Mimpi Jadikan Almamater Juara, Tolak Tawaran Latih Timnas

RAHASIA : Wahyudiono (kemeja kuning paling kanan), sosok penting di balik kesuksesan tim basket putra SMAN 3 Malang.

WAHYUDIONO mungkin tidak begitu populer di basket pelajar Malang sebelum mengantar SMAN 3 Malang menuju final DBL 2014 East Java Series-South Region pertengahan September lalu. Tapi, pria kecil ini ternyata adalah sosok asli Malang dengan begitu banyak ilmu dan pengalaman dalam bidang kepelatihan basket. Seperti apa cerita di balik sosok Wahyudiono?

Pembawaannya kalem. Gesturnya pun tenang. Kumis tebalnya tidak memberi kesan garang atau galak. Sebab, cara bicara Wahyudiono santun dan tidak berlebihan. Saat bertemu Malang Post sesaat sebelum laga final SMAN 3 Malang di GOR Bimasakti beberapa waktu lalu, Wahyudiono terlihat duduk santai.
Kopi hitam buatan dapur mess pemain Bimasakti tersanding rapi di atas mejanya. Sesekali, Wahyudiono menyesap kafein ini. Badannya kecil namun terlihat penuh wibawa. Pelatih tim basket SMAN 3 Malang itu masih konsisten mengenakan kemeja kuning.
Kostum ini adalah dresscode wajib tim pelatih Bhawikarsu, sebutan SMAN 3 Malang, saat bertarung di DBL 2014. Sembari mengenakan dasi bergaris berwarna gelap, Wahyudiono pun mulai bercerita tentang latar belakang keaktifannya di dunia basket pelajar Malang.
“Saya sebenarnya adalah orang lama. Saya asli Malang. Kelahiran Bareng. Umur saya sekarang sudah 47 tahun. Jauh sebelum terjun di kepelatihan basket pelajar, saya malah sudah jadi asisten pelatih Bimasakti. Itu era pertengahan 1990-an,” terang Wahyudiono kepada Malang Post, kemarin.
Wahyudiono yang juga alumnus SMAN 3 Malang itu belajar basket secara otodidak. Sejak SMP, ia menggilai olahraga dari Amerika itu. Rumah Wahyudiono di Bareng, dekat dengan Stadion Gajayana. Setiap hari, dia bermain di lapangan basket kompleks luar Gajayana.
Memasuki SMAN 3 Malang, Wahyudiono tergabung dengan tim basket yang akhirnya sekarang jadi asuhannya. Lalu, begitu lulus SMA, dia melanjutkan kuliah jurusan olahraga di IKIP Malang (sekarang UM). Bangku kuliah tak banyak memuaskan hasratnya terhadap basket.
“Soalnya, sarjana olahraga tak hanya menguasai basket, tapi juga olahraga lain. Sehingga, ilmu basket saya dapat secara otodidak, baca-baca buku soal basket dan terus main basket, termasuk sering kumpul pemain di Bimasakti,” tegas pria yang diangkat jadi PNS menjelang awal tahun 2000 tersebut.
Namun, batu loncatan Wahyudiono untuk menekuni dunia kepelatihan tiba saat dia bertemu dengan Kim Dong Won atau Mr Kim. Era1990 sampai 2000-an, Mr Kim adalah pelatih Bimasakti. Karena keseriusan serta attitude, Mr Kim menawari Wahyudiono menjadi asistennya dalam melatih tim Bimasakti.
Sejak itulah, Wahyudiono mulai terjun dalam dunia kepelatihan basket. “Dasar-dasar ilmu saya berasal dari Mr Kim yang sekarang melatih CLS Knight Surabaya. Sekitar 3 sampai 4 tahun saya magang asisten pelatih di bawah Mr Kim,” tegas Wahyudiono.
Setelah beberapa tahun magang di Bimasakti, Wahyudiono diangkat sebagai PNS dan ditempatkan di Sumenep, Madura. Meski demikian, ia tidak meninggalkan basket. Selama 11 tahun, Wahyudiono ikut serta menggairahkan basket di Sumenep.
Tapi, Wahyudiono tak segera puas meskipun dapat pekerjaan tetap sebagai guru olahraga. Sekitar tahun 2001, Wahyudiono mengejar sertifikat IOC (International Olympic Committee) kepelatihan basket dan lulus. Bermodal ilmu kepelatihan basket internasional, ia menggairahkan basket di Sumenep.
Tahun 2011, ia kembali mendapat kesempatan untuk belajar perkembangan terbaru dunia basket. Dia mengikuti kepelatihan FIBA (International Basket Federation) Asia dan lulus. Setelah itu, ia dapat kesempatan kembali ke Malang. Dari sini, ia bertemu dengan sekolahnya SMAN 3 Malang dan menjadi pelatih. Gebrakan pun dibuat oleh Wahyudiono bersama SMAN 3 Malang. Untuk kali pertama sejak berpartisipasi di DBL, Bhawikarsu tembus final.
“Butuh waktu satu tahun bagi saya untuk membentuk tim basket SMAN 3 Malang. Prosesnya berat dan lama. Ada hal-hal yang harus diubah dari mindset pemain basket pelajar,” tambahnya. Walaupun Wahyudiono adalah pelatih level basket pelajar, tapi ia sempat menerima tawaran untuk ikut melatih tim nasional basket putra.
“Pelatih basket putra itu kolega saya yang menawari untuk jadi pelatih fisik timnas. Tapi, saya tolak. Soalnya, saya ingin membesarkan alumamater saya dulu. Kalau SMAN 3 Malang sudah jadi juara, baru saya bisa mikir yang lain,” tutup Wahyudiono.(fino yudistira/han)