Melihat Pesawat, Mengenal Perjuangan TNI AU

Museum Dirgantara Albertus Sulaksono menjadi salah satu tempat yang banyak mendapat animo masyarakat saat bertandang ke Pangkalan Udara Abd Saleh. Di tempat  ini, pengunjung tidak sekadar mengetahui sejarah perjuangan TNI AU dalam perang kemerdekaan atau saat ikut dalam operasi militer. Tapi juga melihat pesawar-pesawat yang pernah beroperasi di Lanud Abd Saleh, termasuk pesawat tempur taktis jenis OV-10 Bronco yang telah digrounded oleh Mabes TNI AU, 2012 lalu.
Deru mesin pesawat terbang terdengar menggelegar, saat Malang Post dan rombongan Saka Bhayangkara, Polrestabes Surabaya mengunjungi Museum Dirgantara beberapa waktu lalu. Deru mesin pesawat ini terdengar sangat nyata, sehingga mengundang rasa penasaran siapapun yang datang. Tidak lama kemudian, seorang Mayor Chariri yang saat itu bertugas menjelaskan pesawat apa yang suaranya baru saja didengar pengunjung itu.
 “Museum Dirgantara dibangun pada 2013 dan diresmikan 8 September 2013 oleh Marsma TNI Gutomo yang saat itu menjabat sebagai Danlanud Abd Saleh,’’ katanya.
Dalam penjelasannya kemudian, museum Dirgantara memiliki delapan ruangan. Yakni, ruang untuk Skadron 4, Skadron 32, Skadron 21, Skuadron Teknik (Skatek), Batalyon Komando Paskhas 464, ruang Polisi Militer (POM) TNI AU, stand Rumah Sakit dr Munir dan Lanud Abd Saleh.  
Tidak lama setelah menjelaskan tatanan ruangan, Chariri langsung mengajak pengunjung untuk masuk ke stand-stand yang disebutkan tadi. Diawali dari Skadron 32. Di stand ini, pengunjung langsung melihat berbagai miniatur pesawat Hercules, baik itu yang jenis long maupun yang short. Stand Skadron 32 ini memang sangat menarik bagi para pengunjung dan terlihat berbeda dengan stand-stand pada umumnya. Itu karena di depan stand terdapat beberapa miniatur pesawat yang ukurannya cukup besar.
Sudah bisa ditebak, mereka yang umumnya pelajar langsung mengambil ponsel atau kamera saku untuk kemudian memotret atau bahkan selfir di sebelah miniatur.  Aksi para pengunjung ini tidak membuat Chariri marah, sebaliknya pria setengah baya ini terlihat sabar, sembari meminta mereka untuk berhati-hati. “Boleh foto, tapi jangan disentuh ya,’’ kata Chariri.
10 menit kemudian setelah puas foto-foto, pengunjung pun masuk ke stand 32. Di stand ini Chariri mulai memberikan penjelasan. “Hercules merupakan salah satu jenis pesawat yang dimiliki oleh TNI AU. Pesawat ini ada dua jenis, yaitu jenis Long dan satu lagi jenis Short. Jenis Long di tempatkan di Lanud Halim Perdana Kusuma, sedangkan yang  short bermarkas Skadron Udara 32 yang ada di Lanud Abd Saleh,’’ tambah Chariri. Penjelasan singkat ini membuat pengunjung langsung merespon. Mereka pun bertanya keberadaan pesawat Hercules tersebut, dan jumlahnya saat ini.
Mendapat pertanyaan tersebut, Chariri menjawab dengan sabar. Saat ini, lanjutnya, pesawat buatan tahun 1956 tersebut di Lanud Abd Saleh ada delapan unit, dan semuanya masih bisa beroperasional dengan baik. “Hercules merupakan jenis pesawat angkut, buatan Lockheed AS. Pesawat ini masih digunakan, termasuk saat parade udara HUT ke 69 TNI kemarin, pesawat ini juga dilibatkan,’’ katanya.
Pengunjung juga melihat berbagai dokumen, serta foto-foto pesawat Hercules saat bergabung dalam berbagai operasi. Bahkan, di stand ini pengunjung juga bisa melihat profil Komandan Skadron 32 dari masa ke masa. Setelah itu, pengunjung melanjutkan ke stand Skadron 4. Di sini, tampilan standnya lebih sederhana. Pengunjung hanya bisa melihat miniatur pesawat saja dan profil komandan skadron dari masa ke masa serta film dokumenter keterlibatan pesawat tersebut dalam operasi.
