Indahnya Batik Arca Prajnaparamita dan Dewi Parwati

Kasi Kesenian Disbudpar Kabupaten Malang Bambang Supomo dan kain batik yang terinspirasi dari arca Dewi Parwati dari Candi Bocok Kasembon. Relief di Candi Kidal yang bisa menjadi inspirasi batik.

Malang Miliki Akar Batik yang Kuat dari Singosari dan Majapahit
Bersamaan dengan hari batik sedunia 2 Oktober 2014, kemarin, tim Ekspedisi Samala juga mengupas motif batik yang diambil dari arca serta relief candi-candi di Malang Raya. Batik Malangan sebenarnya kaya motif, karena memiliki sumber inspirasi yang amat banyak untuk memperkaya khazanah batik lokal.
Tangan Bambang Supomo (55 tahun) hati-hati membuka bungkusan berwarna coklat. Setelah ditarik perlahan, terlihat selembar kain batik yang masih terbungkus plastik bening. Di atas plastik terdapat label harga Rp 650 ribu serta cap bertulis  Tjokro Suharto Jogjakarta.
Begitu plastik dilepas, kain batik yang masih terlipat itu langsung dibuka. Lantas didekatkan kepada Malang Post. Masih bau toko, alias masih gress. Warna coklat elegannya juga sangat mencolok. Menurut Bambang, kain batik yang ditunjukkan memakai motif asli Malangan.
“Memang dikerjakan di Tjokro Suharto, namun inspirasi dan desainnya murni asli Malang, dari kami,” terangnya.
Ia mengatakan, motif kain batik itu mengambil dari arca Dewi Parwati di Candi Bocok Kasembon. Dari candi peninggalan Majapahit itu, ia mendapatkan inspirasi. Maka di kain batik yang ia bawa, muncul bunga teratai, cupu manik astagina, cemeti dan trisula.
“Kain batik ini diberi nama ima krendo, ini rencananya akan dipakai dalam Pisowanan Agung Bupati Malang 2014,” tegas pria yang memulai karir PNS sebagai guru SD itu.
Sebelum diajukan ke bupati, terlebih dulu, Bambang akan meminta pendapat para ahli. Termasuk arkeolog dari Universitas Negeri Malang Dwi Cahyono. Cara itu ditempuh agar batiknya ikut menjalani tahapan uji ahli dan uji publik.
“Ini adalah kain batik kedua yang kami hasilkan, ini adalah contoh, cuma satu lembar, jika disetujui akan diperbanyak,” jelasnya.
Kain itu nantinya bakal dikenakan Bupati Malang Rendra Kresna dan para pejabat Pemkab sebagai dodot atau kain panjang. Termasuk juga dikenakan istri Bupati dan para istri pejabat. Pada pisowanan agung tahun 2013 lalu, Bambang juga berhasil menciptakan kain batik motif sidoluhur kasar.
“Kita ambil inspirasi dari Candi Bocok karena selama ini belum banyak dikenal, malah saya juga akan ambil dari Candi Jawar di Ampelgading juga,” tandasnya.
Kiprah Bambang Supomo tersebut, mendapat perhatian dari Arkeolog Universitas Negeri Malang Dwi Cahyono. Menurut Dwi, harusnya, pembatik di Malang menirukan langkah yang diambil Bambang. Mengambil motif batik dari candi, contohnya ragam hias Candi Kidal yang kaya sekali.
“Ketika bicara batik, maka hal itu adalah ragam hias pada tekstil atau lembar kain, ragam hias candi Kidal misalnya, bisa jadi unsur ornamentik, jika dikreasikan jadi batik khas Malang dan tidak mengada-ada karena memiliki akar tradisi yang panjang,” papar Dwi.
