Kenakan Sepatu Rp 100 Ribu, Sumbang 5 Gol di Jepang

Usianya masih muda, namun memiliki talenta dan bakat yang luar biasa. Bahkan, berkat bakatnya ini ia berhasil terbang ke negeri matahari terbit, Jepang. Mohammad Irfan (12) siswa kelas Olahraga SMPN 2 Batu menjadi salah satu skuad Timnas U12 dalam Internasional Youth Festival 2014 di Jepang. Bahkan dalam Aqua Danone Nations Cup Juni lalu, ia keluar sebagai top score dengan mengoleksi 7 gol serta berhasil mengantarkan SSB Bledeg Biru meraih juara dua.

Seorang pemuda mengenakan jaket dan celana warna merah, di bagian dada tertera lambang garuda dan tulisan Timnas U12, sedang asyik ngobrol dengan guru olahraganya.  Dari raut wajahnya, anak pasangan Yahya dan Sadikyah ini terlihat kurang istirahat. Maklum saja, ia baru tiba di Kota Malang sekitar pukul 10.00 dan langsung diminta untuk datang ke sekolah.
Meski masih lelah, namun ia tetap tak dapat menyembunyikan rona bahagia dan bangga. Apalagi saat datang ke sekolah dan disambut spanduk ucapan selamat datang di pintu gerbang masuk SMPN 2 Batu. Terpampang nama dan foto semasa kecilnya di sana. Memasuki sekolah, ia langsung mendapat ucapan selamat dari teman dan guru-gurunya.
“Jika pulang dari Jakarta naik pesawat bisa ke rumah Selasa (2/9). Namun, saya memilih naik kereta makanya baru sampai,” katanya.
Irfan lantas bercerita tentang penampilannya bersama Timnas U12 di Jepang beberapa waktu lalu. Kejuaraan itu diikuti sekitar 16 negara, dan Indonesia berada satu grup dengan tuan rumah, Jepang. Namun, upayanya dkk untuk mengantarkan Timnas U12 meraih turnamen bergengsi kandas di babak delapan besar. Kala itu, Timnas U12 bersua dengan Barcelona dan menelan kekalahan 1-0, akibat gol bunuh diri oleh pemain belakang Timnas U12.
Padahal sebelumnya dari lima pertandingan yang dijalani, mereka berhasil meraih kemenangan sebanyak tiga kali dan dua kali seri. Termasuk mengalahkan tuan rumah, Jepang dengan skor telak 0-3. “Sangat disayangkan, padahal dari permainan kami dapat mengimbangi. Seandainya kami menang dari Barcelona, ada kesempatan untuk lanjut ke babak final,” akunya kepada Malang Post.
Pria yang hobi renang ini menuturkan,  awalnya ia duduk di bangku cadangan. Namun, saat dipercaya tampil, Irfan langsung mencetak gol dan memberi kemenangan. Sehingga dalam turnamen tersebut ia berhasil menyumbangkan lima gol bagi Timnas U12.
Selain itu, penampilannya bersama Timnas U12 merupakan kali pertama dan untuk masuk dalam skuad di Timnas tidaklah mudah. Butuh kerja keras dan perjuangan sebelum akhirnya terpilih sebagai salah satu pemain. “Saya terpilih menjadi skuad Timnas U12, karena berhasil membawa klub meraih juara dua di Aqua Nations Cup dan menjadi top score. Itu saya buktikan dengan lima gol yang saya sumbangkan,” ungkap Irfan yang bercita-cita ingin menjadi pelatih.
Kendati demikian, beberapa kejuaraan sudah pernah dirasakannya. Di antaranya ia sudah tampil dalam Aqua Danone Nations Cup sebanyak lima kali dan beberapa kejuaraan lainnya. Tidak hanya itu, berkat sumbangsihnya ia juga berhasil membawa klub dan timnya naik podium.
Dia mengungkapkan, jika pada pertengahan September mendatang bakal kembali berjuang mewakili Jawa Timur dalam Piala Mensesneg. Setelah itu, selama 20 hari ia akan tur ke Eropa bersama Timnas U12, untuk mengikuti kejuaraan.  Pemuda yang mengimpikan dapat masuk sebagai skuad Timnas U19 ini menyebut, kali pertama menekuni sepakbola saat masih kelas 4 SD. Saat itu, Irfan tertarik lantaran teman mainnya terlebih dahulu masuk SSB. “Sebelum-sebelumnya saya ikut main bola di kampung, dan minta ke bapak untuk dimasukkan ke SSB,” sebutnya.
Tekatnya untuk tampil dan memperkuat Timnas U12 ini tidak terlepas dari dorongan kedua orangtuanya. “Saya memang lahir dari keluarga tidak mampu, dari itu saya berupaya untuk mencapai cita-cita dan dapat membanggakan kedua orangtua,” paparnya.
Yahya orangtua M. Irfan mengatakan, sebelum masuk SSB, Irfan terlebih dahulu memaksa untuk dimasukkan ke sekolah sepakbola. Namun, permintaannya itu tidak dikabulkan, akibatnya ember dan barang-barang yang ada di dalam rumah dibuat mainan dan ditendang layaknya bola. “Setiap hari selalu minta kepada saya untuk dimasukkan ke SSB. Tapi saat itu saya tidak tahu SSB itu apa dan adanya dimana, dan baru tahu dari tetangga yang anaknya terlebih dahulu dimasukkan ke SSB,” tuturnya ramah.
Pria yang setiap hari bekerja sebagai tukang bakso ini menuturkan, bakat anaknya diketahui setelah beberapa bulan masuk dan berlatih di SSB. Bahkan, saat ada seleksi pemain Banteng Muda, ia pesimis lantaran tidak memiliki uang untuk biaya pendaftaran. Sebab, untuk sepatu bola yang dipakai anaknya masih menggunakan uang modal untuk jualan, yaitu sebesar Rp 85 ribu. “Saya tidak punya uang waktu itu, dan saya belikan sepatu yang sederhana. Sampai sekarang, saat tampil di Jepang Irfan mengenakan sepatu yang harganya Rp 100 ribu,” urai pria yang juga menjabat Kasun Jaraan Desa Donowarih Kecamatan Karangploso itu.
Pelatih Timnas U12 juga bangga terhadap Irfan lantarana sepatu yang digunakan tidak sebagus pemain lainnya. “Bukan pada apa yang digunakan dalam bermain bola, tapi sumbangsih terhadap tim dan bermain bagus itu yang penting,” urainya lebih lanjut.
Hal senada juga diutarakan oleh guru olah raga SMPN 2 Batu, Hanief Nur Roriq. Menurutnya, M. Irfan merupakan salah satu siswa yang memiliki bakat dan bertalenta. Wajar jika anak didiknya itu mampu terpilih dalam skuad Timnas U12.  “Di sekolah bobot pelajarannya hanya 10 sampai 15 jam, tapi jika yang bersangkutan ingin menjadi pemain hebat juga harus ikut di SSB,” pungkasnya.
Irfan, tambah Hanief semakin melengkapi prestasi siswa-siswa SMPN 2 Batu. Dimana, sejak tahun 2010 lalu, salah satu siswanya terpilih dan menjadi anggota Timnas. (miski/han)