Mengenang KH Abdurrochim Syadzily, Pimpinan Majelis Riyadlul Jannah

Kabar duka menyelimuti seluruh jamaah Riyadlul Jannah, se Malang Raya. Kemarin, pukul 05.30 Wib, pimpinan/pengasuh majelis tersebut KH Abdurrochim Syadzily dipanggil sang khalik. Gus Rochim, panggilan akrabnya, meninggal di ICU Persada Hospital Araya, di usia 51 tahun karena sakit penyumbatan pembuluh darah. Banyak hal baik yang ditinggalkan Gus Rochim, terutama kepada para jamaahnya. Lalu bagaimana para jamaah mengenang bapak lima anak ini?
Kenangan itu salah satunya diceritakan oleh Imron Rosyadi Syarif. Pria yang didapuk menjadi koordinator lapangan bagian khusus Majelis Taklim Riyadlul Jannah ini menceritakan, selama mengenal Gus Rochim, ia menjadikannya sebagai sosok panutan. Di matanya, Gus Rochim merupakan orang yang sangat sabar, bijaksana dan tidak pernah menyinggung orang lain. “Bahkan, jika kita salah, beliau selalu menegur dengan bahasa yang halus dan santun. Sehingga tegurannya pun mengena, dan yang ditegur, sadar dengan kesalahan yang diperbuat, tanpa ada rasa tersinggung,’’ urainya.
Salah satu teguran yang kerap dilontarkan oleh suami Hj Unik Muniyah Zahroh ini adalah larangan merokok bagi jamaah. Menurut Rosyadi, jamaah Riyadlul Jannah haram menghisap rokok. “Meskipun dilarang, tapi masih banyak jamaah yang merokok, dan ketahuan. Beliau tetap memperingatkan dengan bahasa sangat halus,’’ kata Rosyadi.
Selain itu, Rosyadi mengatakan jika Gus Rochim merupakan sosok yang tidak pernah marah. Dia juga tidak pernah membeda-bedakan orang maupun jamaah. Selama ini, jika ada orang yang ingin bertemu diterimanya dengan baik, bahkan tidak hanya yang kenal, tamu yang tidak dikenalnya pun diterima dengan baik. “Begitulah beliau. Menurutnya, di hadapan Allah SWT semua memiliki derajat yang sama, sehingga tidak boleh dibeda-bedakan,’’ orainya.
Sementara yang membuat Rosyadi paling berkesan adalah, kebiasaan Gus Rochim dan istrinya Hj Unik Muniyah Zahroh, datang ke rumah pengurus tanpa pemberitahuan sebelumnya. “Itu kebiasaan beliau sebagai pimpinan Majelis, dia tidak pernah menunjukkan sikap arogan. Bahkan, baliau juga kerap datang ke rumah kami untuk berkunjung,’’ katanya.
Sementara Samsul Arif, salah satu santri Pondok Pesantren Riyadlul Jannah menceritakan sosok Gus Rochim yang tidak pernah mengeluh sakit. Dia mengatakan, selama ini Gus Rochim sangat aktif melakukan kegiatan safari maulid wat ta'lim Riyadlul Jannah. Hampir setiap malam ahad, Gus Rochim hadir dalam kegiatan tersebut sesuai jadwal yang dibuat. “Beliau orang yang hebat, tidak pernah sakit, dia tidak pernah mengeluh. Yang ada dalam benaknya adalah melakukan safari maulid. Bahkan setiap hari dia bisa mendatangi 4-5 majelis,’’ katanya.
Senin (15/9) lalu untuk kali pertamanya Gus Rochim drop. Tiba-tiba badannya merasa lemas. Keluarga dan para pengurus Riyadlul Jannah pun membawa Gus Rochim ke RS Lavalette. Namun karena saat itu ruang di RS Lavalette penuh, Gus Rochim dibawa ke Persada Hospital. “Sabtu malam sebelum beliau basuk rumah sakit masih hadir di kegiatan safari maulid wat ta'lim Riyadlul Jannah, Gedangan, dan minggu malamnya masih hadir dalam kegiatan majelis di Karangploso,’’ tambah Samsul.
Saat di Persada Hospital, Gus Rochim sempat menolak perintah dokter untuk rawat inap. Namun begitu, karena didesak Gus Rochim pun akhirnya menurut. Awalnya Gus Rochim dirawat di paviliun, namun karena kondisinya terus drop, dia dirawat di ICU. “Kondisinya memang tidak menentu, bahkan sempat membaik dan berbicara lancar. Tapi kemudian drop lagi,’’ kata Samsul, yang mengatakan saat Gus Rochim menjalani perawatan, dia bolak-balik Junrejo-Araya.
