Mengabdi Tanpa Pamrih, Rela Jadikan Rumah Sebagai Sanggar

PRAMUKA: Sugeng Riyadi ketika menyematkan tanda kepada anggota Saka Bhayangkara Polres Malang Kota.

Tak banyak orang yang mau bekerja tanpa pamrih. Namun tidak demikian dengan Sugeng Riyadi. PNS Polres Malang Kota ini memilih mengabdikan dirinya untuk kegiatan kepramukaan dengan menjadi Pamong (Guru Pembina) Saka Bhayangkara di Polres Malang Kota. Meski tanpa ada imbalan, tetapi ia ikhlas menularkan ilmu kepramukaan kepada adik-adik anggota Pramuka yang tergabung dalam Saka Bhayangkara.

Jumat (3/10) siang, Sugeng yang sehari-harinya bekerja sebagai PNS di bagian Humas Polres Malang Kota terlihat sibuk. Ia mondar-mandir menyiapkan berkas untuk keperluan supervisi dari Polda Jatim pada Selasa (7/10) hari ini. Meski kegiatan supervisi masih kurang beberapa hari, tetapi keperluan berkas harus disiapkan lebih awal.
Kendati harus keluar masuk ruangan satu ke ruangan lain serta naik turun tangga, namun sama sekali ia tidak kelihatan letih. Mengeluhkan rasa capek pun, tidak pernah. PNS yang diangkat pada 2009 ini, justru terlihat sumringah dan selalu menebar senyum. “Pak Sugeng tadi masih foto copy berkas,” kata AKP Nunung Anggraeni, Kasubag Humas Polres Malang Kota saat Malang Post mencarinya.
Aktivitas seperti itu sudah biasa ia lakukan setiap hari, mulai Senin sampai Sabtu. Bahkan, ketika ada kegiatan luar seperti pengamanan saat terjadi unjukrasa di Balaikota ataupun Gedung DPRD Kota Malang, Sugeng selalu ada. Ia bertugas untuk mendokumentasikan kegiatan pengamanan yang dilakukan Polres Malang Kota.
Ketika hari Minggu, saat anggota lain sedang menikmati liburan bersama keluarga, Sugeng masih terlihat di kantor (Polres Malang Kota). Bedanya, ketika hari kerja ia memakai seragam dinas, namun pada hari Minggu ia memakai seragam Pramuka lengkap. Panggilan tugas sebagai Pamong Saka Bhayangkara harus tetap dilakukan.
Pria kelahiran 1 September 1978 ini, menjadi Pamong Saka Bhayangkara sejak 2010. Saat itu ia ditunjuk dan dipercaya oleh Kasat Binmas Polres Malang Kota, AKP Elida. Ditunjuknya Sugeng sebagai Pamong Saka Bhayangkara di Polres Malang Kota, bukan tanpa alasan. Elida menunjuk karena mengetahui profil bapak dari tiga anak ini.
Semasa masih sekolah mulai SD sampai SMP, Sugeng aktif dalam kegiatan kepramukaan. Bahkan ia pernah dikirim mewakili Kota Malang untuk kegiatan lomba kepramukaan di tingkat nasional dan bahkan International. Ketika SMA, Sugeng juga menjadi anggota Dewan Kerja cabang Pramuka Kota Malang, yang mengelola penegak pendega se-Kota Malang.
“Mungkin karena mengetahui kalau memiliki ilmu kepramukaan itulah, akhirnya saya ditunjuk. Terlebih saat itu, Saka Bhayangkara Polres Malang Kota belum memiliki Pembina yang paham betul dengan kegiatan Pramuka,” tutur Sugeng.
Jumlah anggota Saka Bhayangkara Polres Malang Kota saat ini sebanyak 250 orang untuk siswa SMA-SMK negeri dan swasta se-Kota Malang. Ditambah anggota baru pada tahun ini sebanyak 34 anak dari SMP se-Kota Malang. Pertemuan Saka Bhayangkara dilakukan tiga kali dalam satu bulan, mulai pukul 09.00–12.00.
Dalam setiap pertemuan, anggota Saka Bhayangkara selain diberi ilmu wawasan tentang kepramukaan, juga diberi empat materi kepolisian. Yaitu ilmu tentang lalu lintas oleh Satuan Lalu Lintas, ilmu tentang olah tempat kejadian perkara (TKP) oleh Satuan Reskrim, penanggulangan bencana oleh Satuan Sabhara serta tentang ketertiban masyarakat oleh Satuan Binmas.
“Secara teoritis, materi diberikan oleh anggota polisi dari satuan masing-masing. Namun kalau tidak ada, ya terpaksa saya yang memberikan materinya. Itupun saya harus terlebih dahulu mempelajari materi,” paparnya, sembari mengatakan, membina adik-adik Saka Bhayangkara ditemani oleh Pamong Saka Bhayangkara lain, Aiptu Tri Sulisty, anggota Satuan Binmas.
Membina adik-adik Saka Bhayangkara dengan jumlah banyak, bukanlah pekerjaan yang mudah. Pastinya ada suka dan dukanya. Karena semua kegiatan yang dilakukan berlandaskan sosial dan sukarela. Bagaimana harus mengatur adik-adik Pramuka meski tidak ada modal, namun kegiatan harus tetap berjalan. “Kalau ada adik-adik yang vocal saat kegiatan, saya dekati dengan halus maunya seperti apa. Setelah itu saya beritahu tentang aturan Saka Bhayangkara dan aturan Pramuka seperti apa,” tutur pria berkacamata ini.
Bahkan meskipun di luar kegiatan Saka Bhayangkara, Sugeng mengatakan selalu menyediakan waktu bagi para anggota Pramuka untuk berdiskusi. Tidak hanya di kantor saat bekerja, di rumahnya pun ia selalu menyempatkan waktu. Kadang hampir setiap hari rumahnya dijadikan tempat untuk rapat kegiatan kepramukaan dan Saka Bhayangkara.
“Rumah saya di Vila Gunung Burung Kelurahan Cemorokandang, Kedungkandang sampai menjadi Sanggar Saka Bhayangkara. Keluarga sama sekali tidak keberatan, karena mereka semua sudah memahami. Di keluarga saya, memang peduli dengan kegiatan sosial,” katanya.
Untuk mengaktifkan kegiatan, setiap kali pertemuan, anggota Saka Bhayangkara menyisikan uang untuk kas sebesar Rp 2000 setiap anak. Uang tersebut digunakan setiap kali ada kegiatan. Seperti mengikuti kegiatan Pameran Raimuna di Lebakharjo – Ampelgading ataupun kegiatan perkemahan se-Asia di Coban Rondo beberapa waktu lalu.
Saka Bhayangkara Polres Malang Kota, juga melakukan kegiatan bakti sosial. Setiap bulan puasa, membagi-bagikan sembako kepada orang-orang yang tidak mampu di Kota Malang. Sembako yang didapat adalah sumbangan dari anggota Saka Bhayangkara ataupun dari sekolah.
“Saka Bhayangkara juga pernah mengukir prestasi tinggi lewat Prusik Repling (turun dari tebing). Dulu beberapa kali menang lomba di tingkat Polda Jatim. Latihannya kami lakukan sebulan sekali di Brimob Ampeldento Pakis,” tuturnya.(agung priyo/han)