Hotel Tertinggi di Malang Raya, Serasa Tidur Diatas Bintang-Bintang

MENAKJUBKAN : Inilah hotel pohon diatas Gunung Banyak, sensasi menginap disini tidak kalah dengan menginap di hotel bintang 5.

Pernah merasakan sensasi seru menginap di rumah pohon ? Apalagi pohonnya berada di atas ketinggian lebih dari 1.000 meter diatas permukaan laut (Mdpl). Sensasi menginap di hotel rumah pohon ini, bisa anda rasakan saat berlibur di Kota Batu. Penasaran? Berikut ulasan dari laporan wartawan Malang Post Muhammad Dhani Rahman.


Ruangan hotel ini seluruhnya terbuat dari kayu dan menempel di atas pohon. Lebih menarik lagi, pohon ini berada di atas Gunung Banyak 1.340 meter diatas permukaan laut, Songgoriti, hingga bila menginap di rumah pohon ini, kita bisa melihat langsung Kota Batu seperti sebuah hamparan permadani.    
Begitu eloknya pemandangan ditempat ini, membuat banyak wisatawan tertarik untuk menginap di tempat ini, bahkan konon ada wisatawan yang sudah terlanjur menginap di sebuah hotel berbintang, memilih pindah tidur di rumah pohon.
“Katanya seru menginap di rumah pohon, hotel bintang 5 kalah,” ujar Sunari, pegawai Omah Kayu. Pesona yang luar biasa ini membuat orang-orang berlomba-lomba untuk memesan kamar hotel ini jauh hari, jika tidak bisa dipastikan mereka tidak akan kebagian kamar.      
Karena hotel yang didirikan oleh Perhutani pada bulan Februari 2014 lalu ini jumlah kamarnya terbatas, hanya 4 unit saja. Setiap kamarnya, maksimal hanya bisa dihuni oleh 3 orang saja.
Untuk menginap di Omah Kayu ini pun tidak perlu merogoh kocek dalam-dalam, cukup mengeluarkan uang Rp 300 ribu untuk week day dan Rp 450 ribu untuk week end sudah bisa merasakan nikmatnya menginap di Omah Kayu yang suasananya sangat hening ini.    
Para tamu bisa mendapatkan breakfast dan bisa mandi dengan air hangat, tidak kalah dengan menginap di hotel berbintang lainnya.         
Menurut Sunari, rata-rata tamu yang menginap memilih datang pagi-pagi sekali, kemudian sore hari check out. “Rata-rata seperti itu, mereka ingin melihat pemandangan pagi hari, jarang-jarang ada yang menginap,” ujarnya.    
Kondisi sekitar Gunung Banyak yang gelap, menjadi salah satu keenganan tamu menginap di tempat ini, padahal menurut Sunari, pengelola Omah Kayu sudah menyiapkan keamanan diri maupun kendaraan yang digunakan para tamu.
Ditanya mengenai keamanan pohon jika ada angin yang sangat kencang, Sunari mengatakan pengelola sudah mengantisipasi hal tersebut, mulai dari memilih Pohon Pinus yang kuat, hingga menggunakan kayu pilihan untuk bahan kamar yang digunakan. “Ruangan itu terbuat dari kayu pohon Cemara Gunung sangat kuat,” ujarnya.    
Pengelola juga memberikan kesempatan untuk wisatawan yang hanya ingin berfoto ria di areal hotel, cukup merogoh kocek Rp 5 ribu perorang, mereka sudah bisa masuk areal hotel, hanya saja kesempatan ini hanya ada bila sedang tidak ada tamu hotel yang menginap.     
Budi Santoso, Kepala Dinas Pariwisata Kota Batu menuturkan pengalamannya menginap di Omah Kayu ini. “Luar biasa sekali, saya yakin obyek wisata ini akan menjadi andalan di Kota Batu,” ujar Tosi, panggilan akrab Budi Santoso.    
Omah Kayu menurut Tosi sangat cocok untuk digunakan orang yang membutuhkan inspirasi atau ingin merasakan suasana alam. Saat menginap itu, Tosi bertemu dengan tamu sebuah hotel berbintang yang memilih pindah tidur di Omah Kayu karena sensasinya.    
Tidur ditempat ini, bisa melihat keindahan pemandangan Kota Batu, terutama kalau malam hari. “Kelap kelip lampunya seperti hamparan permata, suara alamnya luar biasa, jadi kegemaran wisatawan mancanegara, mereka pasti berujar wow melihat semua ini,” kata mantan Kepala Dinas Pendidikan ini.    
Hanya saja menurut Tosi, ada beberapa hal yang harus dipertimbangkan oleh pengelola. Seperti pengaman jalan menuju ke kamar, hingga pengaman kamar agar tidak dihempaskan angin.
Pasalnya untuk bisa mencapai kamar, tamu harus melewati jembatan kayu yang hanya bisa dilewati oleh seorang pengguna    
Tosi menyarankan kepada pengelola agar menambahkan tali baja untuk pengaman jalan menuju ke kamar sekaligus untuk menahan pohon ini agar tidak tumbang. “Tidak disarankan untuk orang yang punya penyakit jantung dan takut ketinggian,” ujarnya sambil tersenyum.
Meski demikian, Tosi memuji langkah Perhutani mengembangkan wana wisata di daerah Gunung Banyak ini. Inovasi seperti ini yang dibutuhkan untuk mengembangkan pariwisata hingga wisatawan akan semakin nyaman rekreasi di tempat ini.(muh/ary)