Jadi Tempat Wisata Rohani, Usulkan Mini Museum dan Teater

ISLAMIC Center yang dibangun di Kedungkandang digagas sebagai tempat yang multi fungsi. Di antaranya sebagai wisata rohani sekaligus berkonsep pemberdayaan masyarakat. Karena itulah perlu diseriusi juga konsep pengelolaan secara professional.

Dalam diskusi yang digelar Malang Post dan Dinas Pekerjaan Umum, Perumahan dan Pengawasan Bangunan (DPUPPB) Kota Malang itu, Sekretaris Pengurus Daerah Muhammadiyah Kota Malang, Dr EM Sangadji, MSi mengatakan, para prinsipnya Muhammadiyah   senang dengan rencana pembangunan Islamic Center tersebut. “Tapi jangan hanya membangun, mengisi dan mengelola itu juga penting. Pemeliharannya harus lebih baik,” katanya.  
Ia menambahkan, Islamic Center perlu memiliki konsep pemberdayaan masyarakat, yang salah satunya dengan membuka  area bisnis yang dibina dengan baik. “Sehingga fungsi untuk masyarakatnya juga ada,” sambungnya sembari berharap semakin cepat Islamic Center dibangun maka akan semakin lebih baik.
Sangaji mengusulkan agar Pemkot Malang perlu merancang  pengelolaan Islamic Center bersifat jangka panjang. Pengelolaannya pun harus dilakukan secara prosfesional. Bahkan tak harus mengandalkan APBD lagi.
Karena tersedia penginapan, pengelola sebaiknya membuat penginapan yang bernuansa Islami. Hal itu sebagai bagian dari layanan wisata yang disediakan, lantaran salah satu konsep menggagas Islamic Center adalah sebagai wisata religi yang lengkap dengan fasilitas pendukung.
Redaktur Pelaksana Malang Post Dewi Yuhana juga mendukung usulan area bisnis di Islamic Center dengan membuat konsep pemberdayaan UKM. Bentuknya konkret, yakni sebagai tempat oleh-oleh  khas Malang dan juga souvenir seputar Islamic Center. Agar pengunjung memiliki tanda mata sekaligus jadi ajang promosi kepada masyarakat luar daerah yang belum berkunjung.
Ia menambahkan, harus disiapkan area dan spot foto yang berkesan di area Islamic Center. Pasalnya wisatawan yang berkunjung pasti mencari tempat bagus dan berciri khas untuk foto sebagai salah satu tanda kenangan. “Apalagi di zaman teknologi sekarang ini, semua orang pasti senang berselfie ria. Saat itu memotret, saat itu pula meng-upload foto di media sosial yang akan disaksikan oleh follower dan teman-temannya, sehingga promosi Islamic Center semakin massif,” katanya.
Agar semkain menambah aksen wisata rohani, lanjut Hana, sapaan akrab Dewi Yuhana, pemkot perlu menambahkan peta sejarah dan diorama syiar Islam di Malang dan sekitarnya. Berbagai informasi tentang perkembangan Islam mestinya melengkapi Islamic Center.  Gagasan ini bertujuan untuk memperkaya wawasan dan informasi pengunjung tentang Islam.
Diskusi yang digelar di ruang meeting Malang Post ini pun semakin gayeng dan hangat. Kepala Seksi Promosi Pariwisata Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Malang Budie Heriyanto berpendapat, harus ada tiga S yang dimiliki sebagai syarat menjadi obyek wisata. “Pertama harus memiliki  something to see. Maksudnya harus ada yang bisa dilihat. Memiliki daya tarik, jadi selain bentuk Masjid Cheng Ho, juga harus digelar acara yang bernuansa Islami secara reguler yang menarik massa untuk datang dan melihat,” urai Budie.
Syarat kedua, lanjut dia, harus memiliki something to do, yakni apa yang bisa dilakukan di tempat tersebut. Tujuannya agar wisatawan yang berkunjung bisa berlama-lama di tempat yang dikunjungi lalu berminat untuk berkunjung lagi di lain waktu.  “Sedangkan yang ketiga yakni something to buy, apa yang bisa dibeli sebagai cindera mata untuk dibawa pulang sebagai oleh-oleh,” paparnya.
Karena itulah Budie mengusulkan Islamic Center dilengkapi dengan sejumlah fasilitas pendukung untuk memenuhi tiga S yang disebutkannya itu, yang sebelumnya sudah diusulkan oleh peserta rapat yang lain. Namun ia menambahkan, jika memungkinkan, perlu dibangun mini museum tentang dunia Islam. Bahkan perlu juga mini teater sebagai tempat pemutaran film Islami.
