Tekan Pelatuk, Muncul Kabut Lalu Masuk ke Area Kebakaran

Usaha PMK Kabupaten Malang Menaklukkan Api
Kebakaran yang terjadi di pabrik kertas PT Ekamas Fortuna beberapa waktu lalu menjadi sepenggal cerita anggota PMK Kabupaten Malang. Dua mobil PMK pun menerjang padatnya arus lalu lintas, untuk bisa sampai di tempat kejadian. Tidak sekadar menyemprotkan air untuk melakukan pemadaman, tapi juga menghalau api agar tidak merembet ke kawasan lain, terutama pemukiman warga.
“Keselamatan warga menjadi prioritas kami saat terjadi kebakaran. Karena tidak ada yang lebih berharga dari pada nyawa, apapun itu bentuknya,’’ begitulah yang dikatakan oleh Nurul Kusnaini.
Pria yang menjabat sebagai Kepala UPT PMK Kabupaten Malang ini mengatakan, tahun 2014 ini kebakaran kerap terjadi. Sesuai data ada 39 kasus kebakaran, dengan jumlah kerugian yang dialami mencapai angka miliaran rupiah. Dari 39 kasus tersebut, paling banyak terjadi kebakaran adalah September, hingga 10 kasus sebelum bulan berakhir.
“Sehari bisa ada dua, seperti tanggal 7 September lalu, ada dua kasus kebakaran, di Karangploso dan Lawang. Keduanya kami datangi,’’ kata Nurul. Dalam kasus kebakaran, dia mengatakan anggota PMK selalu sigap. Tanpa harus diperintah, begitu mendapat kabar mereka berangkat. Slogan pantang pulang sebelum api padam walaupun nyawa taruhannya itupun sangat cocok untuk para pembasmi api ini.
Meningkatnya jumlah peristiwa kebakaran ini pun mendapat perhatian dari Pemkab Malang, dengan membelikan petugas PM K Nozzle Pistol Grip, jenis Multi Purpose. Alat ini terpasang di ujung selang, yang memiliki fungsi melindungi petugas dan mendorong erupsi panas di area kebakaran.  
Kinerja alat yang dibeli seharga Rp 9 juta per unit ini multifungsi. Saat pelatuknya ditekan, air secara deras menuncur dari selan. Sementara di ujung selang ada alat yang bergerigi. Saat alat bergerigi ini berputar, maka putarannya akan memunculkan kabut. “Kabut inilah yang kemudian menciptakan udara lebih dingin, sehingga petugas PMK bisa masuk ke lokasi kebakaran dengan mudah,’’ kata bapak dua anak ini, sembari mengatakan dengan perangkat ini keamanan para petugas PMK pun akan semakin terjamin. Namun begitu, bukan kemudian petugas bisa teledor. Karena lawannya adalah api, petugas tetap wajib memperhatikan sekelilingnya.
“Tidak semua bisa mengendalikan, atau mengoperasikan Nozzle Pistol Grip jenis Multi Purpose Nozzle. Karena saat pelatuk ditarik, air yang keluar sangatlah kencang. Tekanan airnya bisa mencapai 25-30 bar. Sehingga dibutuhkan orang yang memiliki tenaga lebih kuat,’’ katanya.
Alat baru ini juga didukung dengan selang. Dikatakan Nurul, PMK Kabupaten Malang memiliki dua jenis selang, yakni jenis rubber dan polyster. Menurutnya selang jenis rubber ini terbuat dari karet dan tahan tekanan 25-30 bar, sedangkan polyster terbuat dari karet dan dilapisi kain kuat tekanan hanya 20 bar.
Selain itu, Pemkab Malang juga membelikan petugas PMK Kabupaten Malang ini alat Breathing Apparatus atau alat bantu pernafasan. Alat ini PMK Kabupaten Malang memiliki tiga unit. Meskipun memiliki tiga unit, penggunakaan alat ini sangat maksimal. Petugas PMK bisa masuk ke ruangan-ruangan yang terbakar tanpa perlu kawatir keracunan. “Kalau keracunan asap sudah sering, makanya alat ini sangat membantu kita,’’ katanya. Nurul juga mengatakan, pihaknya juga mendapatkan pengadaan fire jacket baru dan beberapa alat atau sarana lainnya.  
