Gunakan Pendekatan Persuasif, Amazing Hadapi 31 Wartawan

Secuil Kisah di Balik Program Pengunduran Diri Karyawan Bentoel
Menghadapai seribu karyawan yang diminta untuk mengundurkan diri secara sukarela bukanlah perkara mudah. Itulah yang dirasakan dua jajaran manajemen Bentoel Group, Head of Corporate and Regulatory Affairs  Bentoel Group Shaiful Bahari Mahpar dan Corporate Affairs Managers Winny Soendaro.

Shaiful Bahari Mahpar sudah menduga program pengunduran diri secara sukarela itu akan menimbulkan dampak yang massif. Baik itu dari segi karyawan maupun pemberitaan di media. Namun dia mencoba untuk menjalankan program tersebut sesuai aturan yang berlaku dan dengan jiwa yang tenang.
“Saya sudah biasa menghadapai situasi seperti ini, terutama melayani media yang pastinya banyak bertanya,” ujar Shaiful kepada Malang Post kemarin. Namun, yang paling dia khawatirkan sat itu adalah psikologis karyawan. Apalagi berita tersebut sangat cepat berkembang dan pastinya akan menimbulkan keresahan karyawan,
Untuk itu, Senin (8/9/14) lalu, pria asal Malaysia ini langsung terbang dari kantor Jakarta menuju Malang untuk meredam situasi yang sedang berkembang. Dia juga langsung menemui media untuk melakukan konferensi pers, lalu melanjutkan dengan bertemu karyawan yang saat itu sedang menunggu sosialisasi program tersebut.
Menurut Shaiful, ia melakukan pendekatan persuasif kepada karayawan. “Karena tidak banyak karyawan yang tahu mengenai program kami. Ada pula yang menerjamahkannya secara salah, sehingga menimbulkan keresahan,” kata pria yang pernh bertugas di British American Tobacco (BAT) Bangladesh ini.
Pendekatan secara persuasif kepada karyawan yang dibantu Winny Soendaro menghasilkan sesuatu hal yang positif, hingga membuat program yang awalnya dipandang negatif itu  diminati oleh 970 karyawan. Padahal menurutnya hal itu tidak mudah dilakukan. Apalagi setiap karyawan mempunyai sifat dan psikologis yang berbeda-beda.
“Alhamdulillah hasilnya sangat memuaskan dan di luar perkiraan kami,” ucapnya penuh rasa syukur. Namun, yang paling tidak dia lupakan adalah mengumpulkan karyawan dari 11 pabrik yang ada menjadi satu di Pabrik Karanglo. Saat itu, disediakan 30 meja untuk melayani para karyawan yang mengurus pengunduran diri sukarela itu dan antre panjang berjejer menunggu  giliran untuk dipanggil.
Shaiful juga sangat berkesan pada media di Malang. “Saat konferensi pers Senin lalu, ada 31 wartawan yang meliput dan ini sesuatu yang amazing. Karena belum pernah saya temui sebelumnya,” urainya.
Menurutnya, dunia wartawan akrab dengannya. Di temapt dia bekerja sebelumnya, BAT Bangladesh, BAT Afghanistan dan BAT Pakistan dia selalu akrab dengan wartawan. “Sebelum di Indoensia, saya bertugas di tiga tempat rawan perang itu. Namun, tidak ada yang setegang ini menghadapi puluhan wartawan di Malang,” tuturnya.
Melalui pengalaman ini, menjadi pelajaran berharganya untuk bekerja lebih baik. Terutama untuk memberikan yang terbaik bagi para karyawan. Sekaligus menjalin komunikasi yang baik dengan media. “Saya menganggap wartawan itu teman,” ucapnya mengakhiri pembicaraan. (binar gumilang/han)