Moeldoko Titip Dandim, Dahlan Bahas Wartawan Kopassus

Panglima TNI Jenderal Moeldoko serta Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Dahlan Iskan menjadi magnet dalam Forum Pemimpin Redaksi Jawa Pos National Network (Forum Pemred JPNN). Sehingga diskusi yang digelar di ruang Merak Jakarta Convention Center (JCC) berlangsung menarik.

Moeldoko hadir di forum tersebut pada hari kedua Rabu, 27 Agustus 2014. Sang Panglima disambut tepuk tangan ketika masuk ke ruangan. Jauh dari kesan angker, Moeldoko justru menghampiri seluruh meja Pemred. Jenderal asal Kediri ini, menyalami para Pemred dari berbagai daerah di Indonesia itu.
“Sepanjang karir saya, diawali dari Dandim Jakarta Pusat, seingat saya, tak pernah satu kali pun menyalahkan media baik dalam statement resmi maupun tak resmi,” tegasnya membuka pembicaraan.
Ia mengatakan, hubungan dengan media, selama ini terjalin amat baik. TNI menurutnya, tak ingin lagi berbicara satu arah. Ia menginginkan komunikasi dua arah. Meskipun secara culture tetap saja ada benturan di lapangan.
“Perlu diketahui, bahwa corporate culture di TNI, terbangun dari sub-sub culture, ada juga memang sub culture yang temperamental,” imbuhnya dalam forum yang mengambil tema Indonesia Baru Indonesia Maju itu.
Sehingga, Moeldoko amat berharap terhadap Forum Pemred tersebut. Salah satunya, media-media JPNN memberikan andil positif. Tentu menjadikan TNI sebagai prajurit profesional. TNI tidak bermain dalam politik praktis.
“Berkaitan politik, TNI netral, tegas dan profesional sampai ke Babinsa, jadikan kami sebagai prajurit profesional, beri masukan kepada Danrem, Dandim,” ungkapnya.
Moeldoko mengakui, memang tidak mudah untuk menyikapi hal tersebut. Tidak mudah untuk mendistribusikan kebijakan. Menurut Sang Panglima, selalu ada saja kesenjangan. Bahkan contohnya ada saja oknum prajurit yang nakal.
“Saya akui, memang ada saja perilaku oknum-oknum yang sudah brengsek sebelum jadi tentara,” akunya.
Masalahnya, psikotest TNI tak bisa menjangkau hal itu.  Contoh kasus terjadi pada Pratu Kirno yang mencuri mobil. Kata Moeldoko, setelah diselidiki, ternyata yang bersangkutan sudah brengsek sebelum jadi tentara.
“Sebelum jadi tentara memang seringkali mencuri,” tegasnya.
Mengenai temperamen prajurit yang biasanya tinggi. Kata Moeldoko, tak bisa dihindari. sebab dalam ketentaraan, ada doktrin kill or to be kill. Namun pihaknya, terus berupaya membangun interaksi positif antara prajurit dan rakyat.
“Prajurit memang perlu ruang interaksi sosial dengan rakyat, salah satunya melalui TNI Manunggal Membangun Desa (TMMD). Program itu membuat prajurit lebih soft,” bebernya.
Diskusi juga berkembang terhadap alat utama sistem persenjataan (alutsista). Dijelaskan bahwa TNI menggunakan perencanaan Minimum Essential Force (MEF). Yakni melakukan penambahan pada persenjataan canggih.
“Misalnya mengganti F5 dengan Sukhoi Su-35 (sebutan NATO : Flanker E), idealnya penganggaran untuk alutsista ya 2 persen APBN, nanti pada 5 Oktober akan kita munculkan semua, pesawat ada 200, termasuk kapal-kapal baru,” tandasnya.
Sedangkan, Dahlan Iskan yang menjadi pemateri pada 28 Agustus 2014, juga dibombardir pertanyaan oleh para Pemred. Dalam forum itu, Dahlan mengingatkan peran penting wartawan. Jangan sampai wartawan berhadap dengan narasumber mengandalkan alat perekam.
“Pakai kertas saja dan ditulis, jangan direkam, akan lebih mudah ditulis dan sisanya mengandalkan ingatan,” tegas dia.
Dalam sesi tanya jawab, Dahlan Iskan juga diingatkan perihal wartawan Komando Pasukan Khusus yang disingkat menjadi Kopassus. Hal itu dilontarkan Hasan Aspahani GM sekaligus Pemred JPNN. Wartawan Kopassus menurut Dahlan, memang harus hebat seperti prajurit khusus TNI, yakni Kopassus yang sesungguhnya.
“Ini adalah wartawan yang tangguh dan tahan banting, punya lima orang saja maka akan sangat bagus (produk koran),” ujarnya.
Dahlan kemudian mengingatkan pembagian peran pada redaksi. Yakni posisi wartawan, redaktur, kordinator liputan hingga pemimpin redaksi. Posisi redaktur harus melalui seleksi yang ketat.
Pertama redaktur harus penulis terbaik, karena tugasnya memperbaiki tulisan wartawan. kedua, redaktur adalah pabrik ide, karena harus bisa memiliki perencanaan yang bagus. Ketiga, redaktur harus memiliki manajemen personalia yang baik.
“Membawahi orang biasa saja sulit, apalagi membawahi wartawan, maka harus juga manajer personalia yang baik,” terangnya.
Pada masa kepemimpinan Dahlan Iskan di Jawa Pos, ada tim khusus untuk pabrik ide. Misal untuk memperluas angle berita. Dengan demikian, meski memiliki wartawan tanpa ide, tak masalah, asalkan pencari data yang tangguh.
“Kemudian muncul posisi Korlip, yang berperan mengambil alih pengelolaan wartawan dari redaktur,” katanya.
Korlip harus tahu semua persoalan wartawan, agar wartawan punya teman diskusi. Sebab kata Dahlan, tak mungkin wartawan berdiskusi ketika redaktur sibuk edit berita. “Korlip ini tak perlu seorang penulis yang hebat, tapi dia harus seorang pemburu berita yang apik, yang penting bisa ngemong wartawan,” urainya.
“Bahkan kalau wartawan tak punya pacar, ya harus bisa mencarikan pacar,” guraunya disambut tawa para Pemred.
Menteri BUMN itu juga menegaskan, banyak wartawan bagus tapi gagal. Hal itu disebabkan organisasi media yang tak berjalan dengan apik. Untuk itu, redaktur harus memiliki tulisan yang lebih baik dari wartawan, jangan sampai wartawannya kecewa.
“Nah kalau punya ketiganya, ya tentu menjadi Pemred,” imbuhnya.
Kembali kepada wartawan Kopassus, menurutnya media saat ini harus memiliki lima orang seperti itu. Lima orang itu adalah calon pimpinan ke depan. Namun harus diorganisir dengan baik, agar mengetahui daya tahan (istilah Dahlan batere) lima wartawan Kopassus itu.
“Dulu saya punya program ajak wartawan ke percetakan jam 3 pagi, jam 5 pagi kita ajak ke percetakan, supata tahu sulitnya mencetak dan edarkan koran, agar koran tak hanya diisi berita jelas, bahkan saya ajak ke pabrik kertas, untuk tahu sulitnya bikin kertas. Bahwa alangkah menderitanya yang bikin kertas, kalau koran diisi dengan berita jelek,” tandasnya.(Bagus Ary Wicaksono-Habis)