Blusukan ke TK, Hibur Lewat Cerita Ringan dan Mendidik

"Teman-teman, jangan buang sampah sembarangan ya. Buanglah pada tempatnya. Atau lebih baik, dimanfaatkan saja untuk membuat kerajinan tangan seperti ini," ujar Owly, seekor burung hantu, kepada puluhan anak TK Dharma Wanita III. Anak-anak pun terperangah mendengar nasihat Owly. Lalu, tepukan tangan meriah terdengar di setiap penjuru kelas.

Selain Owly, ada pula Alpha si gajah polos, Didi rusa pemalas, Igor harimau pemberani dan Piyo si ayam cerewet. Kelakuan kelimanya sungguh lucu. Dengan karakter masing-masing tokoh, membuat anak-anak semuran TK terhibur dengan kelakuan mereka.
Di suatu ketika, tiba-tiba si Alpha memakan semua bekal milik Piyo.
Piyo pun melihat kelakuan Alpha tersebut dengan kaget.
"Maaf Piyo," ujar Alpha dengan nada lugu.
"Hahahahahahahahaha," murid-murid pun tertawa melihat keduanya.
Lain lagi, pada suatu hari Didi merasa bingung karena menampilkan bakatnya di pentas seni sekolahnya minggu depan. Dia sempat depresi dan hampir menangis. Ekspresi wajahnya mulai berubah. Tiba-tiba, Igor datang menepuk punggung Didi.
"Sudahlah Di, kamu pasti bisa. Temukan bakatmu. Jangan minder lihat bakat teman lain. Kamu pasti punya bakat sendiri," Igor menyemangati. Dengan motivasi Igor, Didi pun kembali percaya diri. Dia tampak lebih giat mencari bakat terpendamnya. Sekali-sekali memang gagal, tapi itu tidak membuat usahanya terhenti. "Pok pok pok," lagi-lagi suara tepuk tangan terdengar di ruang kelas para murid TK itu.
Cerita barusan adalah cuplikan dialog dalam Sipupa (Psychology Puppet). Kelima tokoh hewan itu sebenarnya adalah boneka, dia digerakkan oleh tangan para mahasiswa Psikologi Universitas Brawijaya (UB) di sebuah panggung teater boneka buatan.
Koordinator Sipupa, Widyarta Mega Paramitha, sengaja mempersembahkan pertunjukan tadi kepada anak-anak TK. "Kami ingin membuat anak-anak hidup di dunia anak yang sesungguhnya menyenangkan. Caranya, dengan menampilkan teater boneka Sipupa untuk mereka," jelasnya kepada Malang Post kemarin.
Ditambahkan, dia dan rekannya sebenarnya resah dengan tayangan TV zaman sekarang yang sebagian besar menampilkan tayangan orang dewasa. Si Komo? Siapa tidak ingat. Bahkan, sekarang tidak ada lagi tayangan seperti itu. Adanya, justru Mahabarata yang sangat tidak cocok ditonton anak usia TK.
"Dunia mereka seakan-akan telah hilang. Padahal, tayangan anak-anak seperti itu sangat menyenangkan. Tanya saja, berapa banyak orang tua yang rindu masa kecilnya, menonton tayangan anak-anak?," jelas Mega. Inilah latar belakang mereka membuat Teater Boneka Sipupa.
Di awal ide Sipupa muncul, lanjut dia, hanya ada sekitar delapan orang yang menggerakkan komunitas pencinta anak-anak ini. Dengan giat, mereka blusukan ke beberapa taman kanak-kanak di Kota Malang. Di sana, mereka datang untuk menyajikan penampilan lima tokoh hewan lucu kepada murid-murid di TK tersebut.
Dibantu dengan beberapa dosen pembimbing, Sipupa murni dipersembahkan sebagai pengabdian masyarakat, khususnya kepada anak-anak. Mereka tampil tanpa dibayar sepeser pun.
'Blusukan' mereka pun dirasa sangat berkesan. Karena setiap tampil, anak-anak selalu menyambut dengan tawa bahagia. "Paling berkesan, waktu melihat anak-anak terhibur. Apalagi kalau ada orang tua atau guru yang bilang Sipupa lucu dan ingin lihat lagi," tutur wanita berkaca mata itu.
Singkat cerita, tiba-tiba suatu hari ada pihak dari salah satu stasiun TV lokal mendatangi mereka. Dia menawarkan Sipupa untuk tampil sebagai bintang tamu di acara talk show TV tersebut. Hal ini jelas membuat mereka terkejut, akhirnya jerih payah mereka terbayar.
Dinilai sukses, akhirnya pihak TV mengajak mereka untuk lanjut mengadakan road show. "Beberapa waktu lalu memang hanya talk show. Tapi, tanggal 7 September 2014 nanti penampilan perdana kami. Kami akan roadshow ke sekolah-sekolah terpencil di Kota Malang," ujar Mega dengan bahagia.
Artinya, Sipupa mulai mengembangkan sayap. Penontonnya, tidak terbatas murid-murid TK yang dikunjunginya saja. Bahkan, remaja atau orang tua sekalipun bisa menonton aksi lucu lima tokoh utama Sipupa.
Sipupa sendiri, menyajikan tema yang ringan dan bermanfaat untuk mengembangkan karakter anak-anak. Biasanya, mereka mengangkat tema untuk menjaga kebersihan, menghibur teman sedih, menghargai bakat orang lain, dan sebagainya. Tema-tema itu sengaja dibuat ringan agar lebih dimengerti oleh anak-anak.
Terpisah, Ari Pratiwi, penanggung jawab sekaligus pembimbing Sipupa mengatakan, semangat Mega dan teman-temannya sangat bagus. Dengan penampilan Sipupa itu, dia mengingatkan karakter si Komo, tokoh anak-anak yang saat itu sukses di zamannya.
“Contoh saja si Komo, sampai sekarang kita masih bisa mengingatnya,” ujar Psikolog anak, sekaligus Dosen di UB ini. Ditambahkan, dengan tampil di TV, dia berharap manfaat Sipupa bisa meluas dibandingkan sebelum-sebelumnya.
"Tapi kita tidak ingin menggantikan si Komo. Sipupa ya Sipupa, si Komo ya si Komo. Meski begitu, si Komo juga sangat berkesan bagi anak-anak zaman itu," pungkas Ari. (Muhammad Erza Wansyah/han)