Mantan Perwira Polisi Jadi Sopir Bus Pariwisata

DI kalangan polisi Malang, siapa yang tidak kenal dengan Hadi Sukamto. Sosok pria satu ini dulu adalah seorang Perwira Polisi. Sebelum mengajukan pensiun dini pada 2013, ia terakhir menjabat sebagai Waka Polsekta Sukun, dengan pangkat Ajun Komisaris Polisi (AKP). Kini Hadi menjadi seorang sopir bus pariwisata.

Rabu (8/10) pagi rombongan Aremania dan Aremanita bertolak ke Lamongan. Suporter tim berjuluk Singo Edan ini, melakukan tur untuk mendukung Arema Cronus melawan Persela Lamongan. Rombongan berangkat dengan menggunakan puluhan mobil pribadi dan belasan bus pariwisata, dari depan Stasiun Kota Baru.
Salah satu bus yang terlihat mencolok, adalah bus Shantika. Selain ukurannya lebih kecil dari bus lain, sopir bus berwarna kuning ini adalah mantan anggota polisi, yakni Hadi Sukamto. Dengan mengenakan jaket warna gelap dipadu dengan topi di kepala, sepintas ia terlihat seperti sopir biasa. Orang yang tidak kenal akan menganggap dirinya sopir bus pada umumnya. Tapi bagi yang kenal terutama polisi yang mengawal rombongan akan kaget dan angkat topi.
"Pagi komandan," salam salah satu anggota polisi sambil hormat, kepada Hadi Sukamto. Hadi hanya menimpali dengan senyum dan mengajaknya ngobrol santai.
Mantan Kapolsekta Kedungkandang ini, mengajukan pensiunan dini saat ia mau maju menjadi calon anggota legislatif di Kabupaten Malang, Dapil I melalui Partai Nasdem. Sayang, suara yang diperolehnya dalam Pileg April 2014 lalu, tidak mampu mengangkatnya maju menjadi anggota DPRD.
Setelah gagal maju menjadi anggota dewan, Hadi lalu fokus menggeluti usaha bus pariwisata Shantika. Ada tiga bus pariwisata miliknya, dua ukuran besar dengan kapasitas 60 orang dan satu bus ukuran kecil kapasitas 35 orang, seperti yang digunakan mengangkut rombongan Aremania.
"Saya jadi sopir bus sudah lama. Dulu saat masih aktif sebagai polisi, juga menjadi sopir bus milik saya sendiri. Yang rutin menjadi sopir bus, setiap hari Selasa karena antar jemput jamaah pengajian Al Muttakim Karangploso. Khusus untuk jamaah pengajian ini gratis," tutur Hadi Sukamto.
Selain antar jemput jamaah pengajian dan mengantar rombongan Aremania tur, Hadi juga pernah menjadi sopir rombongan suporter Jack Mania. Ia dua kali mengantarkan sendiri rombongan suporter Persija ini ke Jakarta. Termasuk sering mengantarkan rombongan ziarah ke Wali Limo, dan juga rombongan jamaah haji.
"Dulu saat masih aktif menjadi polisi, saya juga pernah menjadi sopir truk pengangkut pasir. Enam kali saat itu bolak-balik ke Ampelgading untuk ambil pasir di sungai," kata mantan Kapolsekta Gondanglegi ini.
Hadi mau menjadi sopir bus mengantarkan rombongan Aremania, karena ia juga cinta dengan Arema. Ia ingin memberikan kenyamanan serta keamanan tersendiri kepada Aremania. "Saya ingin bongkar image yang tidak baik. Sebetulnya lewat Gresik saat tur Lamongan saya berani, dan kalau ada risiko akan saya tanggung sendiri saat itu, tapi rombongan minta lewat jalur barat," ujarnya sembari tersenyum.
Hadi terjun menjadi seorang sopir, karena ia ingin mengetahui persis bagaimana keluh kesah seorang sopir. Sehingga ia tahu mana sopir bus yang jujur dan berbohong. Termasuk bagaimana sopir bus yang diharapkan oleh penumpang. Karena penumpang bus menginginkan perjalanan yang aman dan nyaman.
"Saya ingin memberikan contoh yang baik kepada sopir bus, sehingga sopir bus tidak sampai ugal-ugalan ketika berada di jalan raya karena sangat membahayakan," papar pria yang juga mantan pemain sepak bola dan pernah bermain untuk PSM Makasar pada tahun 80'an ini.
Kendati sekarang ini sudah berputar balik sebagai seorang sopir bus, namun sama sekali tidak ada rasa minder. Malah orang yang kenal dekat dengannya merasa kaget dan memberi hormat kepada Hadi Sukamto.
"Saya ini orang memasyarakat. Tidur di SPBU atau emperan toko, sudah biasa dan sering saya jalani. Karena prinsip saya, adalah Khoirunnas anfa’uhum linnas, sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia yang lain," jelasnya.
"Saya pernah diperingatkan teman pengusaha bus besar, kalau jadi sopir bus risikonya besar. Saya jawab, risiko itu kalau sopir ugal-ugalan di jalan. Kenapa sopir bersikap begitu, karena tekanan waktu, kejar setoran serta memburu penumpang," pungkas Hadi, yang mengaku pernah menjadi wasit dan mengantongi lisensi C ini.(agung priyo/han)