Sulap Rotan Jadi Kap Lampu Seharga Rp 15 Juta

SIAP JUAL: Beberapa hasil karya kap lampu buatan Kusnadi yang siap dipasarkan kepada pembeli.

Tangan Kusnadi, 29 tahun warga Dusun Dadaprejo Kulon, Desa Bendosari, Kecamatan Pujon benar-benar bertuah. Melalui sentuhan tangannya, rotan yang dibeli seharga Rp 27 ribu per kilogram, mampu disulapnya menjadi belasan juta. Keunikan karya warga Kabupaten Malang ini, bernilai jual tinggi.
 
Kap lampu unik berbahan dasar rotan. Begitulah nama karya dari bapak satu anak yang memulai usahanya sekitar Tahun 2004. Memanfaatkan rotan yang memiliki diameter 2 sampai 3 milimeter dan panjang rotan minimal 4 meter, Kusnadi dengan jeli mengubahnya menjadi kerajinan tangan untuk interior lampu rumah.
Yang menarik, tidak hanya kap lampu meja kamar tidur atau tempat tidur yang diproduksinya sehingga kini menjadi salah satu hasil kerajinan kepercayaan Kabupaten Malang. Namun, beragam jenis dan bentuk posisi lampu dipasang, mampu didesainnya dengan gaya yang unik dan elegan. Sehingga, di mana pun posisi hasil kerajinanya dipasang atau ditempatkan, akan memunculkan kesan sangat berbeda.
Seperti kap lampu dinding, selain memproduksi dalam bentuk persegi panjang, karya yang dibuatnya juga dalam bentuk kupu-kupu. Sehingga, tanpa mengurangi pencahayaan pada lampu, hasil kerajinan tangannya itu mampu lebih memfokuskan pencahayaan dari sinar lampu di masing-masing rumah. Termasuk, memunculkan kesan romantis ketika dipasang di dalam kamar.
Bentuk sedikit beda nan mewah, ditampilkan Kusnadi dalam bentuk kap lampu duduk. Selain berukuran sedang sekitar 35 centimeter, kerajinanya juga disajikan dalam ukuran besar hingga mencapai sekitar 1 meter. Sementara bentuk desainnya, mulai seperti daun hingga vas bunga dan bahkan sesuai pesanan pembeli. Model pembuatannya yang rumit dan gaya tampilannya yang mewah, membuat kap lampu tersebut sangat cocok tatkala ditaruh di ruang tamu.
“Per satu hasil karya atau kerajinan, saya menjualnya seharga mulai Rp 100 ribu sampai Rp 15 juta. Tergantung dari model dan pesanan dari pembeli kap lampu. Apalagi, pemesan yang biasanya meminta gaya natural dari rotan, dari Bali,” kata Kusnadi kepada Malang Post.
Penyajian kap lampu dengan gaya natural, tambah pria asal Dadapkulon itu, perlu dua kali pengerjaan terhadap rotan. Jika biasa rotan hanya cukup di pernis untuk memunculkan kesan mewah saat dijual, maka ketika pembeli meminta gaya natural maka akan dilakukan sending pada rotan. Setelah sending selesai, baru dilanjutkan dengan pemberian pernis di rotan.
Selain rotan yang menjadi bahan dasar kap lampu, kerajinan tangannya juga mengkombinasikan beberapa bahan yang ada di sekitar rumah. Mulai kayu rencek atau ranting untuk bodi atau sisi kap lampu, kulit kayu yang bisa diperuntukkan mengisi bagian atap kap lampu hingga pada bunga aren dan lidi janur untuk mendukung sisi kap lampu.
“Kombinasi yang saya tampilkan pada kap lampu ini sangat banyak. Intinya, semua yang ada di sekitar rumah, sebenarnya bisa dimanfaatkan untuk membuat suatu karya menjadi indah dan menarik,” terangnya.
Perpaduan kap lampu garapannya, selain mengandalkan rotan sebagai bahan dasar juga mengandalkan kawat dan kain khusus sebagai bagian dari perpaduan hasil karya. Kawat misalkan, membantu dalam pembuatan kerangka dari bentuk kap lampu yang akan dibuat atau dipasarkan. Diawali dari kerangka, lalu diteruskan dengan kain dan rotan di sisi kap lampu.
Sementara kain yang digunakan, juga tidak asal kain. Karena, ketika kombinasi yang digunakan salah, maka cahaya dari lampu akan menyebar kemana-mana. Itulah mengapa, beberapa kain yang digunakan adalah jenis jenis krayon, pellet hingga kain kringket. Beberapa kain itu, bisa memfokuskan cahaya pada satu arah serta tetap memunculkan sinar.
“Khusus kainnya, saya biasa mendatangkan sampai Bali dengan harga Rp 15 ribu sampai Rp 20 ribu perlembarnya. Jadi, ada beragam kombinasi pada kerajinan kap lampu ini,” ujarnya. (sigit rokhmad e)