Jamran, Seniman Asal Kediri Pembuat Patung Singo Arema

SELESAIKAN KERANGKA: Jamran saat menyelesaikan kerangka besi untuk tiga patung Singo Arema di Taman Trunojoyo.

Di Taman Trunojoyo bagian Utara, sudah menjulang tinggi kerangka besi setinggi lima meter. Kerangka itu nantinya yang akan menjadi monumen kebanggaan warga Kota Malang. Itulah kerangka Patung Singo Arema, simbol semangat penduduk Bumi Arema.
Siapa sangka, desain monumen tersebut milik seseeorang yang terbiasa berpenampilan sederhana. Dia tampil apa adanya, sepintas orang tak akan mengira sosoknya adalah pembuat berbagai monumen yang menjadi ikon kebanggaan daerah-daerah di Indonesia.
Sehebat apakah dia?. Anda pernah melihat monumen Tanjung Perak setinggi 17 meter di Surabaya, Monumen Putri Songgolangit di Kediri? Atau, belasan patung singa yang berjejer di Ponorogo? Semua itu dibentuk dengan indah oleh kedua tangannya. Dia adalah Jamran, 47 tahun, seniman seni rupa asal Kediri, Jawa Timur. Sudah ada puluhan monumen kebanggaan daerah yang lahir dari tangan Jamran.
Dia jugalah yang membuat patung pahlawan nasional, ikon Angkatan Laut Surabaya, miniatur angkutan tradisional, monumen Jatilan di Ponorogo. Di Kediri sendiri, ada seperangkat miniatur jaranan, patung Dewi Songgolangit yang berada di kawasan wisata Goa Selomangleng dan masih banyak lagi. Bila ditotal, sekitar 30 monumen telah menyebar di Indonesia, khususnya kota-kota di Jawa Timur.
Belum juga puas menuangkan kreativitasnya di banyak kota, kali ini Jamran akan membuat monumen kebanggaan untuk Kota Malang. Dia menggarap simbol Arema setinggi tujuh meter ini, demi meningkatkan semangat solidaritas Aremania.
Pada desain patung yang dibuatnya, ada tiga singa lambang Arema. Salah satunya sedang berdiri menunjukkan kegagahannya. Dua lainnya, tampak sedang beristirahat dengan tatapan mata tetap tajam. Karena sejalan dengan minat dan skill miliknya, mengerjakan tiga patung tersebut dianggap mudah. Hanya perlu kerja keras dan ketelitian. Kerja keras Jamran sendiri tampak sangat tinggi, dia rela lembur demi menyelesaikan ikon baru Kota Malang tepat waktu.
"Saya baru pulang sekitar jam 11-12 malam, paginya saya mulai jam 7 pagi. Harus lembur, agar selesai tepat waktu," ujarnya kepada Malang Post saat ditemui kemarin. Menurutnya, lembur bukan masalah selama hasil karyanya maksimal.
Setiap hari, Jamran memandu tiga anak buahnya untuk membentuk kerangka patung. Secara kasat mata, membuat kerangkanya tampak tidak mudah. Mereka harus membengkokkan besi panjang sesuai dengan miniatur patung, belum lagi harus membuat bagian tubuh yang proporsional. Tidak jarang, Jamran ikut turun tangan untuk membantu anak buahnya yang kesulitan.
Kesulitan inilah yang menurut Jamran membuat seni itu indah. Bagi orang awam, posisi ekor, tatapan mata, arah rambut terhempas angin, bahkan lekuk otot pada sebuah patung singa itu tidak penting. Tapi tidak untuk seniman kelahiran 27 September 1967 ini.
Sebuah patung singa, menurutnya harus menggambarkan watak asli hewan tersebut. Karena itulah, dibutuhkan wawasan yang luas agar bisa membentuk sebuah karya seni rupa dengan baik. Misalnya, anatomi tubuh, ekosistem, habitat dan gaya hidup para hewan.
Apalagi singa yang satu ini bukan singa biasa, melainkan Singo Edannya warga Malang. "Tentunya harus dibuat dengan sempurna. Agar semangat betul-betul tergambar di monumen ini," jelas Jamran.
Perjuangan Jamran untuk menyelesaikan patung ini harus dihargai. Sebab ia sebenarnya masih memiliki tanggungan di Kediri, yakni menyelesaikan proyek patung lain. Alhasil, Jamran harus bolak-balik menyeimbangi pengerjaan keduanya agar semua selesai tepat waktu. Sarjana Seni Rupa jebolan Sekolah Tinggi Kesenian Wilwatikta (STKW) Surabaya ini mengatakan, dalam dua sampai tiga hari sekali dia harus kembali ke kota asalnya itu. "Ya, saya harus kembali ke Kediri untuk memantau pekerjaan di sana," tandasnya.
Ditambah lagi, dia menjadi ketua Dewan Kesenian Kota Kediri. Sehari-hari, dia harus memantau organisasinya tersebut. Prestasinya belum cukup sampai di situ, selain jadi ketua dewan kesenian, dia juga menjadi ketua Asosiasi Handycraft Jawa Timur.
"Sementara di rumah saya menjadi perajin seni rupa. Ada 300 lebih koleksi patung dengan berbagai bentuk di rumah," jelasnya. Tempat usaha tersebut diberi nama Ruma Seni Luku Bintang. Berbagai souvenir, relief, patung, souvenir dan sebagainya dipajang di sana. Hampir semua bernuansa budaya tradisional daerah. Ada miniatur Reog Ponorogo, Patung Kapal Selam Surabaya, Patung Bung Karno, Karapan Sapi dan sebagainya.
Jamran menyatakan, ada kepuasan sendiri bila dia membuat ikon-ikon tradisional di setiap daerah, khususnya Jawa Timur. Menurutnya, di era serba kebarat-baratan ini, kearifan lokal setiap daerah harus dimunculkan. "Tantangannya, bagaimana mengangkat kebudayaan lokal ini agar mengglobal," tandas suami Ida Sulistyawati ini.
Meski cenderung memiliki hobi membuat kerajinan tradisional, bukan berarti Jamran tidak bisa membuat seni rupa tokoh-tokoh dunia. Buktinya, saat ada orderan dari Jakarta yang memintanya membuat patung Iron Man, Jamran menyanggupi. "Pemesannya minta ada enam patung Iron Man dengan versi yang berbeda-beda. Sekarang sudah selesai tiga," terangnya.
Kendati demikian, Jamran merasakan ada yang kurang bila sedang mengerjakan patung luar, sebab ia secara pribadi lebih senang membuat seni rupa tradisional. "Saya merasa lebih puas bila membuat kerajinan dengan tema tradisional," tegasnya.
Di luar semua itu, warga Malang tinggal duduk manis menunggu tiga singa bangkit dari seorang seniman tanah air ini. Sampai waktunya tiba, patung Singo Arema ini, bisa jadi mengalahkan ikon Sura dan Baya milik Surabaya. (Muhamad Erza Wansyah/han)