Islamic Center pun diusulkan agar tak sekadar menjadi sebuah bangunan yang monumental.  Namun harus digagas agar bisa bermanfaat bagi umat Islam sehingga tak mangkrak. Ketua Dewan Masjid Indonesia Kota Malang KH Mas’ud Ali mengatakan, agar tidak mangkrak maka perlu didukung dengan kegiatan-kegiatan yang semakin melengkapi Islamic Center.
Selain itu dia mengusulkan agar disediakan pula perkantoran untuk organisasi-organisasi Islam. Apalagi selama ini pemkot belum menyediakan tempat atau kantor untuk berbagai organisasi Islam. Salah satu contohnya MUI  yang menempati rumah salah seorang tokoh walau sebenarnya pemkot sudah menyediakan tempat, namun dinilai kurang nyaman. Sekretaris MUI Kota Malang, Muhammad Qusairi mengatakan, selain tempat perkantoran perlu juga dilengkapi dengan tempat pertemuan yang representatif seperti hall. “Termasuk bagaimana mengaktifkan dengan kegiatan-kegiatan,” usulnya.
kepala Kantor Kementerian Agama Kota Malang, Drs H Imron MAg setuju jika Islamic Center dilengkapi dengan kantor organisasi Islam. Sebab menurut dia, selama ini beberapa organisasi Islam belum memiliki gedung sendiri. “Saya setuju jika ada kantor organisaasi Islam lainnya seperti dewan masjid atau MUI. Jika kantor berbagai organisasi Islam berada dalam satu kawasan di Islamic Center maka memudahkan koordinasi. Selain itu memungkinkan untuk berlangsungnya berbagai aktivitas yang bernuansa Islam di sana,” urainya.
Ketua PC NU Kota Malang, KH Dr Isroqunnajah MAg mengapresiasi gagasan Islamic Center yang memiliki banyak fungsi. Yakni kegiatan ibadah, pusat pendidikan dan kebudayaan Islam, wisata religi, pemondokan haji dan landmark atau ikon Kota Malang.
Ia menyarankan konsep yang diwujudkan di Masjid Putra Jaya di Malaysia. Bahkan di Putra Jaya, bisa dikunjungi wisatawan non muslim asalkan tetap menjaga identitas Islamic Center. Sebelum memasuki area masjid, ada sebuah konter semacam resepsionis yang meminjamkan atau menyewakan busana muslim yang ‘harus’ dikenakan oleh pengunjung. Saat Malang Post berkesempatan untuk mampir di masjid ini, sempat terlihat pengunjung muslim asal Indonesia yang ditegur dan diminta untuk memakai baju (semacam gamis dan jubah, red) karena memakai celana dengan atasan kemeja yang sedikit ketat.
Di dekat masjid tersebut juga terdapat resto-resto yang menawarkan aneka macam makanan khas melayu seperti Nasi Lemak dan Teh Tarik. Di dekat situ, pengunjung juga bisa naik perahu dan ‘berlayar’ di danau meski saat siang hari cuaca begitu panas menyengat. Kala itu, pengunjung masjid ini tak hanya datang dari berbagai daerah di Malaysia tapi juga rombongan yang datang dengan bus-bus dari Indonesia.  
Sementara itu, pimpinan sementara DPRD Kota Malang Sahrawi menyarankan pentingnya mengkaji fasilitas penunjang. Salah satu contohnya yakni akses ke kawasan Kedungkandang, lokasi dibangunnya Islamic Center. Sebab selama ini kawasan Kedungkandang sudah sering dilanda kemacetan. Karena itulah perlu akses yang memadai sehingga kemacetan segera terurai dan pengunjung Islamic Center pun nyaman saat mengakses kawasan tersebut.
 “Tapi kami senang dan menyambut gagasan dibangunnya Islamic Center di Kedungkandang. Karena bisa memajukan kawasan Kedungkandang serta ikut mewujudkan masyarakat yang semakin religius,” kata wakil rakyat dari Kedungkandang ini.
Kepala DPUPPB Kota Malang, Dr Ir Drs Jarot Edy Sulistyono, MSi mengapresiasi semua masukan para tokoh Islam dan tokoh masyarakat itu. Dia mengakui, konsep yang telah dibuat DPUPPB belum sempurna. “Kami sangat senang diberi masukan dan pendapat seperti dalam diskusi ini. Kami masih butuh masukan sampai sempurna baru kemudian difinish-kan. Nanti juga akan dikaji lalu lintasnya dan kita akan ketemu lagi di Malang Post untuk membahas semuanya bersama-sama. Pertemuan ini memang yang pertama, tapi bukan yang terakhir,” pungkas Jarot, sapaan akrab Jarot Edy Sulistyono. (van/han/habis)