Sambangi Markas FC Bayern München, Pamer Tari Topeng Malangan

KELILING : Muhammad Lazuardi Nuriman berpose di depan Allianz Arena stadion kebanggaan FC Bayern München, tak lupa juga berforo bersama rekan-rekannya di Jerman.

Belajar di luar negeri adalah impian yang menjadi kenyataan bagi Muhammad Lazuardi Nuriman. Siswa kelas XII IPA SMAN 1 Kepanjen ini, selama satu bulan belajar di Jerman. Dia memperoleh beasiswa difasilitasi Goethe Institut Jakarta dan Kedutaan Besar Jerman.

Siswa ini terpilih setelah menjadi juara Olimpiade Nasional Bahasa Jerman 2014, yang diselenggarakan oleh Goethe Institut. Kemudian dipilih berangkat Jerman melalui beasiswa dari Dinas Pertukaran Pendidikan Jerman (Pädagogischer Austauschdienst/PAD).
Seperti pelajar pada umumnya, Muhammad Lazuardi Nuriman mempunyai impian maupun cita-cita yang ingin diraih. Ya, impiannya adalah ingin merasakan belajar di Jerman. Karena dengan belajar negara beribukota Berlin tersebut, dirinya dapat berinteraksi dengan masyarakat dan menambah ilmu tentang Bahasa Jerman.
Pasalnya, remaja berusia 17 tahun ini dari dulu sangat mencintai bahasa Jerman. Meski dia memilih kelas IPA, tetap menambah kepengetahuan tentang Bahasa Jerman dengan mengikuti ekstrakulikuler di sekolahannya. Ketekunannya dalam menyeriusi ekstrakulikuler itu, mengantarkan dirinya meraih hadiah pertukaran pendidikan ke Jerman.
Hadiah itu didapat, setelah meraih juara tiga Olimpiade Bahasa Jerman, tingkat nasional, yang diselenggarakan Goethe Institute Jakarta pada Bulan Maret lalu. “Saya berangkat ke Jerman bersama tiga pelajar lainnya dari seluruh Indonesia. Tentunya saya sangat bangga bisa berangkat dan belajar ke Jerman,” ujarnya kepada Malang Post.
Dia mengikuti program itu selama satu bulan mulai 25 Juni 2014 hingga 29 Juli 2014. Selama satu bulan, Muhammad Lazuardi Nuriman bersama tiga peserta lainnya tinggal di sebuah keluarga di Kota Bonn Jerman bernama J Eilles. Dia  mengatakan, Bonn adalah sebuah kota di tepian Sungai Rhein di Negara Bagian Nordrhein Westfalen, Jerman.
“Kota Bonn pernah menjadi ibukota sementara Jerman Barat. Kota tersebut sangat bersih, indah dan tempat-tempat wisatanya sangat bagus,” katanya.
Karena keindahannya kota itu, dia semakin kagum dengan negara yang dipimpin Presiden Joachim Gauck itu. Apalagi masyarakat negeri pemain timnas Jerman Philip Lahm tersebut sangat ramah
Terlebih selama tinggal bersama keluarga J Eilles, dia sangat dijamu dan dia merasakan kesan tersendiri. “Mayoritas pelajar di Jerman, berangkat sekolah menggunakan sepeda pancal atau berjalan kaki kemudian naik bis. Hal itu dilakukan untuk menjaga lingkungan udara dari pulosi bahan bakar kendaraa,” tuturnya.
Sama halnya di Indonesia, di Jerman juga memiliki beberapa dialek bahasa. Setiap daerah maupun kota di Jerman, memilik ciri khas dialek bahasa tersendiri. Dia juga berinteraksi menggunakan Bahasa Jerman. Hal itu mudah dilakukan oleh dua bersaudara ini, lantaran sudah mahir bahasa tersebut dan dipraktikan selama di Indonesia.
“Hanya penyesuaian dialek di setiap daerah di Jerman. Tapi, secara keseluruhan maksud dan artinya sama,” kata remaja kalem ini. Selama di negara yang dikenal Tembok Berlin itu, dia belajar di Hölty Gymnasium. Dia menyebutkan, sekolahan tersebut milik pemerintah dan mempunyai jenjang setara SMP hingga SMA.
Di tempat itulah, kemampuan berbahasa Jermannya terus diasah. Karena tempat tersebut selama ini memang menjadi jujukan untuk program pertukaran pelajar. Tidak hanya belajar, dia berwisata di beberapa tempat wisata yang ada di negara Jerman.  Diantaranya Allianz Arena di Munchen, Koelner Dome, Sanssousci Palace dan Gedung Reichstag. “Selama saya berada di Jerman, saya dibiayai oleh Goethe Institute Jakart dan Kedubes Jerman,” tuturnya.
Menurutnya, pengalaman berharga dan tambahan ilmu di Jerman, sudah dibagikan bersama teman-temannya menjadi sebuah pelajaran. Jadi, menurutnya tidak menjadi cerita menarik saja. Melainkan sebagai penambah motivasi oleh pelajar lainnya supaya bisa berprestasi.
“Pada Internationaler Abend kedua di Celle, saya menampilkan Tari Topeng Bapang dari Malang,” akunya bangga.
Sementara itu, Guru Ekstrakurikuler Bahasa Jerman SMAN 1 Kepanjen Asriyatul Faizah Spd mengatakan, pertukaran pelajar yang dilakoni Lazuardi murni dari prestasi.
“Kami tidak mengeluarkan biaya sepeserpun untuk dalam program pertukaran pendidikan ini. Itu murni atas prestasi yang diraih oleh Lazuardi,” imbuhnya. Diapun mengaku bangga dengan prestasi yang diraih anak didiknya tersebut. Hal itu diharapkan sebagai penambah motivasi para pelajar lainnya untuk berbuat yang sama meraih prestasi. (Binar Gumilang/ary)