Dalam istilah kuno, belum dijumpati kata motif batik. Yang muncul dalam bahasa Jawa kuno adalah “hyas” jika diartikan sebagai hias. Ini bisa diterjemahkan sebagai motif. Ia menjelaskan, tradisi batik juga dijumpai pada zaman Singosari hingga Majapahit. Malah, dalam sumber data tertulis (prasasti) dijumpai kata atau terminologi ken. Ken adalah bahasa Jawa kuno yang berarti kain. Menjadi petunjuk bahwa kain sebagai busana, sudah jadi ken (kain) merupakan istilah yg disebut dalam sumber data tertulis atau prasasti, misal prasasti Balitung.
“Ken yang disebut dalam prasasti umumnya kain panjang sebagai penutup tubuh bagian bawah, dikenal jarit atau jarik atau digunakan untuk dodot terutama perempuan,” urainya.
Yang menarik dari prasasti, ternyata konteks penyebutan ken saat itu adalah sebagai imbalan. Itu diberikan kepada orang-orang yang hadir sebagai saksi dalam penetapan sima (daerah perdikan). Dalam penetapan itu sejumlah orang diundang, dan sebagai balas jasa diberi hadiah berupa kain.
“Dari ken atau kain, bisa dilihat status sosial tinggi seseorang, melalui hyas atau motif batiknya. Ternyata motif batik tertentu yang diberikan kepada seorang dari lapisan sosial tinggi berbeda dengan yang status sosial lebih rendah,” terangnya.
Hal itu ternyata juga berlaku hingga sekarang. Ada motif batik tertentu tak boleh dipakai sembarang orang. Atau hanya dipakai pada fungsi tertentu misal penobatan. “Ragam motif batik bukan sekadar kekayaan motif tapi juga strata. Misal motif gringsing, ini motif khusus di Bali, bagi pemangku adat di sana maka motif Gringsing untuk fungsi sakral dan strata menengah ke atas,” jelasnya.
Selain dari relief atau epigrafi, batik juga terlihat dari sisi artefak. Terutama pada batik yang tampil pada arca laki-laki dan perempuan. Di seni arca, batik tampil mencolok, khususnya di arca besar, dipahat detail. Termasuk masa Singosari dan Majapahit.
Hal itu bisa dilihat pada arca di museum nasional dari Candi Jago, contohnya arca berkuti, hayagriwa, sudana kumara. Yang paling halus terlihat dari motif batik yang dikenakan arca Prajnaparamita dari Candi Singosari. Arca tersebut sempat berada di Leiden Belanda, namun kini sudah ada di Museum Nasional Jakarta.
“Motifnya jelas sekali, ini memberi petunjuk kita bahwa batik sebagai ragam hias, tak hanya diberitakan di prasasti tapi juga sumber data artefak tua, dalam hal ini arca atau sumber data econografi,” katanya.
Sumber data lain adalah sumber data etnografis dalam bentuk kain batik usia tua. Perjalanan batik sangat panjang, setidaknya hadir di zaman Hindu Buddha, seperti diulas Van Der Hoop yang menulis buku tentang ragam hias (sier motieven) Indonesia.
Hoop mengatakan, embrio batik sudah ada sejak masa prasejarah, ini dibenarkan oleh JL Brandes. Brandes yang bahkan mengemukannya dalam karya tien punten (10 mutiara) Brandes. Dalam teorinya, Brandes mengatakan sebelum nusantara berkenalan dengan budaya India pada awal tarikh masehi, nusantara memiliki 10 mutiara budaya salah satunya batik.
Menurut Dwi, sesuai pendapat Brandes dan Hoop maka embrio batik sudah muncul sejak pra pengaruh India. Kemudian pengaruh semakin jelas pada masa Hindu Buddha (kerajaan). Batik sudah semakin kompleks dan dikaitkan strata atau sistem sosial dan fungsinya.
”Kalau kita lihat batik di Indonesia dari ragam hiasnya ada unsur atau inspirasi diambil dari unsur lingkungan sekitar. Malang sebagai pusat peradaban dengan keraton yang hadir dari abad 10 - 16 semestinya punya akar batik yang kuat,” tandasnya.(ary/han)