Bahan Mentah Rp 500, Jadi Tas Dijual Rp 80 Ribu

Eichhornia crassipes atau yang lebih dikenal enceng gondok, bagi sebagian orang tidak ubahnya sebagai tumbuhan pengganggu. Namun siapa sangka anggapan negatif dari tumbuhan air mengapung itu, mampu ditepis oleh Tanti Indrawati (25) warga Jalan Muris RT 01 RW 01 Dusun Rabon, Desa Kaumrejo, Kecamatan Ngantang. Berkat kemampuannya dalam mengolah enceng gondok, menjadikan tumbuhan itu memiliki nilai jual tinggi, bahkan bisa menembus pasar Bali.
Tas dan sandal BVS (Breny Vanes) Ngantang Collection. Begitulah nama produk yang dibuat dan dipasarkan oleh ibu dua anak itu. Dengan bahan dasar yang keseluruhannya dari enceng gondok, Iin sapaan akrab Tanti Indrawati, mampu memanfaatkan tumbuhan melimpah yang banyak ditemui di Bendungan Selorejo-Ngantang.
Kali pertama menggeluti produk enceng gondok, Iin memanfaat pelatihan gratis dari perkumpulan mahasiswa se-Malang Raya yang dilakukan di balai Desa Kaumrejo. Berkat keseriusannya dalam mengikuti pelatihan, dalam tempo kurang dari setahun, istri dari Ketua RT 01 Dusun Rabon itu, akhirnya mampu membuat tas yang menjadi praktek awalnya dalam pelatihan.
Dari cikal bakal itulah, Iin kemudian meneruskan sendiri hasil keterampilannya dengan mencari bahan enceng gondok di Bendungan Selorejo. Dengan memanfaatkan enceng gondok yang diperkirakan bisa memiliki panjang 30 cm sampai 35 cm saat dikeringkan, perempuan itu pun terus mengembangkan inovasinya. Dari awalnya hanya memproduksi tas, kini Iin mulai merambah produk sandal dan dompet.
Untuk mendapatkan enceng gondok, warga sekitar juga ikut dilibatkan dengan membelinya seharga Rp 500  per kilogram. Hasilnya, warga bersemangat dan responsif karena mendapatkan tambahan pemasukan.
Mengenai proses pembuatan, Iin mengaku sangatlah mudah. Dari bahan awal yang masih basah, enceng gondok lalu dikeringkan sampai sekitar dua minggu. Begitu pengeringan selesai, tumbuhan kemudian diratakan atau dipenyet dengan cara manual. Setelah proses itu selesai, barulah masuk kepada proses pendinginan dengan cara ditaruh di tempat teduh agar enceng gondok menjadi lentur. Setelah lentur, enceng gondok dianyam sesuai pesanan dan desain yang dibuat sebelumnya.
Menurut Iin, rata-rata dalam setiap pembuatan satu produk, ia membutuhkan antara 2 kg sampai 3 kg enceng gondok setelah dilakukan pengeringan. Dalam pembuatan tas misalnya, butuh enceng gondok kering sekitar 3 kg. Sementara membuat sandal dan dompet, hanya memerlukan sekitar 2 kg. Biasanya, untuk membuat tas pesanan kecil, ia mampu menghasilkan 3 hasil kerajinan dalam sehari. Sedangkan untuk sandal, mampu membuat sampai lima pasang sehari.
Untuk mempercantik produk, seperti tas harus ditambah dengan aksesoris tambahan. Sementara nilai jualnya, mulai Rp 25 ribu sampai Rp 80 ribu. “Pembuatan sandal relatif mudah dibandingkan yang lain,” katanya. Saat ini, Iin juga membedakan produknya menjadi dua jenis, yakni dalam ruangan dan luar ruangan.
“Bahannya sama, tapi untuk luar ruangan kami desain lebih kuat,” pungkasnya. (sigit rokhmad/han)