Setahun 10 Tato, Favoritkan Gambar Salib

Sebagian besar masyarakat masih memandang tato dengan hal negatif, atau bahkan identik dengan pelaku kejahatan. Pandangan sinis kerap kali ditunjukkan kepada mereka yang menorehkan tato di tubuhnya.  

Menurut sejarah, tato sudah dilakukan sejak 3000 tahun sebelum masehi dan ditemukan pertama kali pada mumi di Mesir, hingga kemudian menyebar ke seluruh penjuru dunia. Masing-masing suku mempunyai pemaknaan berbeda terhadap tato. Para wanita dari suku Drung di zaman Dinasti Ming misalnya, menato wajah dan pantatnya sebagai tanda bahwa mereka merupakan keturunan yang baik. Bagi suku Indian, tato dilakukan untuk mempercantik dan menunjukkan status sosial.  
Di Indonesia, penduduk wanita asli Borneo Kalimantan menganggap tato sebagai simbol yang menunjukkan keahlian khusus, sedangkan suku Mentawai memandang tato sebagai suatu yang sakral dan simbol keseimbangan alam. Malang juga memiliki banyak aremania yang bertato, Anda bisa melihatnya saat mereka melakukan konvoi kemenangan Arema atau ketika akan menonton pertandingan di stadion. Sebagian besar pria ini mungkin tidak akan menarik perhatian karena tato yang dimiliki. Tapi bagaimana jika model cantik merelakan kulit mulusnya dirajah demi membuat gambar yang diinginkannya? Itulah yang dilakukan Regina Oktavia Niwang Jati Kusuma setahun terakhir.
Gadis 19 tahun ini mulai menyukai sebelum dirinya menjadi model. Dalam 12 bulan terakhir, dia sudah memiliki 10 gambar di tubuhnya. “Tato pertama saya lakukan sebelum UN. Saat itu saya langsung minta tiga gambar di punggung,” kata Regina, yang kemudian menunjukkan tiga gambar tato di punggungnya, di bagian kiri punggung bertuliskan nama sang mama, di tengah tato salib, dan di bagian kanan tulisan Jesus Christ.  
Dari tiga gambar tersebut dia mengaku paling favorit adalah gambar salib tepat di bagian tengah punggung. Meski gambarnya kecil, menurut Regina, tato salib itu mempunyai makna yang sangat besar bagi dirinya. Seakan-akan ia memanggul salibnya sendiri. “Sebelum membuat tato saya minta izin sama mama, beliau mengizinkan,’’ kata alumnus SMK Corjesu ini.
Banyak yang mengatakan, sekali bertato akan membuat seseorang ketagihan. Hal ini juga yang dialami Regina. Setelah tiga gambar di punggungnya sembuh, dan terlihat menarik, Regina pun kembali mendatangi studio tato. Kepada tattoo artist, ia minta dibuatkan tato baru. Tato kedua adalah gambar bunga, dan sejak saat itu Regina kian cinta dengan  seni menoreh tubuh dengan tinta ini.
“Sekarang favorit setelah salib adalah tato ketujuh, ada  di lengan kiri,” katanya sembari menunjukkan paduan gambar microphone dengan bunga. Menurutnya gambar itu menunjukkan dirinya banget. Microphone contohnya, menggambarkan dirinya yang suka bernyanyi sedangkan bunga mewakili sosoknya sebagai perempuan. “Ada nama dua adik saya, Markus dan Sean. Itu yang membuat tato di lengan kiri saya ini lebih berarti,” katanya.
Regina mengatakan tidak ada alasan lain yang membuat dirinya menggambari tubuhn dengan tato, selain keinginan dirinya sendiri. Termasuk, kondisi kedua orang tuanya yang berpisah tidak dijadikannya alasan. “Saya tato karena ingin, tidak ada alasan lain,’’ katanya.
Dia mengungkapkan, sebenarnya mencintai tato sejak kecil. Di lingkungan keluarganya tato bukanlah hal yang tabu, karena banyak anggota keluarga lain yang juga memiliki tato. Regina juga tidak menyesal sudah merajah kulit mulusnya, meskipun harus mengeluarkan biaya mahal untuk itu. Bahkan, pernah sekali tato dia harus membayar Rp 4 juta dan itu dilakukannya dengan senang hati.  “Kalau orang mungkin mengeluarkan uang segitu sayang buat tato, tapi bagi saya jika memang gambarnya bagus tidak masalah. Berapapun harganya pasti saya bayar,’’ katanya.
Anak sulung dari tiga bersaudara ini mengaku sakit saat lima jarum yang digerakkan mesin merajam tubuhnya. Tapi begitu, rasa sakit tersebut terkalahkan dengan keinginannya. “Kalau sakit, pedih itu lumrah. Tapi ya begitulah, pepatah bilang kapok-kapok lombok. Buktinya saya ingin terus. Rencananya saya ingin nambah lagi,’’ katanya lantas tertawa.
Memiliki tato, menurut Regina, juga menuntut si pemilik untuk melakukan perawatan secara rutin agar gambar tidak cepat memudar.  Ia pun rela mengeluarkan ratusan ribu setiap bulan untuk tattoo treatment. “Pasti dirawat, ada salep khusus agar gambarnya tidak memudar dan terlihat tetap tajam,” katanya.
Meski bertato, Regina mengaku selama ini tidak pernah kesulitan mendapatkan pekerjaan, sebagai model freelance, ia sering mendapatkan tawaran pemotretan. Tapi begitu, ia tetap menyaring job yang ditawarkan pada dirinya. “Saya hanya menerima foto sexy sebatas bikini, lebih dari itu langsung saya tolak,’’ katanya.
Bahkan, jika sang fotografer mau membayar mahal, dia tetap tegas menolak. “Ada yang sempat menawari membayar sekali season pemoteran Rp 15 juta untuk pose nude. Tapi tetap saya tolak. Saya bukan model seperti itu,’’ tandasnya.(ira ravika/han/bersambung)