Cemorokandang Ada Sejak Zaman Pra Sejarah (3/habis)

Dianggap Sebagai Kawasan Strategis
Bukan tanpa alasan ketika Cemorokandang menjadi salah satu pusat peradaban di Malang Raya dan sekitarnya. Wilayah kelurahan yang terletak di Kecamatan Kedungkandang itu dipilih karena  memiliki sabuk alam dan kawasan ketinggian yang dahulu kala dijadikan sebagai tempat yang disucikan.
Ekspedisi Samala Malang Post yang mengeksplorasi sejumlah spot di Cemorokandang memetakan beberapa alasan tumbuhnya peradaban sejak zaman pra sejarah atau megalitik hingga masa  kerajaan. Seperti diberitakan kemarin, dari penelusran Tim Ekspedisi Samala terungkap adanya penunjuk zaman pra sejarah dan masa kerajaan di wilayah Cemorokandang. Dari era Singosari hingga Majapahit pernah memilih Kebalon (Kabalan) sebagai pusat aktivitas masyarakat.
Hal tersebut terjadi karena dua alasan. Pertama, yakni keberadaan Sungai Amprong dan sungai hujan atau sungai orografis. Bahkan di salah satu titik Sungai Amprong terdapat pertemuan aliran sungai tersebut.  Sejak zaman pra sejarah hingga masa kerajaan, sungai merupakan nadi kehidupan. Selain untuk pasokan air minum, juga sebagai sumber pengairan untuk lahan pertanian seperti sawah. Fungsi lain dari sungai sebagai barier atau pengaman alami. Kini Sungai Amprong masih mengalir di Cemorokandang. Sungai hujan pun masih tampak jelas walau tak dialiri air lagi.
Bahkan perabotan warga menggunakan batu andesit atau  batu kali. Tim Ekspedisi Samala  Malang Post menemukan lumpang batu di Cemorokandang  berbahan andesit dari dua zaman berbeda. Yakni lumpang batu yang berbentuk non fasial  yang masih berupa bongkahan  batu (identik zaman  megalitik) dan lumpang batu fasial, yakni berbahan batu andesit namun sudah mendapat sentuhan seni (identik masa kerajaan).
Tak hanya itu saja, di Cemorokandang juga masih tersisa sebuah kawasan mirip alun-alun. “Warga sini menyebut Sentono. Tanda pembatasannya masih ada,” kata staf kelurahan Cemorokandang, Saiful Anwar sembari menunjukan Sentono yang dimaksudnya itu.
Sentono yang dimaksud Saiful itu kini menjadi  area taman sebuah perumahan tak jauh dari Kebalon. Bentuknya seperti bundaran dan terletak di atas ketinggian. Tiga pohon klampok berukuran raksasa tumbuh kekar sekaligus membuat area Sentono menjadi lebih rindang. Diameter batang pohon  klampok tersebut hampir sama, yakni 4,81 cm.
Lurah Cemorokandang, Sugianto dan stafnya, Saiful Anwar  secara terpisah mengatakan bahwa bupati Banyumas pernah ziarah ke kawasan tersebut. Hanya saja ia tak ingat nama bupati itu. Dia juga tak tahu secara jelas kedatangan  pejabat tersebut ke Sentono. Namun disebut-sebut Sentono sebagai makam, tapi tak diketahui secara jelas siapa yang dimakamkan di Sentono.
Tim Ahli Ekspedisi Samala Malang Post yang juga sejarawan UM, Dwi Cahyono mengatakan, Sentono berasal dari kata Jawa Kuno. Pengucapannya mulai dari astana, sentana dan sentono. “Orang Jawa baru menyebut (Sentono) dengan dua kemungkinan. Yakni makam atau juga jadi lingkungan elit. Secara sosial, sentana menggambarkan sebagai lingkungan elit,” kata Dwi.
Keberadaan sentana biasanya terletak di ketinggian, bahkan kawasan yang paling tinggi. Sebab dulu, kawasan atau tempat yang semakin ke atas atau lebih tinggi maka dianggap semakin suci. Hal ini sama persis seperti letak sentono di Cemorokandang yang berada pada ketinggian.
Keberadaan Cemorokandang dipandang sebagai kawasan paling strategis memang sangat tampak pada masa Singosari hingga berlanjut ke masa Majapahit. Saat masa Singosari, dalam sustra pararaton disebutkan sebuah desa bernama Tugaran. Tugaran terletak di sekitar Kabalan (sekarang Kebalon).  Di Tugaran itulah merupakan tempat bermain Ken Arok.  
Sedangkan di masa Majapahit, disebutkan bahwa Kusumawarhani yang adalah putri Maharaja Hayam Wuruk ditempatkan sebagai penguasa atau raja di Kabalan. Penempatannya di Kabalan memberi petunjuk bahwa Hayam Wuruk memandang Malang, khususnya kawasan timur sebagai kawasan yang penting dan strategis. (van/han)