SMA. Karena ternyata saya sangat ketinggalan pelajaran itu,” ujarnya.
Awalnya, kata Yufra, ia sempat minder karena banyak materi yang tidak dikuasai saat kuliah. Sementara teman-temannya banyak yang mengaku materi tersebut sudah sering diajarkan di SMP dan SMA, padahal ia tak mengenal materi itu. Karena itulah ia bertekad untuk belajar sendiri dan mengulang pelajaran SMP dan SMA dengan membeli buku bekas.
”Sampai sekarang buku-buku tersebut masih tersimpan rapi di gudang rumah saya, dan tidak boleh dibuang karena ada historisnya,” kata dia.
Karena ketekunannya belajar, ia mendapat kesempatan beasiswa S2 di Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogya. Kemudian mendapatkan kesempatan beasiswa studi ke Belanda dan Inggris. Pada 2003-2007, Yufra pun dipercaya sebagai wakil rektor di Widya Karya dan kemudian ia mengajukan diri ke Universitas Ma Chung yang dibuka pada 2007.  ”Saya ingin membuka kesempatan dan mengajak agar anak-anak di wilayah TTS ini bisa belajar dengan baik, sehingga kesenjangan yang ada selama ini bisa terentaskan,” ujarnya.
Yufra mengaku sangat sedih karena informasi yang ia baca dari data Bappenas, hingga  2018 lama studi siswa di NTT berada di urutan dua bawah. Lebih tinggi satu tingkat dari Papua. Karena itulah ia berharap bisa menularkan pengalamannya dan menginspirasi mutiara-mutiara di NTT sehingga bisa mengejar ketertinggalan mereka.
”Dulu saya tidak pernah bercita-cita menjadi dosen, hanya biasa pikul air setiap pagi,” kata Yufra.
Wakil Kepala SMA Kristen 1 Soe Otnial Taloin, yang juga guru Bahasa Indonesia Yufra, menuturkan, ia mengagumi anak didiknya itu sejak dulu. Menurutnya Yufra terkenal paling rajin belajar, tekun dan tidak suka membolos. Walau setiap hari harus berjalan kaki puluhan km, tapi tidak membuatnya malas.
”Sekolah ini waktu itu berhadapan dengan toko, kalau istirahat anak-anak biasa jajan. Tapi Yufra lain, dia biasanya di kelas saja,” kata dia.
Manajer Marketing and Communication Universitas Ma Chung Jasmin Samat Simon di hadapan para guru SMA Kristen 1 Soe menegaskan, selain ingin melihat sekolah almamater Yufra, kedatangan rombongan dari Malang juga bertujuan untuk memberikan wawasan mengenai pendidikan tinggi. Sehingga anak-anak SMA di TTS bisa mendapatkan akses pendidikan tinggi yang selama ini masih minim jumlahnya.
”Kami juga siap memberikan workshop jika guru-guru siap sharing teknologi terbaru dengan kami,” kata pria berkebangsaan Singapura itu.
Puas berkunjung, bernostalgia dan berfoto dengan warga sekolahnya, Yufra pun mengajak kami bertemu dengan keluarga besarnya. Rupanya keluarga besar Taneo sukses menyuntikkan virus belajar sehingga kini semuanya menjadi orang hebat. Perjuangan kala kecil terbayar dengan kesuksesan yang diraih saat ini.
”Soe itu kalau diartikan begitu saja artinya sial, sementara bapak Yufra ini lahirnya di desa namanya Kaineno yang artinya menangis setiap hari. Karena keadaan kami waktu itu sangat susah,” kata Daniel Taneo, kakak kandung Yufra ditemui di kediamannya. (lailatul rosida/bersambung)