Punya 97, Favoritkan Keris Sengkelat Pemberian Raden Madura

Abdul Rosyid dengan salah satu koleksi kerisnya.

Abdul Rosyid, Guru yang Gemar Mengoleksi Keris
Keris, telah diakui oleh dunia sebagai salah satu kekayaan budaya dari Indonesia. Namun, tidak hanya sebagai peninggalan budaya, keris kerap dianggap memiliki unsur magis yang terkandung di dalamnya. Hal tersebut berlaku pula bagi pengoleksi keris, yang menilai kekuatan dalam keris sesuai dengan nama, tipe maupun masa pembuatannya.
Abdul Rosyid, guru SDN Bandungrejosari1 termasuk salah satu kolektor keris di Kota Malang. Ia mulai berminat memiliki benda pusaka, baik itu keris maupun benda lainnya sejak remaja. Menurutnya, dia tertarik ketika masih SMP. “Waktu itu masih remaja. Kebetulan, orang tua memiliki kerabat yang suka dunia benda pusaka dan sering membahasnya di rumah,” ujarnya mengawali cerita.
Rosyid menyebut, awalnya dia menganggap benda tersebut harus dimiliki untuk memanfaatkan unsur magisnya. Untuk itu, dia pun melakukan tirakat dan menyepi di tempat-tempat keramat. Hasilnya, Rosyid seringkali meninggalkan rumah begitu selesai bersekolah.
Menurutnya, kala itu tak ada larangan dari orang tuanya sebab mereka juga intens membicarakan hal-hal magis. Akan tetapi, meski lama bertirakat dan sering menyepi, Rosyid belum bisa mendapatkan benda pusaka yang diidamkannya. “Kira-kira dua tahun, saya tidak mendapatkan apa-apa,” tegas dia.
Begitu memasuki masa SMA, ketika dia sudah mulai mengurangi hasrat memiliki benda pusaka, ada salah satu saudaranya yang dengan sukarela memberikan sebuah keris kepadanya. Tak pelak, Rosyid yang masih remaja pun kembali bersemangat untuk mengetahui lebih dalam mengenai benda pusaka. “Tetapi tidak lagi niat tirakat seperti dua tahun sebelumnya. Lebih santai namun saya justru banyak mendapatkan apa yang saya idamkan,” beber Rosyid kepada Malang Post.
Pria berusia 30 tahun ini menyampaikan, saat koleksi kerisnya bertambah, ia semakin merasa dituntut untuk belajar warisan budaya. “Saya mengambil sisi positifnya saja. Ketika mengoleksi keris, justru tertarik belajar mengenai nama keris, kapan dibuat, oleh siapa dan fungsinya untuk apa. Terlepas ada beberapa orang yang beranggapan mengenai unsur mistis pengoleksi keris,” papar Rosyid yang sekarang memiliki 97 koleksi keris itu.
Dia pun tidak ambil pusing dengan pandangan orang lain. Pasalnya, dia memiliki banyak keuntungan ketika mengekspresikan cintanya kepada keris-keris yang memenuhi tempat tinggalnya. Salah satunya keuntungan ekonomi. Dengan terbuka Rosyid mengakui, melakukan aksi jual beli benda pusaka tersebut.
“Salah satu keris yang saya koleksi memiliki arti sebagai sumber rezeki. Ya saya anggap positif saja, dengan tidak meninggalkan agama yang telah saya yakini. Ternyata, mengoleksi benda pusaka seperti keris juga membantu kelancaran perekonomian keluarga dengan cara menjualnya, karena ada orang yang bersedia menyiapkan mahar besar untuk keris tertentu,” urai bapak satu anak itu.
Dia menerangkan, kolektor lain bisa jadi memiliki pandangan berbeda. Misalnya saja untuk keris dengan nama Sabuk Inten, dipercaya mengandung tuah kejayaan sehingga banyak orang yang berburu keris yang terdiri dari 11 lekukan tersebut. Keris ini, dipercaya merupakan buatan seorang empu dari Kerajaan Majapahit, yang kedigdayaannya tidak diragukan lagi.
