Jadi Jupel Terbaik, Gusar Tak Ada Penerus

Bagi banyak orang, menjadi juru pelihara (Jupel) candi memang bukan pekerjaan yang mudah dan  menyenangkan. Jupel yang sering disebut sebagai juru kunci juga cenderung membosankan karena setiap hari mereka hanya berkutat dengan candi. Tapi fakta tersebut  tidak berlaku bagi Suryadi. Pria 56 tahun, yang bertugas di Candi Jago Tumpang  ini justru mengaku, pekerjaannya sangat menyenangkan. Selain banyak mengenal tentang sejarah, bapak empat  anak ini juga mendapatkan pelajaran hidup dari candi yang dijaganya.

Hingga tahun ini, sudah 37 tahun, Suryadi mengabdikan diri menjadi juru kunci. Pekerjaan itu digelutinya sejak lulus SMA, setelah sang ayah lebih dulu menawarinya. "Ayah saya bernama Bambang Sutrisno, dulu pernah jadi kades di daerah Pasuruan. Kemudian memilih berhenti dan beralih sebagai Jurpel," kata Suryadi.
Kecintaan sang ayah pada candi pun menular pada Suryadi. Saat masih kecil, Suryadi kerap bermain di Candi Jago. Tentu saja dia tidak sekadar bermain atau berkeliling, tapi juga belajar hingga Suryadi muda pun menjadi pendamping Bambang. Waktu pun berlalu, Suryadi  pun kian dipercaya sebagai Jupel. Terbukti belum satu tahun mengabdi, Suryadi diangkat menjadi PNS. Resmi sebagai PNS, Suryadi kian tekun belajar. Dia juga mulai membaca relief.  "Saya paling suka dengan cerita relief Kunjara Karna. Relief ini ada di bagian candi sebelah timur laut. Karena relief ini mengajarkan kita tentang hidup," katanya sembari menambahkan ada 13 pelajaran hidup yang ada pada cerita relief Kunjara Karna.
Jika ke-13 pelajaran tersebut diterapkan dalam kehidupan sehari-hari, menurut Suryadi, akan sangat bagus sebab mengajari individu tersebut untuk tidak gampang emosi.  ”Kita harus terus bersabar," urai ayah dari Dian Nuzula Artikasari ini.
Selain cerita Kunjara Karna, masih banyak cerita lain yang menarik menurut dirinya. Cerita-cerita di candi tersebut diperolehnya dari banyak literatur. Bahkan, tidak jarang dia mendapat literatur dalam Bahasa Belanda. "Kebetulan saya ini suka membaca, jadi tidak kesulitan saat melakukan penjabaran," katanya lagi.
Kegigihan dan kesetiaan Suryadi pada Candi Jago pun membuahkan hasil. Tahun 2007 lalu dia terpilih sebagai pegawai teladan, dan tahun 2012 dia mendapatkan penghargaan sebagai Jupel terbaik. "Pemilihan Jupel dilakukan setiap dua tahun sekali oleh pemerintah pusat. Kebetulan 2012 lalu saya yang dikirim, dan mendapat nomor satu. Tapi yang membuat saya bangga adalah Candi Jago Tumpang juga jadi Candi terbaik saat itu," katanya bangga.
Meskipun sudah mendapatkan prestasi terbaik, Suryadi tetap terus belajar. Tentu saja dia tidak hanya belajar tentang Candi Jago tapi candi-candi lainnya. Ini dilakukan agar saat pengunjung datang ke candi bisa mendapat penjelasan tentang candi yang dikunjunginya.
Selain itu, Suryadi juga sering menulis. Dia tidak sekadar menulis sejarah dengan literatur lain, tapi juga menulis buku. ”Bahkan ada salah satu penerbit yang mau menerbitkan buku saya, tapi saya tidak bersedia,” ujarnya.
Meskipun sudah dinobatkan menjadi Jupel terbaik, tapi masih ada yang mengganjal bagi Suryadi, yakni peran ganda Jupel. Menurutnya tidak sedikit Jupel yang memiliki peran ganda untuk mendapat keuntungan. Dia mencontohkkan di salah satu candi. Saat pengunjung hanya minta izin masuk, para Jupel tidak akan melakukan hal aneh-aneh. Tapi saat pengunjung minta izin dan minta tolong karena akan ada tirakat, Jupel pun langsung memainkan peran gandanya. "Ini kan memalukan, dan bisa merusak nama Jupel," tambahnya.
Selain itu, yang menjadi kegusaran Suryadi adalah tidak adanya pengganti. Saat ini Jupel yang ada usianya tua dan butuh regenerasi. "Regenerasi untuk kelanjutan nasib candi.Candi dibangun sebagai wujud pendermaan sesorang kepada orang yang dihormatinya. Tentu saja banyak cerita baik yang bisa digali dari candi," tandasnya.(ira ravika/han)