Sabet Penghargaan Dunia, Solusi Atasi Pencemaran Air di Muka Bumi

ILMUAN MUDA: Benny Candra Monacho (kiri) berpose bersama tim saat mengikuti olimpiade di Malaysia beberapa waktu lalu.

Melalui alat Deterjent Filter Effective Solution (Detective), membuat para mahasiswa dari LSO Ritma BEM Fakultas MIPA Universitas Brawijaya mendunia. Mereka menciptakan perangkat untuk memfilter deterjen menjadi air bersih dengan PH netral. Sehingga dapat mengurangi pencemaran air di muka bumi kita ini.

Alat yang diciptakan para mahasiswa UB itu amat luar biasa. Meskipun sederhana dan simpel, berkat alat ini air deterjen dapat digunakan kembali untuk mencuci. Dan tentunya aman untuk dialirkan menuju ekosistem air. Tak heran, karya tersebut sudah banyak menyabet penghargaan internasional.
Para mahasiswa ini adalah Benny Chandra Monacho (Koordinator Detective), Dwiky Ramadian, Rizal Yulistio Aji, Desak Ketut Tristiana Sukmadewi, Ayu Arsyi Anggraini. Penghargaan yang mereka sabet diantaranya, mendapatkan medali emas dalam Asian Young Inventor Exhibition (AYIE) 2014, medali perak dalam kompetisi International Invention Innovation and Technology Exhibition (ITEX) 2014. Serta dua penghargaan spesial dari Korea Invention News  untuk Honor An Exceptionally Outstanding and Creative Invention at the 25 th international Invention ITEX2014.  Sedangkan penghargaan khusus kedua diberikan oleh The Office of The Basic Education Commision Ministry of Education (Thailand) at the asian Young Inventors Exhibition 2014.
Dan penghargaan terbaru yaitu pada saat pagelaran Internasional Young Invention Award 2014 di Jakarta, tim Detective mendapatkan medali perak. Koordinator Detective, Benny Candra Monacho mengatakan bahwa pipa detective merupakan proyek yang dikerjakan sejak duduk di bangku SMA, kemudian dilanjutkan ketika menempuh pendidikan di perguruan tinggi.
“Kami mulai membuatnya awal tahun 2014 lalu, pada saat mendengar ada Olimpiade ITEX 2014. Alat ini sebenarnya sudah pernah saya buat di SMA, dan tinggal melanjutkan. Kemudian saya mengajak teman-teman dalam menyempurnakan penelitian ini ,” katanya.
Ia menuturkan, pembuatan pipa Detective ini tidak membutuhkan waktu lama. Ia bersama keempat temannya berhasil menyelesaikan alat sederhana ini dengan waktu dua bulan. Untuk biaya pembuatan alat ini sekitar Rp 200 ribu ukuran kecil dan besar Rp 350 ribu.
“Sebenarnya buat alat ini tidak butuh waktu lama, karena berkelompok sehingga harus benar-benar mencocokkan waktu yang longgar dan semua tim bisa datang,” tuturnya kepada Malang Post.
Lebih dari 30 kali percobaan yang pernah dilakukan baik di kos-kosan, rumah temannya serta di Lab MIPA. Hingga akhirnya hasil penyaringan tersebut dari mulanya air bercampur deterjen menjadi air bersih.
Mahasiswa jurusan Fisika MIPA UB ini mencontohkan cara kerja dari Detective ini. Yakni Detective berbentuk pipa terdiri dari tiga bagian, yaitu filter I, II dan III. Pipa Detective filter I dan III berfungsi sebagai filter secara kimia yang tersusun dari pasir ijuk, arang, tempurung kelapa, batu ziolit dan ijuk.  
Sedangkan pipa filter II berfungsi sebagai penyaring kotoran yang diterapkan sesuai dengan kontra gravitasi. Dengan tujuan limbah deterjen dipaksa naik yang akhirnya membuat material kotoran mengendap di bagian bawah.
