Dr. Nour Athiroh, Tujuh Tahun Menjadi Pembimbing PKM

Kegigihan dalam melakukan penelitian dan riset membuat dosen Biologi MIPA Unisma, Dr. Nour Athiroh AS.S.Si.M.Kes terpilih sebagai penyaji terbaik seminar hasil penelitian desentraslisasi program hibah penelitian Ditlitabmas Dikti. Sebelumnya, pada 2013 lalu ia mendapatkan penghargaan the best oral presenter pada international seminar dan symposium di Fakultas Kedokteran Brawijaya 2013.


Bertamu ke rumah Athiroh, langsung disuguhi koleksi buku yang terpajang rapi di lemari, foto dirinya saat wisuda hingga beberapa piagam penghargaan yang pernah diterima.  Menurutnya, penghargaan tersebut tidak lepas dari kerja kerasnya selama ini. Meski apa yang ia lakukan tak diniati untuk mencari penghargaan, tapi memang tugas dan kewajibannya sebagai dosen. Namun ia ingin menjadi dosen yang kreatif dan mengajak mahasiswa untuk bisa lebih kreatif sehingga menghasilkan karya inovatif yang bermanfaat untuk masyarakat.
Untuk mewujudkannya, Athiroh tak puas menjadi dosen yang ‘hanya’ mengajar, ia juga aktif menjadi pembimbing mahasiswa yang hendak mengikuti Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) yang digelar Dikti maupun kompetisi lain.  “Pembelajaran bisa dalam kelas maupun luar kelas, karena mencetak generasi emas tidak saja di kelas, akan tetapi ada integrasi antara soft skill dan hard skill,” ujarnya.
Dia menyebut, selama 7 tahun menjadi pembimbing PKM bagi mahasiswa. Sudah ada sekitar 40 PKM yang diajukan ke Dikti, 12 di antaranya berhasil mendapatkan dana dan 6 lainnya berhasil masuk ke Pimnas. Bahkan, pada tahun 2013 lalu salah satu mahasiswanya meraih juara favorit PKMP Pimnas XXVI di Universitas Mataram, NTB.
Perempuan berkacamata ini menuturkan, pertama kali membimbing mahasiswa ia mengalami kegagalan. Akan tetapi, semangat mereka yang begitu menggebu untuk tampil di level tertinggi membuatnya kembali bersemangat.Tahun 2007, pertama kali mahasiswa bimbingannya berhasil tembus dan didanai oleh Dikti.
Pimnas, lanjutnya, merupakan event yang sangat didambakan oleh mahasiswa pecinta PKM. Bagi yang sudah didanai maka berpeluang masuk ke Pimnas. Semua mahasiswa pasti berkeinginan lolos ke Pimnas. “Saya tertantang untuk terus membimbing sehingga bisa masuk Pimnas,” ungkapnya.
Pengumunan Pimnas setelah dilakukan Monev (monitoring dan  evaluasi) dari DP2M (ditlitabmas). Saat monev inilah peran dosen sungguh-sungguh all out membina dan membimbing presentasi mahasiswa.  Dia menyebut, menjadi pembimbing PKM sangat berbeda jika dibandingkan dengan membimbing PKL maupun skripsi mahasiswa. “Saya senang jika mahasiswa aktif  berkreasi dan kreatif. Apalagi sampai berprestasi tingkat nasional,” sebutnya lebih lanjut.
Selain itu, karya yang pernah dibuat dan didanai oleh Dikti bukan lantas berhenti. Akan tetapi, hasil penelitian tersebut berguna dan bermanfaat bagi masyarakat. Salah satunya adalah tanaman pegagan yang diolah menjadi obat untuk meningkatkan daya ingat otak, karena semakin tua usia maka daya ingat semakin berkurang.
Penelitian lain, saat ini masyarakat juga banyak membudidayakan tanaman toga seperti jahe dan kunyit. Ditambah pula hasil penelitian pengembangan dari PKM sebelumnya, yaitu ramuan papaya dipakai untuk kesehatan dan kebugaran bagi hewan ternak. “Semua hasil penelitian mahasiswa dapat diserap secara baik oleh masyarakat,” paparnya sembari menyebut bakal mematenkan produk tersebut ke depannya.
Dia mengungkapkan, sudah 7 tahun lebih dirinya menjadi pembimbing bagi mahasiswa dalam melakukan penelitian. Ia pun berharap ada regenerasi dan muncul dosen-dosen baru yang bersemangat untuk membantu mahasiswa dalam melakukan penelitian. “Saya ingin dosen-dosen muda ikut terlibat dan aktif dalam membina mahasiswa dalam proses penelitian. Makanya perlu adanya regenerasi,” ujarnya. (miski/han)