Eksis karena Terinspirasi B-Boy Perancis dan Amerika

Semangat pria ini untuk terus maju patut ditiru. Keterbatasan fisik tidak menjadi hambatannya untuk berkreasi dan berprestasi. Di sela-sela waktu menjadi pengusaha Warnet, dia terus menyalurkan hobi breakdance. Meski hanya memiliki kaki kiri, namun pertunjukkannya selalu menjadi pusat perhatian penonton.
Dia adalah Arif Setyo Budi, Warga Ngangglik, Kecamatan Sukun, Kota Malang. Pria ramah ini sejak 2007 mengalami keterbatasan fisik akibat insiden kecelakaan di salah satu perusahaan plastik di Sidoarjo, hingga menghilangkan kaki kanannya. Kini, dia harus berjalan menggunakan tongkat penyangga.
Bagi orang biasa, kehilangan organ tubuh membuat mereka stres karena harus menerima kenyataan tak lagi memiliki anggota tubuh yang lengkap. Tapi tidak bagi Arif. Insiden itu tak memupuskan semangatnya untuk mengekspresikan hobi ngedance.
Saat beraksi, Arif masih menggunakan tongkatnya. Dia selalu mulai bergoyang dengan gerakan kaki (footwalk). Ia kemudian melanjutkan gerakan itu sampai tingkat ekstrim, dengan melakukan gerakan freeze, down rock ataupun floor (gerakan di lantai). Lebih mencengangkan lagi, ketika melihat pria energik ini melompat dan berdiri terbalik dengan menggunakan satu tangannya.
Sesekali, Arif juga melepas tongkat penyangganya. Dia memberikan ke temannya dan beraksi dengan tangan kosong. Melihat B-Boy (sebutan untuk breakdancer) bertubuh normal sedang beraksi saja, sudah banyak mata yang berdecak kagum. Apalagi, melihat Arif yang lincahnya minta ampun itu beraksi.
Berkat bakatnya itu, dia pernah menjadi juara II LA Break 2011 tingkat Jatim dan juara I LA Break 2012  tingkat Jatim. Bahkan, pria berambut pendek ini pernah masuk 48 besar dalam kompetisi bergengsi di salah satu televisi swasta, Indonesia Mencari Bakat (IMB) 3. "Meski akhirnya tidak berhasil masuk ke babak selanjutnya," katanya terbahak-bahak kepada Malang Post saat ditemui di Dewan Kesenian Kota Malang, kemarin.
Arif pun pernah menjadi satu dari dua orang terpilih yang diundang Dubes Amerika untuk Indonesia untuk hadir sebagai peserta Workshop Dance Kontemporer yang diselenggarakan oleh Dance Ability, lembaga seni tari kontemporer Amerika yang namanya sudah mendunia, pada Mei 2013 lalu.
Prestasi Arif dimulai saat dia belajar breakdance tahun 2005. Saat itu, kondisi tubuhnya masih normal. Arif pun bisa belajar seperti B-Boy pada umumnya. Satu tahun lebih berlangsung, Arif mulai menguasai gerakan dasar. "Waktu itu masih sering latihan sama teman-teman," tandas pria yang juga tergabung dalam Komunitas Malang Breaker ini.
Seiring berjalannya waktu, Arif pun harus segera mencari pekerjaan. Diterimalah dia sebagai salah satu karyawan di pabrik plastik tersebut. Dia menjadi  pengawas mesin pengolah bahan dasar plastik. Jam kerjanya jatuh pada malam hari, hingga pagi.
Enam bulan Arif menjalani pekerjaannya seperti biasa. Hingga akhirnya ada satu mesin sedang dalam renovasi. Terdapat lubang yang diameternya tidak sampai satu meter. Lubang itu, merupakan tempat untuk teknisi mesin melihat kondisi mesin di dalamnya. Lubang tersebut, hanya ditutupi karung plastik.
"Ceritanya, waktu itu saya melihat keran pipa dekat mesin tersebut tidak tertutup rapat. Saya langsung ke sana untuk menutup keran pipa tersebut. Waktu datang, saya ingat kalau di situ ada lubang. Jadi, lubang saya langkahi. Tapi, waktu kembali saya lupa dan kaki saya masuk begitu saja," ujarnya mengisahkan.
Saat kakinya masuk ke dalam mesin, seketika itu juga hampir seluruh kaki kanannya terpotong alat berat yang mirip mixer itu. Arif pun harus tergeletak lemas melihat pendarahan tak ada hentinya.
"Waktu itu belum ada yang menolong. Teman-teman saya masih ada di bawah. Sekitar 3-4 menit kemudian, mereka baru melihat dan menolong. Saya langsung dibawa ke rumah sakit setempat," tandasnya. Dia harus kembali ke Malang dan menjalani masa pengobatan.