Rosyid melanjutkan, untuk saat ini, keris itu memang paling digemari selain keris Semar yang dianggap memiliki kekuatan memikat, pengasihan dan keberuntungan. Namun Rosyid sendiri mengaku justru menyukai Keris Sengkelat. Berasal dari singkatan sengkel atine (Jawa, red) yang dibuat pada masa pemerintahaan kerajaan yang sedang bergejolak.
“Dulu yang memiliki keris ini dari kalangan ksatria. Mereka menggunakannya pada masa gejolak. Cirinya ada 13 lekukan,” tambah dia.
Ia mengungkapkan, selain memiliki keris Sengkelat, Sabuk Intend an Semar, Rosyid juga mengoleksi keris Jangkung,Tombak Biring Lanang, Tombak Biring Wadon, Biring Penetas dan Karno Kinanding. Beberapa nama tersebut, diakuinya menjadi koleksi yang terasa sayang untuk dia maharkan.
“Baru kalau yang berminat benar-benar membutuhkan, saya pasti melepasnya. Sebab, saya juga menyukai untuk merawatnya,” urai Rosyid.
Dia pun menyampaikan kesenangan merawat keris-keris yang kini hampir menembus angka 100 tersebut. Bahkan dia sering menyediakan waktu khusus untuk bercengkerama dengan koleksinya. Rosyid memandikannya, membersihkannya, hingga menggendongya laksana seorang anak. Kepada Malang Post, dia menunjukkan beberapa foto ketika dia membawa koleksi keris hingga ke tempat tidur.
“Aneh memang. Tetapi ini cara untuk menunjukkan rasa cinta saya pada peninggalan kebudayaan di Indonesia. Saya harus memperlakukannya dengan hati-hati dan kasih sayang,” lanjut dia, lantas tersenyum.
Tak peduli dengan kata orang, sesuai dengan penuturannya, dia tidak melakukan hal yang salah. Meskipun banyak orang yang terkadang heran dengan hobi yang dimilikinya tersebut. “Banyak yang menganggap saya menyukai mistis, bisa ini bisa itu, tetapi saya mengoleksi keris utamanya untuk kepuasan batin dan mempelajarinya,” tegas pria asal Madura tersebut.
Rosyid menambahkan, salah satu koleksi yang sangat disayangi ketimbang jenis lainnya adalah keris yang diberi oleh seorang Raden di Madura. Menurut dia, berapapun orang siap memberi mahar, dia tidak akan melepasnya. “Selain bentuknya yang bagus, artinya juga sangat pas. Saya percaya dengan fungsi Keris Sengkelat ini,” sebut dia, lantas menunjukkan keris yang dimaksud.
Rosyid menjelaskan, dipandang secara keilmuan keris merupakan benda yang sangat penting dan berarti. Benda yang awalnya sebuah besi itu dibuat dengan proses dibakar terlebih dahulu, lalu dicampur dengan kandungan arsenik yang beracun. Hasilnya, ketika keris dipakai berperang, yang terkena hunusan akan terkena racun. “Itu bila dipandang dari sudut keilmuan. Harganya bisa menjadi mahal, karena batu arsenik harganya juga mahal. Tetapi, jangan lupakan pamornya,” terang suami dari Ika Fidia Sari ini.
Dia berharap kepada generasi penerus, tidak selalu memandang keris sebagai sesuatu yang berbau mistis. Sebab ketika diteliti dengan sudut sejarah juga memiliki pengertian dan bisa dipelajari. Bila dipandang dari masa pembuatan, generasi sekarang juga bisa belajar mengenai sejarah.
“Mengoleksi maupun mempelajari benda pusaka keris tidak ada salahnya. Tergantung cara pandang, bisa mistis, bisa belajar sejarah maupun belajar proses kimia. Kalau mau untuk berbisnis, ada beberapa keris yang harganya mencapai Rp 25 juta atau bahkan lebih dan banyak yang memburunya,” pungkas dia. (stenley/han)