Melukis di Atas Daun, Tak Luntur Meski Terkena Air

Umumnya orang melukis menggunakan kanvas atau kertas sebagai media, namun Mariana Calorina berbeda dari yang lain. Bahkan di Indonesia, mungkin dialah orang yang kali pertama melukis di atas daun yang masih hidup. Lebih hebatnya, karyanya itu menghasilkan nilai jual yang tinggi.

D’Itje Galery and Souvenir yang berlokasi di Perum Graha Pelita Asrikaton A-15, Jalan Raya Bamban Kecamatan Pakis merupakan tempat Mariana Calorine mengekspresikan karya seni lukis di atas daun. Letaknya tidak jauh dari Kota Malang, hanya sekitar 20 menit dari pusat kota untuk menuju lokasi.
Dari SPBU Sekarpuro Kecamatan Pakis, masuk ke arah barat. Sekitar seratus meter, di kanan jalan sudah terlihat papan nama D’Itje Galery and Souvenir. Memasuki galeri, pengunjung langsung disuguhi aneka gaun berhias gambar di kanan kiri pintu. Mulai gambar bunga, ikan, kuda, tokoh kartun hingga gambar kepala singa.
Sebelum mulai melukis di atas daun, Itje, sapaan akrab Mariana Calorina, memang seorang pelukis. Ia mulai melukis sejak 1997 dengan menggunakan media kanvas. “Saya belajar melukis secara otodidak. Sama sekali tidak ada yang mengajari, karena melukis hobi saya mulai kecil,” ungkap Itje.
Saat itu lukisan hasil karyanya sama sekali tidak dijual. Ia hanya melukis untuk dimiliki sendiri. Itje tidak berfikir karya lukisnya bisa membuahkan hasil, karena kesibukan usaha menyewakan tanaman di Jakarta.
“Selain hobi melukis, saya juga hobi dengan tanaman. Tanaman yang paling saya suka adalah Sansevieria jenis Masoniacongo Giant, atau di sini (Malang) dikenal dengan sebutan lidah mertua. Bahkan saat di Jakarta, saya sampai dijuluki dokter tanaman,” ujarnya.
Tingkat kebosanan sebagai pelukis memang selalu ada, begitu juga dengan Itje. Jenuh dengan melukis di atas kanvas, ia mulai mencoba melukis di atas daun. Awalnya hanya iseng, ternyata hasil karyanya banyak disukai orang. Tetapi sekali lagi ia tidak menjualnya, hanya untuk disewakan sebagai hiasan ruang tamu perkantoran.
Tidak semua daun bisa dijadikan media lukis, hanya jenis Sansevieria jenis Masoniacongo Giant yang memang menjadi favorit Ijte. Selain berdaun lebar, juga memiliki dasar atau tekstur yang menyerupai kanvas. Kasar, tidak licin seperti daun lidah mertua pada umumnya. Selain itu tanaman ini adalah tanaman indoor dan tidak mudah mati, meski hidup bertahun tahun. Perawatan tanaman ini juga mudah, tidak memerlukan banyak air.
Bahan yang digunakan untuk melukis adalah cat air jenis Acrylic, karena sama sekali tidak meracuni bunga atau tanaman. Meskipun terkena air, cat tersebut tidak luntur, atau saat digosok sekalipun. “Berbeda dengan daun lidah mertua yang licin, kena air pasti luntur dan mudah mengelupas karena sudah saya coba. Tetapi daun tanaman Sansevieria jenis Masoniacongo Giant, ketika terkena air justru tambah cantik,” terang wanita berusia 48 tahun ini.
Sebelum kembali mulai aktif melukis, Itje sempat berhenti lama sejak awal 2008. Itu setelah ia mendapat larangan dari suaminya untuk tidak melukis lagi. Tetapi awal 2014, ia kembali memulai aktivitas melukis, ketika membuka kantor galeri di Jalan Raya Kacuk Kota Malang.
Hasil lukisan di atas daun, masih tidak dijual. Baru sekitar lima bulan lalu, setelah melihat banyak yang suka dengan karya lukisan di daun, wanita berkacama ini mulai mengembangkan usahanya. Kendati baru seumur jagung, tetapi hasil karyanya sudah banyak diburu warga Malang Raya. Bahkan saat ini, dia mendapat pesanan banyak dari Jakarta, tetapi masih belum berani untuk menerima semua order.
Untuk melukis di daun yang berukuran tinggi satu meter, bisa diselesaikan dalam waktu sehari. Tetapi daun yang ukuran tingginya 10 – 20 cm, sehari maksimal menyelesaikan sampai 10 lukisan. “Harganya bervariatif mulai Rp 50 ribu sampai Rp 500 ribu, tergantung dengan besar daun serta model lukisannya,” jelasnya.
Lukisan-lukisan yang digoreskan di atas daun, kebanyakan hanya berdasarkan feling saja. Namun sesekali Ijte juga mencontoh gambar, seperti lukisan tokoh kartun. “Ke depan saya ingin menjadikan tanaman lukis di daun ini sebagai karya seni khas Malang,” harapnya.(agung priyo/han)