Memilih Laut, Tertantang Saat Eksplorasi Pulau Terluar

ABDI NEGARA: Anita Maya dan Elok Rahayu Kurniati mengabdikan diri pada bahari demi kebanggaan negeri.

Para wanita ini memilih jalan berbeda di medan pengabdian bangsa. Mereka masuk  dunia bahari dengan menjadi prajurit  wanita TNI AL (Kowal). Di kesatuan bersemboyan Jalesveva Jayamahe itu, Serka Far/W Anita Maya dan Sertu Far/W Elok Rahayu Kurniati pernah mendatangi pulau-pulau terluar Indonesia. Tak hanya itu, dua anggota Lanal Malang ini juga multi talenta.

Berwajah cantik, rambut sebahu, Anita Maya duduk tegap di salah satu ruangan di Markas Lanal Malang. Berseragam dinas lengkap dengan tanda siku kuning di lengan baju dan brevet, ia tetap tersenyum ramah. Di balik senyumnya itu, Maya adalah seorang asisten apoteker, penyelam, karateka dan juga MC.
Maya sudah 11 tahun dinas militer di TNI AL. Baru sebulan ini mulai bertugas di Balai Kesehatan  Lanal Malang setelah sebelumnya mengabdi  di RSAL Dr Ramelan dan Bagian Personil Komando Armada Kawasan Timur di Surabaya. Sebelumnya, ia bertugas di Manado Sulawesi Utara.
Manado merupakan tempat penugasan pertama Maya setelah lulus pendidikan TNI AL di Surabaya. Enam tahun mengemban tugas di Lantamal VIII Manado, Maya mulai bersentuhan dengan pulau-pulau luar. Kendati harus ditempatkan di utara Indonesia, alumnus SMF Sekolah Kesehatan TNI AL Surabaya ini tetap bersemangat. Ia sadar bahwa penempatan di luar pulau merupakan hal yang lumrah bagi seorang prajurit.
Saat bakti TNI di Manado pada tahun 2009, wanita dengan tinggi badan 160 cm ini menapak pulau-pulau terluar di belahan utara Indonesia. Menggunakan KRI Dr Soeharso, wanita asal Sidoarjo ini  bersama tim mendatangi pulau Kawaluso, pulau Marore, pulau Marampit dan pulau Miangas yang terletak paling utara Indonesia. Pulau yang dikunjungi untuk misi pelayanan kesehatan tersebut berbatasan dengan perairan Filipina.
“Di sana kami bertugas untuk operasi bibir sumbing, poli umum dan layanan kesehatan lain,” kata Maya.
Saat menjalankan tugas untuk  misi kesehatan itulah, wanita 29 tahun ini semakin menikmati setiap tantangan yang ada. Salah satu tantangannya, kapal yang ditumpangi  terpaksa melego jangkar di laut lantaran terbatasnya pelabuhan. Mereka lalu diangkut menggunakan helikopter yang take off dari geladak kapal menuju pulau Miangas. Tak hanya itu saja, berjalan kaki di medan yang sulit pun pernah dilakoninya.
Kendala yang dihadapi tak hanya itu. Hanya sedikit warga di pulau terluar yang menguasai Bahasa Indonesia. Selebihnya mereka menggunakan bahasa daerah, bahkan bahasa Tagalog, yang merupakan bahasa Filipina.
Maya tak merasa lelah di tengah tantangan tugasnya. Apalagi pulau-pulau terluar memiliki pantai yang menawan. “Ya pantai yang bagus bisa menghibur,” katanya.
Menjadi  prajurit matra laut, Maya punya kisah menarik dengan laut. Ia pernah terombang ambing di laut selama enam jam. Ceritanya, ia dan teman-temannya berlayar menggunakan kapal kayu ke pulau Tanggulandang, di Sulawesi Utara. Saat itu, Maya akan bertugas  menjadi MC dalam upacara Hasta Pora seorang temannya. Hasta pora merupakan upacara militer  pernikahan bintara TNI AL.
“Seharusnya waktu berlayar hanya dua jam. Tapi nyatanya enam jam sejak angkat jangkar dari Bitung,” kenangnya. Setelah diteliti, ternyata hanya dua mesin dari empat mesin kapal penumpang umum itu  yang berfungsi. “Setelah turun dari kapal itu, kami harus jalan kaki naik gunung,” ucapnya sembari tertawa.
Kendati wanita, Maya adalah sosok prajurit tangguh. Ia pernah ditugaskan berperan sebagai sandera saat latihan gabungan pasukan khusus anti teror di Sulut. Walau hanya latihan, perannya tak mudah lantaran harus semalaman berada di atas kapal fery yang diskenariokan terapung.
Di tengah kesibukannya sebagai prajurit, Maya memang menjadi MC andalan. Ia kerap ditugaskan sebagai MC di kesatuannya saat berdinas di Manado. Bahkan pernah menjadi pembawa acara saat upacara di gubernuran Sulut.
Saat ini, Maya memiliki brevet penyelam. Brevet ini dimiliki karena ia mempunyai kecakapan dalam menyelam. Dia juga tercatat sebagai asisten apoteker yang juga pemegang  sabuk coklat Karateka Inkai.
Sabuk coklat merupakan tingkatan yang cukup tinggi untuk seorang karateka. Urut-urutanya yakni sabuk putih di awal  menjadi anggota Inkai, lalu sabuk kuning, orange, hijau, biru, coklat dan hitam sebagai sabuk tertinggi.
Maya selalu bangga menjadi prajurit TNI AL. “Saya mengalami yang tidak dialami kebanyakan wanita. Jadi prajurit TNI AL itu membanggakan. Saya bisa mengenal Indonesia yang luas ini secara lebih dekat,” katanya. Maya selalu bersemangat dalam menjalankan tugasnya. Apalagi suami Maya selalu memberi dukungan. Suaminya, anggota Polres Batu.
Selain Maya, terdapat juga anggota Kowal di Lanal Malang yang bersuamikan anggota Polri. Yakni Sertu Far/W Elok Rahayu Kuniati. Anggota Balai Kesehatan Lanal Malang ini bersuamikan anggota Polres Malang yang berdinas di Polsek Dau.
Sudah enam tahun Elok menjadi prajurit wanita TNI AL. Usai menjalani pendidikan TNI AL, wanita asli Gresik ini langsung ditempatkan di ujung timur Indonesia. Dia ditugaskan di Lantamal X Jayapura.
Wanita 27 tahun ini memiliki penghargaan Dharma Nusa dari presiden pada tahun 2007. Penghargaan tersebut diberikan kepada prajurit TNI yang bertugas di daerah transisi dari daerah konflik ke pasca pemulihan. Dia juga mengalami bertugas di pulau terluar Indonesia. Salah satunya di pulau Sarmi, salah satu pulau di Papua dengan naik kapal patroli TNI AL. Setelah berdinas 2,3 tahun di Papua, ibu satu putra ini pindah ke Malang.
Berdinas di Lanal  Malang, Elok pernah mendapat tugas bergengsi sekaligus tugas berat untuk seorang prajurit TNI. Yakni menjadi protokoler saat Presiden SBY menginap di Lanal Malang. Bahkan selama empat kali berturut-turut, SBY menginap di Lanal Malang, saat itu pula Elok menjadi protokoler. Yakni pada tahun 2011, 2012, tahun 2013 dan tahun 2014.
Dia juga pemegang brevet penyelam sekaligus anggota bela diri Kempo. “Ya hanya latihan Kempo,” ucapnya merendah.  Kini, Elok semakin bangga dan bersemangat  berbakti sebagai prajurit TNI AL. (vandri battu/han)