Bina Anak Muda, Angkat Potensi Wisata di Singosari

KETEKUNAN mahasiswa FISIP Universitas Brawijaya ini untuk melestarikan seni dan budaya Jawa  patut diacungi jempol. Diluar setumpuk kesibukan, ia tetap meluangkan waktu membina Sanggar Seni Singamulangjaya berpusat di Jalan Mojokerto 11 Kota Malang.

Dalam keseharian, penampilan Ki Kresna Soesamto Sastra Wijaya tak ubahnya dengan anak muda lain yang ‘’trendi’’. Maklum,ia baru berusia 23 tahun. Ia juga banyak bergaul dengan anak-anak muda,baik mahasiswa maupun siswa sekolah lanjutan atas. Tidak sekadar bergaul, tetapi Kresna, sapaan akrabnya, sekaligus mengajak kaum muda tersebut untuk terus ‘nguri-nguri’ sekaligus melestarikan beragam seni dan budaya  Jawa warisan leluhur.
“Saya senang sebab Sanggar Seni Singamulangjaya sekarang mempunyai banyak anggota para mahasiswa maupun siswa-siswi tingkat  SMA.  Baru-baru  ini, kami mementaskan pagelaran wayang kulit dengan lakon Pandowo Mbangun Projo di sekretariat sanggar dan berlangsung sukses,” papar Kresna kepada Malang Post kemarin.
Cucu mantan Walikota Malang HM.Soesamto (almarhum) ini menuturkan mereka juga mempunyai berbagai  kegiatan demi mempertahankan seni dan budaya Jawa agar tidak punah di era globalisasi sekarang ini. Ia mengakui memang tidak sedikit kendala yang menghadang.Tetapi mereka tetap optimistis  keinginannya pasti dapat  terus berjalan bahkan kelak membuahkan hasil maksimal.
“Ya kami anggap inilah risiko perjuangan bagi anak-anak muda seperti kami. Apalagi kami sudah terbiasa dalam pergerakan.Jadi seluruh romantika kami hadapi dan laksanakan saja.Ibarat air yang harus terus mengalir,” urai Kresna yang berulang tahun setiap  tanggal 13 Februari ini.
Selain sibuk membina  Sanggar Seni Singamulangjaya bersama rekan-rekan mudanya,  ia selama beberapa waktu terakhir juga diminta tokoh budayawan Ki Djathi Kusumo untuk turut membina padepokan Wangon di Singosari Kabupaten Malang. Permintaan tersebut diterima dengan penuh rasa tanggungjawab oleh Kresna yang sebelumnya juga membina padepokan Suroloyo. Selain itu, ia juga mendapat amanah dari almarhum Ki Barata untuk melanjutkan  padepokan Wilujeng.
Karena itulah,Kresna bertekad untuk menyatukan tiga padepokan tersebut dalam suatu wadah diberinama Arya Saylendra Darma Dykhsa Para Pancasila berpusat di Singosari.Mereka ingin  agar Singosari setelah ini kembali ‘’bersinar’’ dan maju pesat dalam bidang seni, budaya,perekonomian dan juga pariwisata.Mereka siap mengangkat potensi wisata Singosari yang sangat besar yaitu  pariwisata alam dan kebudayaan.
Dipilihnya wilayah tersebut bukannya tanpa alasan.Sebab di   kawasan tersebut  pernah berdiri sebuah kerajaan besar dan raja-rajanya kelak melahirkan raja-raja di Bumi Nusantara yaitu Kerajaan Singosari.Bahkan sejarah mencatat,Kerajaan Singosari pernah jadi salah satu pusat perabadan manusia.
“Zaman memang sudah berubah. Tetapi kami yakin bahwa tekad kami mengembalikan kembali kejayaan kerajaan Singosari bukan mustahil akan dapat terwujudkan,” papar Kresna didampingi beberapa pengurus Sanggar Seni Singamulangjaya.
Satu hal semakin menebalkan tekad mereka adalah adanya dukungan dari berbagi pihak untuk mengembalikan kejayaan Singosari tersebut.  Termasuk dukungan dari jajaran Muspida dan tokoh budaya Bali kepada kami. Hal tersebut sesungguhnya tidak berlebihan. Sebab sesuai catatan sejarah, memang pernah ada benang merah antara kerajaan Singosari dengan kerajaan-kerajaan di Bali.
Menariknya, hingga sekarang cukup banyak jajaran pejabat maupun tokoh budaya dari Bali menghubungi  Kresna yang juga piawai mendalang. Mereka mendukung sepenuhnya keinginan anak-anak muda dari Malang ini.Bahkan mereka telah siap membawa berbagai kebudayaan Bali ke padepokan yang dibina Kresna dan nawak-nawak di Singosari tersebut.
“Kami semakin bersemangat terus maju. Bahkan dalam waktu dekat,kami juga segera menggelar beberapa program kerja,termasuk bakti sosial dan sebagainya, guna semakin mendekatkan kami dengan masyarakat luas di Singosari,”  demikian Kresna.(nugroho)