Decak kagum ditunjukkan pengunjung saat mendatangi Skadron Udara 21. Di stand ini, pengunjung lebih dulu diperlihatkan sebuah mesin pesawat yang sangat besar. “Ini mesin pesawat apa ya pak, kok besar sekali,’’ kata salah satu pengunjung. Chariri pun langsung menjelaskan, mesin tersebut adalah mesin pesawat tempur taktis jenis OV-10 Bronco.
Dari keterangan Chariri, Skadron 21  pertama menjadi home base pesawat jenis Mustang. Tapi kemudian, Skadron ini digunakan sebagai base camp pesawat taktis jenis Bronco, dan sejak 2013 lalu menjadi home base pasawat jenis Super Tucano. “Lho kok pesawatnya berganti-ganti pak?,’’ tanya siswa lain lagi.
Menurut Chariri dua pesawat sebelumnya, telah di-grounded oleh Mabes TNI AU, lantaran dinyatakan sudah tidak layak terbang. Bahkan, dia juga mengatakan jika pesawat OV-10 Bronco pernah kecelakaan, dan menewaskan pilot yang menerbangkannya. “Apakah ini mesin OV-10 Bronco yang kecelakaan itu?,’’ tambah pengunjung lainnya. Dengan tersenyum, Chariri menjawab dengan menggelengkan kepala.
Namun dari sekian stand yang ada, pengunjung justru lebih antusias saat melihat stand Rumah Sakit dr Munir. Di stand ini mereka melihat berbagai peralatan medis yang berhubungan dengan penerbangan. Salah satunya adalah adanya sebuah kursi yang digunakan sebagai alat tes untuk personel yang masuk penerbangan.
“Ini bukan kursi listrik ya, namanya Barrany Chair atau kursi berpusing. Kursi ini bukan kursi biasa, tapi digunakan untuk mengetes personel  yang akan masuk penerbangan. Sekalipun sangat sederhana, keberadaan Barrany Chair membuat pengunjung terkagum-kagum.
Selain Barrany Chair, di stand ini pengunjung juga bisa melihat alat tes ketajaman mata dan alat tes kejataman pendengaran. Dua alat ini sengaja dipamerkan di museum agar pengunjung lebih memahami, jika mereka akan masuk menjadi anggota TNI AU harus memiliki kepekaan terhadap panca indera.
Terakhir, stand yang dikunjungi adalah stand POM AU. Di stand ini pengunjung pun langsung melihat alat sidik jari, mulai yang berbentuk jadul hingga yang terbaru. Seperti Barany Chair dan mesin OV-10 Bronco, para siswa penasaran dengan pengoperasian alat sidik jari tersebut. Hasilnya, mereka langsung meletakkan tangannya di papan. “Lho sidik jari itu yang mana ya, kok tidak menempel di papan,’’ kata salah satu pelajar.
Sekalipun kunjungan ini sangat singkat, yang pasti mereka mengaku sangat puas. Bahkan juga sangat kagum dengan keberadaaan museum. “Museum ini membuat kami banyak mendapat wawasan, tentang sejarah TNI AU, khususnya Lanud Abd Saleh. Karena selain stand-stand yang ada tadi pemandu juga menceritakan sejarah singkat berdirinya Lanud Abd Saleh ini,’’ kata Amalia, salah satu pengunjung.
Sementara Chariri sendiri mengatakan, Museum Albertus Sulaksono ini dibangun dengan luas 9x6 meter. Memang tidak terlalu besar, namun dengan tatanan ruangan yang bagus, museum ini terlihat indah dan  rapi.  Meskipun dibuka secara umum, pengunjung tidak bisa bebas datang ke museum. Mereka wajib melayangkan surat lebih dulu, yang ditujukan kepada Danlanud melalui Kapentak Lanud Abd Saleh.
Untuk kunjungan, Lanud Abd Saleh  tidak memasang tarif. Sebaliknya, hanya mengenakan biaya perawatan dan kebersihan saja, senilai Rp 100 ribu. Museum berada tidak jauh dari pintu masuk utama Lanud Abd Saleh, atau sekitar 200 meter saja. Sementara ini museum dijaga oleh tiga anggota Lanud Abd Saleh yakni Pelda Supriyanto, Serma Erwin Suncahyono, dan Serka Asep Maharudi. Sementara ini kunjungan hanya dibatasi hari Kamis pukul 08.00-11.00.
“Museum ini terbuka untuk umum, siapapun boleh datang asalkan memberikan pemberitahuan terlebih dahulu,’’ kata Chariri. (ira ravika/han)