Ukir Prestasi, Jadi Lapangan Pekerjaan Baru untuk Warga

DELAPAN tahun terakhir, Bandulan berubah menjadi kampung musik patrol. Di kelurahan yang terletak di sebelah barat Kota Malang ini terdapat lebih dari 30 kelompok musik patrol berskala besar maupun kecil. Musik patrol pun jadi lapangan pekerjaan baru bagi generasi muda di sana.
Rangka mobil yang telah  didesain ulang dan aneka rupa hiasan berbahan spon bagai jadi pelengkap di sejumlah rumah penduduk di Bandulan. Begitu pula berbagai jenis alat musik tradisional seperti gamelan, aneka rupa alat musik tabuh berbahan drum bekas dan bambu juga melengkapi halaman rumah warga.
Begitulah suasana di Bandulan yang memang akrab sekaligus identik dengan musik patrol. Dari 7 RW di kelurahan Bandulan, hanya satu RW saja yang hampir dipastikan tak memiliki musik patrol. Yakni di wilayah RW 07.
Maklum, RW 07 mencakup wilayah kawasan Dieng yang merupakan kawasan elit di kota pendidikan ini. Berbeda dengan RW 01 sampai RW 06 di Bandulan yang umumnya terdapat kawasan perkampungan. “Musik patrol mulai dikembangkan di Bandulan pada tahun 2006 atau sekitar 8 tahun lalu. Sekarang terus berkembang,” kata penggagas musik patrol di Bandulan, Choeroel Anwar, SP.
“Jika dihitung sekarang, terdapat 30-an kelompok musik patrol di sini,” sambung Asmari atau yang akrab Kacong, juga pegiat musik patrol Bandulan.
Untuk kelompok musik patrol berskala besar, setidaknya terdapat sekitar 10 kelompok. Di antaranya kelompok Bedhuk Prink, Al Hidayah, Plaketing, Permata Naga, Putra Manunggal, JBR, Sekar langit, Cakar Elang dan  Kereta Jawa. Musik patrol sendiri merupakan jenis musik kolaborasi antara gamelan, gong dan alat musik berbahan bambu seperti kentongan. Semua alat musik yang dimainkan itu disusun  di atas kerangka mobil yang sudah didesain ulang. Kerangka mobil lengkap dengan peralatan musik lalu dihiasi dengan berbagai tema.
“Jadi musik ini mobile, inspirasi awalnya  dari alat kentongan yang biasa digunakan untuk membangunkan orang sahur.  Tapi  musik patrol dimainkan dengan menggunakan nada-nada lagu,” urai Choeroel.
Ukurannya pun beragam. Mulai dari  panjang rangka mobil yang berukuran 6 meter sampai 12 meter dengan lebar 1 meter sampai 2,5 meter. Biaya pembuatannya pun beragam. Mulai dari Rp 6 juta sampai Rp 23 juta tergantung ukuran panjang rangka mobil bekas yang digunakan.
“Selain itu juga ditentukan oleh dekor dan pernak pernik yang dipasang sebagi pelengkap musik patrol,” katanya. Mahalnya biaya pembuatan musik patrol juga ditentukan oleh harga rangka mobil bekas yang berkisar antara Rp 6 juta sampai Rp 12 juta per unit.  
Choeroel merupakan generasi muda yang pertama kali mengenalkan musik patrol di Bandulan. Arek asli Bandulan yang kini duduk sebagai anggota DPRD Kota Malang ini memang memiliki darah seni. Apalagi ia pegiat teater sejak tercatat sebagai mahasiswa Fakultas Pertanian UMM.
“Awalnya kami kenalkan dengan cara mengadakan festival musik patrol pada tahun 2006 di Bandulan,” kata Choeroel yang juga ketua Karang Taruna kelurahan Bandulan. Saat itu, ia dan teman-temannya generasi muda Bandulan terbilang nekat. Betapa tidak, hanya bermodalkan Rp 300 ribu saja, mereka menggelar festival tersebut.