Detective ini dibuat berdasarkan prinsip kerja instalasi pengolahan air sangat sederhana (IPASS). Pipa ini dipasang pada saluran pembuangan penampungan limbah deterjen. Detective ini bisa digunakan di rumah tangga, restoran maupun di lingkungan kampus serta pabrik skala kecil hingga besar. Nantinya, limbah deterjen yang sudah tersaring melalui pipa detective mengalami degradasi kimia sehingga PH yang awalnya bersifat basa menjadi normal.
Untuk menguji keefektifan alat tersebut, pipa detective sudah diuji pada lima sampel ikan mujaer dan enceng gondok. “Dari hasil uji lab yang sudah kami lakukan, dihasilkan bahwa insang pada ikan mujaer langsung pecah dan mati. Sedangkan yang sudah difilter dengan detective bisa bertahan hidup. Begitu pula dengan enceng gondok yang diberi limbah deterjen yang sudah difilter langsung kering dan mati, sebaliknya enceng gondok yang terkena limbah deterjen tanpa filter detective tetap hidup,” urainya lebih lanjut.
Pria kelahiran Lampung ini mengakui, sempat ditawari kerjasama oleh perusahaan laundry di Jakarta dalam pengolahan limbah laundry. Namun tawaran tersebut belum disetujui karena alat ini masih harus dilakukan penyempurnaan kembali. Oleh karena itu, hingga saat ini timnya masih terus melakukan pengujian fisik.
Selain itu, alat ini juga belum diusulkan kepada pemerintah dalam rangka mengurangi pencemaran terhadap air. Sebab, Indonesia sebagai negara maritim merupakan negara yang dikelilingi banyak sungai dan laut. Disisi lain, Indonesia merupakan negara penyumbang polusi air terbesar di dunia.
Hal itu bisa dilihat dari hasil studi di Institut Teknologi Lingkungan di Adelaide Australia. Indonesia menempati peringkat ke 7 dalam hal pencemaran air.
Salah satu sumber terbesar pencemaran air di Indonesia, katanya adalah limbah domestik. Baik itu berasal dari sanitasi, sampah dan deterjen menyumbangkan 60 persen pencemaran sungai dan danau-danau di kota besar Indonesia. Otomatis, limbah deterjen yang menumpuk menyebabkan terjadinya ledakan pertumbuhan enceng gondok dan ganggang. Karena enceng gondok berpengaruh terhadap biota air laut, berkurangnya oksigen dan menghalangi sinar matahari ke dalam air. “Air minum yang terkontaminasi oleh deterjen mengandung Chloro Benzena yang bisa menimbulkan penyakit kanker,” paparnya.
Kendati begitu, ke depan alat ini diharapkan dapat berguna bagi masyarakat dalam mengurangi pencemaran air. Saat ini alat tersebut sudah mulai diujicobakan di salah satu rumah temannya dan hasilnya sangat bagus.
Benny menambahkan, meski air hasil proses penyaringan Detective ini sudah dapat digunakan untuk mencuci. Namun, untuk dikonsumsi secara langsung air tersebut, kelompoknya belum meneliti lebih jauh.
“Semua Dewan Juri saat olimpiade, menanyakan apakah air hasil penyaringan melalui alat ini dapat dikonsumsi ulang. Dan kami tidak bisa memastikan, karena kami fokus pada filter kimianya,” tambahnya.
Akan tetapi, karyanya ini dinilai merupakan salah satu penemuan baru. Sebab, banyak filter air yang dibuat, hanya fokus untuk menyaring air kotor menjadi air bersih dan jernih.
Selain itu, alat yang dibuatnya tidak butuh bantuan atau aliran listrik. Karena sudah dapat bekerja secara langsung dan sederhana. ”Minimal kami memiliki sumbangsih terhadap lingkungan dan ini kami masih teliti dan kembangkan terus,” tutup pemuda yang hobi menyanyi ini.(Miski bin Djamaluddin)