Merasakan Hidup di Zaman ‘Purba’, Nyalakan Api dengan Batu

Wakil Rektor Bidang Akademik Universitas Ma Chung Ir. Stefanus Yufra Menahen Taneo, M.S. M.Si pernah hidup di zaman yang amat susah. Saat kecil, ia bahkan masih menyalakan api dengan menggunakan batu. Dua buah batu digesek sampai muncul api, lalu didekatkan pada kayu atau dahan kering. Peristiwa zaman purba yang banyak dikisahkan di buku-buku sejarah, pernah dialami oleh ahli ekonomi matrikuler itu.

Hidup di desa kecil Kaineno yang berjarak sekitar 50 km dari Kota Soe, sehari-hari hanya makan Singkong, tak menghalangi niatan Yufra untuk bisa menimba ilmu di perguruan tinggi di luar Jawa. Bahkan ia sukses mendapatkan beasiswa pemerintah Jerman di UGM dan dilanjutkan beasiswa ke Belanda dan Inggris.
“Perkenalkan saya dari Timor Tengah Selatan, tepatnya saya lahir di Kaineno. Desa terpencil dan kering,” ujar Yufra memperkenalkan diri di hadapan para orang tua siswa SMAK Giofani Kupang, NTT.
Soe berada di Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS), wilayahnya berupa pegunungan tinggi. Tak heran kalau udaranya sedingin Kota Batu bahkan bisa jauh lebih dingin di malam hari. Karena medan yang menantang itulah, menurut Yufra, banyak atlet lari yang lahir dari TTS. Maklum saja, mereka setiap hari harus berjalan kaki berkilo-kilo karena akses kendaraan dan jalan raya yang minim.
”Dulu saya tidak pernah bercita cita menjadi dosen, hanya biasa pikul air waktu kecil. Saya yakin, dengan perencanaan panjang, anak mau jadi apa, mulai ditata agar arah perjalanannya jelas. Saya yang lahir di desa terpencil bisa berhasil, tergantung pada niat kemauan, doa dan belajar,” pesannya.
Fasilitas listrik dari PT PLN bahkan baru dinikmati warga desa Kaineno beberapa bulan terakhir. Menurut Yufra, fasilitas baru itu sempat membuat kaget penduduk karena terbiasa hidup hanya mengandalkan cahaya matahari dan bulan.
”Saya ditelepon kakak yang masih tinggal di Kaineno, katanya tidak bisa tidur malam hari karena desa kami sekarang terang benderang kalau malam,” ujarnya sambil tersenyum.
Kisah masa kecil yang penuh perjuangan itu sengaja dikisahkan Yufra saat berkunjung ke sejumlah sekolah di NTT dalam agenda pulang kampungnya. Program yang dirancang oleh tim marketing dan komunikasi Ma Chung ini diharapkan bisa menularkan virus positif kepada para siswa khususnya jenjang SMA yang akan lulus. Sehingga mereka mendapatkan gambaran mengenai perguruan tinggi di Indonesia, bagaimana mengaksesnya, dan peluang lain yang mungkin bisa dibangun. Tentunya berkaca dari sosok Yufra yang sejak kecil harus berjuang hingga akhirnya sukses di dunia pendidikan.
”Anak-anak sekarang wajahnya lebih cerah, dan saya yakin suasananya sudah tidak seperti saya dulu. Karena itu mereka pasti punya peluang lebih besar untuk maju, mengharumkan bangsa ini khususnya NTT,” tegas Yufra.
Pertemuan dengan orangtua siswa kelas XII di SMAK Giofani ini tak hanya berkesan bagi para orang tua karena mendapatkan wawasan luas, tapi juga membuat mereka tergerak untuk bisa menyiapkan anaknya sedini mungkin dalam menggapai cita-cita dan target pendidikan. ”Uang urutan kedua, yang pertama niat dan sungguh-sungguh belajar,” tegasnya.
Dengan bekal itu pula, Yufra dan keluarga besarnya sukses menjadi orang berpendidikan. Kakak Yufra, Daniel Taneo, adalah mahasiswa Universitas Brawijaya (UB) dan juga Akademi Pemerintahan Dalam Negeri (APDN). Daniel juga berhasil mendidik putra-putrinya hingga ada yang kuliah S1 di Universitas Negeri Malang (UM), di UGM Yogya, dan berbagai perguruan tinggi besar lainnya.
Kami juga sempat berkenalan dengan saudara Yufra yang menjadi dosen di Undana Kupang, Gomer Liufeto. Ia berpendapat, NTT sangat membutuhkan orang-orang kreatif yang tidak hanya berfikiran menjadi pegawai negeri saja. Potensi pariwisata dan bisnis di NTT seharusnya membuka peluang untuk lahirnya lebih banyak entrepreneur.
”Sekarang ini masih banyak yang hanya mengejar gelar, orientasi masyarakat yang menguliahkan anaknya di luar pulau hanya yang penting dapat gelar saja,” tukasnya.
Ide kreatif yang digagas divisi Marketing dan Komunikasi Ma Chung ini memang berdampak luar biasa. Tak sedikit orang tua yang merasakan suka cita dengan kedatangan rombongan dari Ma Chung. ”Saya sangat senang dengan informasi yang dibawa dari pulau Jawa ini, sehingga kami bisa memilih dengan tepat kampus mana yang cocok untuk anak saya,” ujar salah satu orang tua siswa SMAK Giofani, Rain Tukan.
Ide luar biasa yang dibawa Ma Chung ini memang baru kali pertama, dengan menghadirkan sosok sukses dan inspiratif dari daerah.  ”Kami ingin anak bangsa dari daerah juga bisa mengakses pendidikan berkualitas di Jawa, karena itu Ma Chung siap memfasilitasi mereka,” imbuh Manajer Marketing dan Komunikasi Ma Chung, Jasmin Samat Simon.
Meski datang membawa bendera Ma Chung, namun menurut pria berkebangsaan Singapura ini pihaknya siap memberikan informasi perguruan tinggi lain di Jawa terutama Malang. Karena itu agenda kunjungan ke NTT tak berhenti kemarin saja, tapi ada banyak program yang ingin mereka berikan untuk pendidikan di Timor Indonesia. (lailatul rosida/habis)