Nurul menceritakan, dirinya sudah 22 tahun mengabdi sebagai anggota PMK Kabupaten Malang. Selama itu dia mengaku sudah banyak api yang telah dijinakkan. Menurut Nurul, saat datang ke lokasi kebakaran, petugas PMK harus mengetahui lebih dulu sifat api termasuk arah angin, sembari mereka mempersiapkan selang. Selanjutnya, penyemprotan pun dilakukan. “Arah angin sangat penting, harus diperhitungkan. Itu agar api tidak menyebar. Langkah pertama saat menyemprot, adalah melokalisir api, dengan memberikan batasan agar tidak menyebar. Baru kemudian menyiram titik api,’’ urainya.
Pemadaman tidak bisa dilakukan sendiri. Butuh kerja tim untuk hal ini, selain memberikan kemudahan dalam melakukan pemadaman, juga saling menjaga keselamatan anggota PMK lain yang melakukan pemadaman. “Lawan kita ini api, yang sewaktu-waktu bisa menjilat, dan membakar kami. Nyawa kami pun menjadi taruhan. Di sinilah, kerja sama tim ini dibutuhkan,’’ kata suami Dra Astuti Ningsih ini.
Lantaran itulah, anggota PMK ini harus sering latihan untuk menjaga kekompakan tersebut. Dia mengaku, tidak jarang anggota PMK harus mengalami sesak nafas, lantaran menghirup asap beracun. Menghirup asap beracun memang menjadi kesalahan anggota PMK, sebab saat bekerja, pihaknya selalu memberikan masker atau alat bantu pernafasan, jika memang melakukan pemadaman di ruangan-ruangan. Namun musibah (menghirup asap beracun, red) bisa terjadi kapan saja, itu yang harus diantisipasi dengan pengadaan beragam alat penunjang.
Nurul mengatakan, jika selama ini tidak pernah kesulitan dalam melakukan pemadaman. Bahkan saat yang terbakar adalah gudang penyimpanan kayu, atau gudang tiner, tidak akan sulit. Hanya saja, kondisinya juga mendukung. Menurutnya, tantangan terbesar anggota PMK sebetulnya adalah arus lalu lintas. Terlebih saat ini, kondisi jalan yang macet menjadi kendala tersendiri. “Kita inginnya cepat sampai di TKP, tapi jalan sangat tidak mendukung. Pengendara lain juga tidak memberikan prioritas, inilah yang membuat kami terlambat sampai TKP,’’ urainya.
Akses jalan menuju TKP pun menjadi kendala, terutama di pemukiman warga padat penduduk. Kendaraan PMK tidak bisa lewat sehingga api pun tidak bisa langsung dipadamkan. “Kalau sudah ada di tempat kebakaran sangat mudah. Tehnik pemadaman seperti yang saya jelaskan di atas,’’ urainya.
Alumni STM Grafika ini juga mengakui jika pekerjaannya sebagai petugas PMK tidak luput dari tangan-tangan jahil orang-orang yang tidak bertanggung jawab. Tidak sekali dua kali PMK  mendapat telepon abal-abal yang menginformasikan adanya kebakaran. Tapi begitu, mereka pun tidak kurang akal dengan membeli pesawat telepon yang mampu menampilkan nomor telepon. “Pernah dinihari, ada telepon masuk menginformasikan adanya kebakaran. Dan kami langsung percaya saat itu. Sehingga tanpa mengkroscek ulang, kami langsung berangkat. Kenyataannya, tidak ada apa-apa,’’ katanya sembari tersenyum.
Sekarang, saat mendapat telepon, petugas PMK pun menelpon balik atau jika tidak mencatat identitas penelpon secara jelas, selanjutnya langkah terakhir adalah melakukan koordinasi dengan instansi terkait,’’ urainya.
Nurul mengakui jika kerap kali apa yang dilakukan PMK tidak mendapat pujian, sebaliknya mendapat celaan. Namun begitu, mereka sama sekali tidak kecewa. Tapi berusaha untuk tetap memberikan pelayanan terbaik kepada seluruh masyarakat Kabupaten Malang.
Sementara ini, Nurul mengatakan jika di Kabupaten Malang hanya memiliki 5 unit mobil PMK. Lima unit mobil ini harus mengcover seluruh wilayah yang jumlahnya ada 33 kecamatan. Jumlah kendaraan ini memang sangat minim. Tapi begitu, karena untuk pengadaan juga sangat mahal, merekaa pun memilih untuk menggunakan yang ada. “Idealnya kendaraan PMK per kecamatan memiliki 1 unit, sehingga saat ada kebakaran terjadi, cepat datang, dan bisa langsung menyemprot,’’ tandasnya.(ira ravika/han)