Bahkan saking mepetnya anggaran, penyelenggaraan festival tertunda hingga tiga kali walau peserta dan penonton memenuhi lokasi acara di Bandulan. “Saat itu, tertunda hingga tiga kali karena hadiah untuk pemenang belum siap. Akhirnya kami tetap menggelar festival patrol pertama walau hadiah belum siap,” katanya.  Peserta pun kemudian diminta membuat kesepakatan secara tertulis. Yakni hadiah baru diberi beberapa bulan kemudian pasca festival digelar.
“Tapi sekarang festival ini terus berlangsung. Bahkan  tahun lalu, panitia memiliki anggaran sebanyak Rp 40 juta,” kenang Choeroel.  Tahun ini, lanjut pria duda ini, festival musik patrol bakal digelar kembali sekitar November mendatang.  
Dari festival itulah, lanjut Choeroel, musik patrol terus berkembang. Warga dan generasi muda tergerak untuk mengembangkannya. Apalagi musik patrol belakangan menjadi lahan berekspresi seni budaya, sekaligus menjadi lapangan pekerjaan baru bagi generasi muda. Yang pasti, jadi tongkrongan kreativitas generasi muda Bandulan.
Kini musik patrol Bandulan dilirik sekaligus diapresiasi masyarakat luas dari berbagai kalangan. Bahkan pernah ditumpangi Ketua Umum DPP Golkar, Aburizal Bakrie dalam suatu kegiatan di Jalan Ijen, belum lama ini.
“Sekarang mulai diundang masyarakat untuk tampil. Mulai dari wilayah Kota Malang, Kabupaten Malang, Kota Batu, bahkan hingga ke Sidoarjo saat acara BRI,” beber ayah satu anak ini.
Harga sewanya pun beragam untuk sekali tampil setengah hari. Mulai dari Rp 2,5 juta sampai Rp 3 juta. Lokasi tampil mempengarurhi sewa musik patrol. Pendapatan dari hasil penampilan biasanya digunakan untuk kas dan operasional.
Maklum, sekali tampil butuh 20 sampai 30 orang untuk memainkan musik patrol. Jenis musik ini memang butuh banyak orang saat tampil. Sebab selain sebagai pemain musik, juga butuh minimal enam orang untuk mendorong kereta musik ukuran raksasa ini.
“Jadi manfaatnya banyak. Selain untuk musik patrol sendiri, juga membawa manfaat untuk masyarakat luas. Misalnya penjual makan dan berbagai aneka jajanan masyarakat,” kata Choeroel. Pasalnya, saat tampil, pasti masyarakat berbondong-bondong menyaksikan musik patrol yang diarak keliling wilayah.
Kendati sudah duduk sebagai anggota dewan, Choeroel yang juga wakil ketua Karang Taruna Kota Malang ini memastikan tetap memberi perhatian terhadap keberadaan musik patrol Bandulan. Soalnya telah memberi manfaat kepada masyarakat luas.
Asmari, pegiat musik patrol Bandulan menambahkan, musik patrol di Bandulan telah menjadi lapangan pekerjaan baru. “Generasi muda memiliki kegiatan positif. Bakat kesenian pun tersalurkan,” katanya.
Tak hanya itu saja, mereka juga menoreh prestasi melalui musik patrol. Salah satu buktinya kata Asmari yakni pernah meraih juara 1 Festival Kendedes Kota Malang pada tahun 2012 lalu.
Hendra Taruna, generasi muda lain di Bandulan juga memanfaatkan musik patrol untuk mengembangkan bakatnya membuat kerajinan tangan. Kini Hendra punya aktivitas baru yang menghasilkan uang. Yakni membuat miniatur musik patrol yang dijual ke berbagai kawasan.
Hendra membuat miniatur musik patrol sesuai pesanan. “Sejak hampir setahun ini saya membuat 25 miniatur musik patrol. Ada yang saya kirim ke Jakarta. Satu miniatur minimal harganya Rp 500 ribu,” katanya. (vandri battu/han)