Di Kutai Kartanegara, Tarif Antar Kecamatan bak Ongkos ke Makkah

KOMPAK : Para elite redaksi dari daerah, berfoto bersama Bupati Kukar Rita Widyasari (tengah berjilbab) dalam Forum Pemred Jawa Pos National Network.

Forum Pemimpin Redaksi Jawa Pos National Network (Forum Pemred JPNN) berlangsung di Jakarta Convention Center (JCC) pada 26 Agustus hingga 28 Agustus 2014 lalu. Nilai sejarah yang tinggi atas JCC, membuat pertemuan rutin itu menjadi semakin berkesan. Koran kebanggaan kita ini, mengirim Bagus Ary Wicaksono Redaktur Pelaksana Malang Post menghadiri forum elite redaksi JPNN Se-Indonesia itu.

Acara ini adalah forum yang agung, dihadiri sejumlah pembicara penting secara bergantian. Mulai dari Bupati Kutai Kertanegara Rita Widyasari, Gubernur Sumsel Alex Noerdin, Dirut PT KAI Ignasius Jonan, Dirut BNI Gatot Soewondo, Panglima TNI Jenderal Moeldoko hingga Menteri BUMN Dahlan Iskan.
Dalam pertemuan penting ini, saya hadir bersama Direktur Malang Ekspres (Grup Malang Post) Sunavip Ra Indrata. Avi, demikian inisial jurnalistiknya, sudah dikenal luas di kalangan para elite redaksi JPNN. Kami menginap di Hotel Sultan Jakarta (dulu Hilton International) yang berdekatan dengan Senayan.
Begitu tiba, kami langsung check in, kemudian meletakkan bawaan. Lantas turun ke lobi, bertemu Ketua Forum Pemred JPNN Don Kardono (Pemred Indopos). Ada pula Hasan Aspahani (GM/Pemred JPNN) dan Marlon Sumaraw Pemred Manado Post. Oleh mereka langsung diajak melihat kesiapan ruang pertemuan.
Dari hotel Sultan menuju JCC, kami tak perlu repot-repot naik kendaraan. Sebab akses kesana bisa ditempuh dengan melewati terowongan penghubung sepanjang sekitar 200 meter. Ini merupakan terowongan bawah tanah bersejarah.
Sebab, para pemimpin dunia dalam KTT Nonblok tahun 1992 juga melalui lorong ini. Pintu masuk terowongan bawah tanah itu berada di restoran Hotel Sultan. Dilengkapi dengan eskalator sangat panjang, untuk memperpendek jarak tempuh. Nilai sejarah JCC jelas terlihat di dinding terowongan.
Sambil naik di atas eskalator, kita bisa melihat foto-foto para pemimpin dunia. Mendiang Yasser Arafat serta mendiang Raja Kamboja.  Kala itu disebut sebagai kembaran Mantan Presiden RI Soeharto, yakni Norodom Sihanouk. Sekitar delapan menit,  menikmati foto bersejarah, tibalah kami di balai sidang.
“Nanti pertemuan akan digelar di ruang Merak, sedangkan makan siang dan makan malam di ruang makan yang dulu digunakan para pemimpin dunia,” ujar salah satu staff  event organizer.
Di balai sidang yang maha luas itu, Yasser Arafat pernah mondar mandir dengan pistol di pinggang. Nilai sejarah yang besar itu, makin memposisikan Forum Pemred sebagai sebuah agenda yang penting. Para elite redaksi JPNN yang hadir, harus pulang dengan membawa hal positif.
Hal itu pula yang langsung kami dapatkan pada pertemuan pertama. Dengan pembicara Dirut KAI Ignatius Jonan. Tampil di depan forum, Jonan membawa seluruh pegawai elite di KAI. Mereka inilah yang disebut Jonan, bisa membuktikan sepak terjang PT KAI.
“Karena berada di Forum Pemred, saya bawa semua Direktur, boleh dicek langsung ke mereka, apa yang dilakukan PT KAI selama ini,” tegasnya.
Jonan menyebut, dirinya memulai program Culture Change di PT KAI. Mengubah mindset feodal di PT KAI, dan mengajarkan konsistensi. Kala itu, dirinya memulai gerakan membersihkan 61 stasiun di Jabodetabek. Jurang menghadang di depan, karena ia harus berhadapan dengan anak buahnya.
“Ada pegawai KAI yang memiliki 100 kios dari total 8.000 kios yang kita bersihkan, ya akhirnya pegawai itu kita berhentikan,” ujarnya.
Pembersihan kios yang banyak ditentang itu, sukses menambah daya tampung penumpang hingga 600 ribu. Sebab, target Jonan, pada 2018 mendatang, KRL harus bisa menampung 1,2 juta penumpang sehari. Hingga 2014 ini, sudah bisa berkisar 650 ribu hingga 700 ribu per hari.
Program PT KAI mulai dari peningkatan KRL, redesain stasiun, peningkatan pendapatan, dan angkutan barang menghasilkan hal positif. Kepercayaan publik meningkat, bahkan mengalami lonjakan pendapatan. Tahun 2009 Rp 4,3 triliun meningkat menjadi Rp 8,2 triliun pada 2011. Tahun 2014 menjadi Rp 11 triliun.
“Program ini bisa berjalan apik karena konsistensi, dijalankan hingga jajaran bawah, karena terhadap staff ada reward dan punishment,” tegasnya.
Untuk organisasi, menurut Jonan harus ada sikap konsisten.  Dalam organisasi kerja, tidak ada hubungan sesama manusia, selain hubungan profesionalisme. Dia menghilangkan kultur permissive dan feodal.
“Jika ada direktur yang tak sukses menjalankan tugas ya langsung diberhentikan, dan mereka menerima karena sudah bagian dair profesionalisme, di luar itu, kita tetap bersahabat,” tandasnya.
Lain Jonan, lain pula dengan Bupati Kutai Kartanegara Rita Widyasari. Pembicara paling cantik dari para pembicara lainnya ini, membedah kekayaan Kutai Kartanegara (Kukar). Meski menjadi kabupaten terkaya di Indonesia, Kukar ternyata masih memiliki kawasan yang terisolir. APBD Kukar mencapai Rp 6 triliun, separuhnya dipakai untuk belanja.
“Yang kita andalkan adalah dana bagi hasil migas dan batu bara, kita sangat tergantung terhadap dana itu, sebesar Rp 3,2 triliun, itu tak sampai dua persen dari total pendapatan migas Rp 123 triliun per tahun,” urainya.
Pekerjaan terbesar Rita saat ini, adalah membuka akses jalan, paling sedikit setahun butuh Rp 400 Miliar. Disana, bahkan masih ada kecamatan terisolir seperti Kecamatan Tabang. Karena ketiadaan jalan, maka warga kecamatan itu harus naik speed (perahu) ke pusat perekonomian. “Ongkos pulang pergi naik perahu itu, sama seperti biaya naik haji, karena satu kali Rp 16 juta,” celetuknya.
Lantaran memiliki sejarah besar sebagai kerajaan Islam tertua di Indonesia, maka Rita akan berupaya meningkatkan sektor pariwisata. Hal ini, agar Kukar tidak terlalu tergantung kepada dana bagi hasil migas. Tentunya, dia juga berharap agar pemerintah pusat menaikkan pembagian sektor migas.
“Kekuatan kami adalah blok Mahakam, kami yakin jika satu tahun saja tak perlu setor dana migas, maka kami sudah bisa melampaui Brunei Darussalam,” tandasnya.(Bagus Ary Wicaksono/Bersambung)