Tujuh Kali Tampil Internasional, Lulus Kuliah Berkarier di Jakarta

FOTO BERSAMA: Dio Annisa Hapsari (tiga dari kanan) foto bersama dengan Kontingen dari Jawa Timur.

Lahir dari keluarga musisi dan seniman membuat Dio Annisa Hapsari terus terpacu dan bersemangat dalam menggapai cita-cita dalam dunia musik. Mahasiswa Ilmu Komunikasi FISIP Universitas Brawijaya ini beberapa waktu lalu mempersembahkan medali emas bagi Provinsi Jawa Timur, dalam Pekan Seni Mahasiswa Nasional (Peksiminas) di Palangkaraya, Kalimantan Tengah. Berkat sumbangan medali emas tersebut, Jawa Timur memperoleh juara umum dalam Peksiminas XII.

Sembari mengobrol bersama temannya di lobi gedung FISIP UB, gadis cantik berambut panjang ini menerima wawancara Malang Post. Ia dengan ramah menceritakan seputar karirnya dan dunia tarik suara.
Menurutnya, prestasi yang diraih dalam Peksiminas bukan kali pertama. Ada beberapa prestasi yang telah digapai sebelumnya. Di antaranya, juara 1 dalam ASEAN Song Festival di Filipina tahun 2009, juara tiga di Asean Golden Melodies di Vietnam 2012. Bahkan, ia telah tampil 7 kali dalam pentas internasional sejauh ini. Dari semua performance tersebut, menurut Dio, yang paling berkesan, yaitu pada saat dirinya diundang tampil dalam pagelaran musik di Australia, ia diminta membawakan lagu-lagu khas daerah. ”Saya bawakan beberapa lagu dari Batak, lengkap dengan pakaian adat,”ujarnya.
Anak sulung pasangan Purwadi dan Okiana Ratih WD ini menyebut, ia memang baru pertama kali tampil dalam Peksiminas. Ada kenangan tersendiri baginya saat tampil mewakili Provinsi Jawa Timur dalam pentas nasional. Lawan-lawannya banyak yang jebolan dari Akademi Fantasi Indosiar (AFI) dan Mamamia, sehingga perang bintang terjadi dalam Peksiminas yang berlangsung di Palangkaraya, Kalimantan Tengah.
Saat tampil di Peksiminas, Dio membawakan dua lagu, Karena Ku Sanggup dari Agnez Mo sebagai lagu wajib dan Sampai Habis Airmataku dari Novita Dewi  sebagai lagu pilihan.  Sebelum melenggang dan menjadi salah satu wakil Jawa Timur, mahasiswa yang sibuk mengurus Tugas Akhir (TA) ini, terlebih dahulu mengikuti seleksi di tingkat kampus. Ada 20 penyanyi lain yang bersaing dengannya dan akhirnya Dio keluar sebagai pemenang. Sama halnya di tingkat Provinsi Jawa Timur, ia kembali dihadapkan dengan persaingan ketat dengan wakil dari setiap Perguruan Tinggi di Jawa Timur. Tantangan semakin berat sebab selama ini Jatim belum pernah menjadi juara untuk kategori penyanyi pop. ”di Jatim, saya terpilih sebagai terbaik, dan berhak tampil di Peksiminas,”ungkapnya.
Dio mengungkapkan, bakat menyanyinya sudah muncul sejak kecil, tapi ia baru ikut les dan lomba saat duduk di bangku kelas 2 SMA. Kala itu, pertama kali ikut lomba di pusat perbelanjaan Kota Malang, Dio masuk kategori juara harapan. Namun, lama kelamaan ia terbiasa dan sering ikut lomba bernyanyi, hingga akhirnya berhasil keluar sebagai yang terbaik.
Dia mengakui, kepiawaiannya dalam olah vokal ini didapat dari keluarga besarnya. ”Papa pintar main musik, mama suka nyanyi, eyang penari, dan buyut penyanyi keroncong. Buyut saya satu angkatan dengan Titik Puspa, tapi dari empat saudara cuma saya yang menggeluti dunia musik,”akunya kepada Malang post. Sambil menyebut ada sekitar 40 piala dan penghargaan yang ia terima sejak SMA.
Alumnus SMAN 10 Malang ini menerangkan, tidak ada persiapan khusus saat tampil di tingkat nasional. Yang penting adalah memperbanyak jam terbang, sehingga ia bisa belajar kelebihan dari penyanyi-penyanyi lain yang ia temui di panggung. ”Ilmu apa yang mereka miliki saya serap dan saya jadikan sebagai acuan untuk tampil lebih baik,” terangnya.
Awalnya, Dio memang suka membawakan lagu-lagu yang susah dan tinggi. Namun, lambat laun lagu yang dibawakannya disesuaikan dengan selera pasar. Sehingga ia memilih membawakan lagu pop yang biasa, tapi dikemas dan dibawakan dengan bagus. Tidak jarang ia tampil dengan lagu-lagu daerah, seperti lagu dari Batak, Alusiaw.   
Berbagai macam lagu pernah ia bawakan di atas panggung. Tapi selama dalam tarik suara, lagu yang paling berkesan adalah lagu Habis Airmataku yang diorbitkan oleh Novita Dewi. ”Selain saya menghayati betul, persiapan untuk membawakan lagu ini hanya dua hari. Makanya saya berlatih sungguh-sungguh,”paparnya.
Selama bergelut di bidang olah vokal, Dio mendapat support luar biasa dari keluarga besarnya, terutama dari mama dan eyang. Mereka menjadi kritikus tentang kekurangan saat ia menyanyikan sebuah lagu, sampai dengan memilihkan busana yang harus ia kenakan ketika tampil.
Dia menambahkan, pasca lulus nanti ia bakal mengadu nasib di Jakarta. Tidak sedikit yang nawarin rekaman kepadanya, mulai dari keroncong hingga dangdut. Bahkan, salah satu juri tetap Peksiminas, James F. Sundah siap membuatkan lagu buat perwakilan dari Jawa Timur, yang tidak lain adalah dirinya. Dio juga diminta untuk menjadi salah satu juri dalam setiap ajang festival dan lomba menyanyi di Jawa Timur. ”Namun, mama tidak memperbolehkan saya ke Jakarta sebelum studi saya selesai dan bisa lulus. Mungkin tahun depan saya baru ke Jakarta,”tambahnya. (miski/han)