Bahkan, Jumat (3/10) sebelum meninggal, Gus Rochim menunjukkan tanda-tanda membaik. Kepada para jamaah, yang ada di ruangan Gus Rochim berpesan agar pengajian Riyadlul Jannah terus berjalan. “Apapun yang terjadi, pengajian Riyadlul Jannah harus selalu berjalan, untuk mencapai istiqomah. Beliau juga meminta maaf kepada kyai, jamaah dan habaib, karena tidak bisa datang ke majelis beberapa kali,’’ tambahnya.
Kondisi membaik Gus Rochim ini ditunjukkan hingga pukul 04.00. Saat itu Gus Rochim yang menggunakan selang di mulut, masih menunaikan salat Subuh. Tapi begitu, setelah salat ia kembali memejamkan mata, hingga kemudian meninggal.
“Beliau merupakan orang yang hebat, saya ikut beliau bertahun-tahun lalu. Mulai dari awal hanya mengenalkan Riyadlul Jannah dari kampung ke kampung. Dari awalnya jamaah berjumlah 50 orang, kemudian meningkat menjadi 100 orang, 1000 dan sekarang menjadi 50 ribu jamaah,’’ katanya. Terkait dengan kegiatan majelis, Samsul mengatakan tetap berjalan. Bahkan, selama Gus Rochim dalam perawatan, kegiatan tetap dilaksanakan. Kegiatan majelis seperti safari maulid wat ta'lim Riyadlul Jannah dipimpin oleh Habib Abdurrohman Bin Hasyim Barokbah dibantu oleh anak pertama Gus Rochim yakni Rofiqul Hamid. Termasuk kemarin malam, kegiatan safari maulid digelar di Ponpes Modern Ar Rifai, Ketawang Gede, Gondanglegi.
“Tidak ada libur, terus berjalan. Itu pesan beliau yang disampaikan berulang-ulang,’’ urainya. Samsul juga mengatakan, ada keinginan Gus Rochim yang sampai saat ini belum terlaksana. Yaitu membuat Pondok Pesantren Plus Riyadlul Jannah. Pondok Pesantren Plus tersebut di dalamnya ada sekolah setingkat SD, SMP, dan SMA. Dengan metode pembelajaran salaf. “Itu keinginannya, saat ini proses pembebasan tanah masih setengah,’’tandasnya yang berjanji dengan pengurus Riyadlul Jannah lain akan menyelesaikan pembangunan Ponpes Plus ini.
Sementara Ridwan, salah satu jamaah mengaku sangat kagum dengan sosok anak dari Ahmad Sadzily dan Siti Aminah ini. Sekalipun menjadi kyai dengan nama yang besar, beliau tidak pernah sombong. Ridwan mengatakan meskipun sabar, tapi Gus Rochim memiliki sikap dan sifat yang tegas. Perkataan Gus Rochim sama sekali tidak boleh dibantah. “Waktu itu gunung Kelud meletus, saya suruh melepas terop, tapi karena sibuk ke Kelud, saya mengabaikan perintahnya. Hingga tiga kali, dan yang terjadi terop yang terpasang itu roboh. Itu salah satu contoh kecil,’’ urainya.
Selain terop, Ridwan menceritakan dirinya juga bisa berhenti merokok setelah bergabung di majelis Riyadlul Jannah. Bukan karena larangan dari Gus Rochim, tapi karena dia sadar, jika merokok sangat tidak baik untuk kesehatan maupun kesejahteraan dirinya.
Tak heran jika Rosyadi, Samsul dan Ridwan merasa kehilangan Gus Rochim. Menurut ketiganya, Gus Rochim tidak hanya milik keluarga, tapi milik seluruh jamaah. Sehingga, saat kepergiannya, seluruh jamaah pun merasa sangat kehilangan.
Rasa kehilangan ketiga jamaah ini juga dirasakan ribuan jamaah yang lain. Ribuan orang datang saat jenazah Gus Rochim disemayamkan di rumah duka di Desa Pendem, Kecamatan Junrejo, Batu. Banyak tokoh penting, di antaranya Wali Kota Malang H Mochammad Anton, Wali Kota Batu H Eddy Rumpoko, dan masih banyak lagi. Selain jamaah, para habib juga berdatangan, di antarannya Habib Abdurrohman, Karangploso, Habib Abdul Rochman Al Atos, Pakis, Habib Abdullah bin Fakih, Kasin, Habib Jamal, Habib Jafar Batu, dan masih banyak lagi.
Jenazah Gus Rochim dimakamkan di pemakaman keluarga, yang berada di belakang musala Ar Roudloh. (ira ravika/han)