Masuk Nominasi Menuju Penghargaan Menuju Indonesia Hijau

Saptoyo, Puluhan Tahun Lakukan Konservasi Mangrove di Sendang Biru
Kiprah Saptoyo dalam hal pelestarian lingkungan pantai selatan di Kabupaten Malang, tidak perlu diragukan lagi. Ketua Pokmaswas Gatra Olah Alam Lestari (Goal) di Pantai Sendang Biru Kecamatan Sumbermanjing Wetan ini sudah puluhan tahun melakukan konservasi mangrove untuk meminimalisir dari bahaya abrasi.
Panas matahari menyengat di Pantai Sendang Biru siang itu, tidak menyurutkan langkah nelayan maupun masyarakat sekitar untuk menjalankan aktivitasnya. Termasuk  Saptoyo, Ketua Pokmaswas Goal. Memakai baju motif batik dengan celana hitam panjang, pria berusia 46 tahun tersebut tengah asyik mendayung perahu kecilnya.
Sejenak dia menepikan perahu kecil itu ke pinggiran, begitu mengetahui kedatangan Malang Post. “Saya bersama anggota Pokmaswas Goal lain baru saja mengecek kondisi mangrove yang ada di pesisir pantai ini. Kami rutin melakukan pengecekan tiap hari, menggunakan perahu kecil ini,” ucap pria yang memulai konservasi di usia 19 tahun ini ramah.
Dia mempersilakan Malang Post untuk sejenak beristirahat di sebuah pondok yang dikelilingi rimbunnya pohon mangrove. Bapak dua anak ini menjelaskan, Pokmaswas yang dibentuknya memang baru berumur dua tahun. Namun, sejatinya dia telah puluhan tahun melakukan konservasi dan melindungi tanaman magrove.
Apalagi Saptoyo merupakan penduduk asli Dusun Sendang Biru Desa Tambakrejo Kecamatan Sumbermanjing Wetan. Maka sudah kewajibannya untuk melindungi tanaman Mangrove. “Luas lahan mangrove di tempat ini, tiap tahunnya terus berkurang. Tahun 1997, luasnya 120 hektar dan sekarang tinggal 81 hektar saja,” terangnya.
Karena luas lahan mangrove terus menurun, maka timbul idenya untuk mengajak masyarakat sekitar untuk melakukan konservasi. Namun, diakuinya itu tidak mudah. Apalagi masyarakat dan nelayan mempunyai tujuan berbeda-beda dalam hal pemanfaatan alam di pesisir pantai.
“Dulunya , saya bersama dua sampai lima orang masyarakat dan nelayan melakukan konservasi ini. Namun, tahun 2012 lalu, membentuk Pokmaswas atas arahan dari Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Kabupaten Malang,” bebernya.
Melalui Pokmaswas itu, pihaknya melakukan sosialisasi kepada nelaya dan masyarakat pentingnya konservasi. Meski masyarakat belum antusias, setidaknya sudah bertambah orang yang melakukan hal sama dengan dirinya. Menurutnya, keberadaan mangrove ini sangat penting. Selain untuk terhindar dari abrasi terdapat banyak manfaat lainnya. Salah satunya pemulihan ekosistem yang berada di pesisir laut pantai selatan Kabupaten Malang.  
“Kalau ekosistem laut terjaga, maka nelayan tidak perlu jauh-jauh mencari ikan di tengah lautan lepas,” imbuh Saptoyo. Atas kerja dia bersama Pokmaswas Goal itu, lambat laun seiring berjalannya waktu, luas lahan mangrove di Kabupaten Malang terus bertambah.
Berkat kerja kerasnya itu juga, Kabupaten Malang masuk nominasi penghargaan Menuju Indonesia Hijau (MIH) melalui konservasi pesisir Pantai Sendang Biru. Impiannya saat ini yakni melakukan pengembangan hutan Mangrove Pantai Sendang Biru, tanpa merusak keindahan alamnya.
“Saya sudah mempunyai rencana akan menyulalp kawasan Hutan Mangrove di Pantai Sendang Biru ini sebagai kawasan wisata jogging track,” terangnya. Melalui impiannya itu, dia berharap nantinya lokasi tersebut akan semakin menyejahterakan anggota Pokmaswas Goal, nelayan dan utamanya masyarakat sekitar.
Keinginan itu mendapatkan tanggapan positif Pemkab melalui DKP Kabupaten Malang. “Kami akan mengalokasikan dana Pengembangan Desa Pesisir Tangguh (PDPT) untuk membantu pengembangan Pokmaswas Goal tersebut,” ucap Kepala DKP Kabupaten Malang Ir Wahyu Hidayat di tempat sama.
Namun, dia menekankan kiprah dari Saptoyo bersama Pokmaswas Goal tersebut patut ditiru. Karena jarang ada nelayan yang melakukan konservasi maupun peduli terhadap lingkungan sekitar. Dengan kiprah Saptoyo bersama Pokmaswas tersebut, dia percaya akan semakin menjaga eko sistem perairan selatan di Kabupaten Malang. (binar gumilang/han)