Setahun kemudian, tahun 2008, masa pengobatan Arif selesai. Tapi, kaki kanannya yang hanya tersisa tidak sampai 1/5 itu, menuntut dia untuk berjalan menggunakan tongkat jalan. Arif kembali beraktivitas, dibukalah Warnet di daerah rumahnya dengan modal dari pesangon pabrik plastik tempat dia bekerja.
Hingga pada suatu hari, Arif berkunjung melihat teman-temannya latihan breakdance. "Saat itu banyak yang kaget karena baru tahu. Kalau saya sih cuma ketawa-ketawa aja," ungkapnya. Melihat teman-temannya sedang bergoyang, semangat B-Boynya kembali muncul. "Saya ingin latihan lagi," kata Arif.
Keinginan besar untuk kembali menyalurkan hobinya, ditambah dengan dorongan teman-temannya, Arif mencoba untuk kembali belajar dengan kondisi tubuh seadanya. Dia berpikir, awalnya sulit untuk beradaptasi. Dia harus menyesuaikan diri dengan kondisi tubuhnya yang sekarang. Jelas berbeda, akunya, dengan kondisi hanya satu kaki, ada beberapa gerakan yang tidak bisa dilakukan.
"Ada gerakan yang hanya bisa dilakukan dengan dua kaki. Bila saya coba dan kesulitan, saya cari gerakan lainnya yang bisa saya lakukan," ujarnya. Menurutnya, B-Boy tidak bisa memaksakan diri agar mampu melakukan banyak gerakan.
Seorang B-Boy hanya perlu menciptakan karakter dan style mereka sendiri. Dengan begitu, kreativitas akan mengalir sesuai karakternya. Barulah orang itu dikatakan B-Boy sejati. Arif sendiri, mengaku telah menemukan karakternya, dengan kreasi gerakan ciptaannya sendiri. "Ya, disesuaikan dengan kaki saya," jelasnya sambil tertawa kecil.
Inspirasinya muncul ketika menonton video di youtube. Hourth, B-Boy berkaki satu asal Perancis. Juga Tommy Lee Gunz, B-Boy asal Amerika yang juga memiliki keterbatasan fisik. "Sekarang mereka jadi inspirator saya. Toh, mereka saja bisa, kenapa saya tidak?," serunya.
Breakdance telah menjadi bagian dari dirinya. Latihan rutin dia lakukan tiap minggu. Berbagai kompetisi telah dia lalui, mulai dari tingkat regional, sampai nasional. Ada keinginan untuk terus mengembangkan bakatnya. Di usia muda, dia ingin berpikir maju, bagaimana caranya menemukan gerakan demi gerakan baru dengan kondisi tubuhnya itu.
"Sekarang ada B-Boy satu lagi di Tasikmalaya yang juga punya keterbatasan fisik, malah dia tidak punya kaki sama sekali. Tapi saya belum pernah ketemu dengan dia," tandasnya. Tidak menutup kemungkinan, lanjutnya, ada B-Boy lain tapi belum bergabung dengan wadah.
Pria ini memang tidak bisa diam. Sekarang, dia tidak hanya menggeluti usaha dan hobinya. Dia juga menjadi penggiat komunitas Akartuli, wadah tempat pemuda-pemudi tuna rungu berekspresi. Di sana, Arif mengajarkan puluhan pemuda ini menari. Mulai dari tari tradisional sampai kontemporer.
Arif juga sering menyalurkan hobinya di bidang fotografi. Karyanya juga pernah dipamerkan dalam acara yang diselenggarakan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Malang. Hebatnya, lagi, pria humoris ini rupanya juga senang bersepeda. Tidak tanggung-tanggung, sepeda yang digunakannya itu sepeda fixie. Sesekali dia gunakan sepeda fixie tanpa rem. "Ya takut juga awalnya," ujarnya.
Bagi Arif, hidup itu harus semangat dan optimis. Sekali ada niat, dia yakin manusia bisa berkembang. Terbukti, Arif kini menjadi B-Boy idola. Setiap kali dia bergabung dengan B-Boy atau seniman lainnya, justru kondisi tubuh itulah yang membuat dia mudah dikenal dan mengenal orang lain.
"Memang banyak (orang dengan kekurangan, red) yang minder. Tidak usah minder. Asal ada kemauan, apapun bisa dilakukan. Kondisi fisik tidak jadi persoalan," pesannya kepada para penyandang cacat. Di luar itu semua, melihat Arif, memberikan pelajaran yang sangat mendalam, bagaimana menjalani hidup dengan penuh rasa syukur dan semangat untuk maju. (Muhamad Erza Wansyah/han)