Didukung Ortu, Rela Rogoh Kocek Puluhan Juta

BERAKSI : Andhi Yulianto saat beraksi di salah satu club ternama beberapa waktu lalu.

Profesi Disc Jockey di Malang mungkin tidak terlalu menjanjikan bagi sebagian besar orang. Namun, Andhi Yulianto membuktikan bahwa dia bisa survive hidup di dunia malam lewat profesi DJ. Bahkan, pada usianya yang masih 24 tahun, Andhi sudah mampu mendirikan komunitas, manajemen dan sekolah DJ.

Nama Andhi Yulianto tidak begitu familiar di telinga clubbers Malang yang eksis di dunia malam. Namun, begitu mendengar kata Andhisouldj, clubbers pasti mengingat sosok berambut jabrik yang agak tembem, dengan aliran musik electro yang khas. Andhisouldj, merupakan nama panggung dari Andhi Yulianto, pendiri komunitas, manajemen dan sekolah DJ, Souldbeat.
Saat menemui Malang Post di Bikers Cafe sekitaran Dieng, Andhi tampak seperti mahasiswa pada umumnya. Kaos berkerah hitam, dengan celana jeans dan sepatu casual, memperkuat kesan mahasiswa. Andhi mengakui, dirinya saat ini masih terdaftar sebagai mahasiswa Ilmu Komunikasi FISIP UMM.
“Sekarang saya masih kuliah Ilmu Komunikasi di FISIP UMM, umur masih 24,” jelas Andhi. Dengan usianya yang terhitung belia, mungkin tak ada yang menyangka bahwa dia sanggup menghandle manajemen DJ sekaligus mendirikan sekolah untuk profesi tersebut. Souldbeat, nama manajemen dan sekolah Andhi, menjadi salah satu sekolah DJ yang populer di Malang saat ini.
Andhi sekarang memiliki sekitar 20 DJ yang bergabung dalam manajemen dan sekolahnya di daerah Sukarno Hatta. Biasanya, para DJ tersebut main di beberapa tongkrongan dugem, seperti My Place Kartika Graha. Dengan usia yang masih belum seperempat abad, Andhisouldj sudah menancapkan namanya sebagai salah satu DJ sukses di Malang.
Namun, pemuda lajang itu berujar bahwa perjuangannya menuju titik ini tidak diraih dengan bersantai-santai. Walaupun awalnya hanya iseng-iseng, Andhi yang terjun di dunia DJ tahun 2010, merasakan kenyamanan pada profesi ini. Ia menjadi sangat serius menekuni profesi DJ. “Dulu saya anak dugem biasa, ngabis-ngabisin duit tapi gak ada visi. Saya pun mikir, daripada keluar duit terus, kenapa gak sekalian saya kerja di dunia malam. Akhirnya mikir jadi DJ,” ungkap Andhi.
Pemuda yang hobi main gitar itu menerangkan, dia belajar DJ selama 6 bulan dan mencoba manggung di cafe D’Lounge MOG. Satu tahun kemudian, Andhi mengikuti kompetisi DJ di Flame Executive Club. Meskipun Andhi belum mempunyai klub yang mengontrak jasanya saat itu, Andhi mampu menyabet juara 2.
“Setelah dapat juara ini, baru saya memberitahu orangtua (ortu). Dan rupanya dukungan pun diberikan oleh ortu karena saya benar-benar serius. Akhirnya, saya dibelikan beberapa aksesoris DJ untuk mendukung kerjaan saya,” terang Andhi. Restu ortu membuat Andhi makin bersemangat hidup di profesi DJ.
Prestasi demi prestasi pun berlanjut. Pada kompetisi DJ di UMM, Andhi merebut juara. Setelah mewakili Malang, dia sanggup menyabet gelar juara dan mewakili Jawa Timur untuk bertanding di level nasional. Saat bertanding di Jakarta, dia masuk 10 besar DJ terbaik dalam kompetisi DJ level nasional tahun 2011.
Dari situ, jalan untuk berkarir di dunia DJ terbuka lebar. “Saya bisa membangun jaringan dengan banyak orang. Bahkan, saya juga bertemu dengan orang label yang akhirnya menarik saya masuk. Label saya sampai sekarang adalah Jak Clubbers,” ucap penggemar Armin Van Burren, DJ asal Belanda itu.
Setelah modal jaringan dan link yang cukup kuat, Andhi memberanikan diri bikin komunitas. Sebab, dari segi alat, Andhi sudah cukup mapan saat itu. Ia mengeluarkan uang hingga puluhan juta untuk membeli alat musik DJ yang mendukung profesinya. “Kalau mau sukses di dunia DJ, mau tidak mau harus keluar uang banyak. Jer Basuki Mawa Beya,” ujarnya.
Komunitas yang didirikan Andhi, bernama Souldbeat. Komunitas ini mewadahi para pemuda yang ingin belajar DJ namun berbujet minim. Andhi tidak mau sendirian dalam memajukan dunia DJ di Malang. Dia pun mewadahi anak-anak yang bercita-cita jadi DJ lewat Souldbeat. Seiring berjalannya waktu, komunitas itu berubah jadi sekolah, sekaligus manajemen DJ.
Andhi sekarang memiliki banyak DJ yang tampil di klub-klub malam. Meskipun sekarang sudah mulai mapan, Andhi mengakui tidak mudah bertahan di dunia DJ. “Soalnya persaingan sangat keras. Kita harus konsisten agar klub-klub malam tetap memakai jasa kita. Ujung-ujungnya, kita harus jaga kualitas,” sambungnya.
Anak kedua dari tiga bersaudara itu menambahkan, dunia DJ terbukti mampu memperbesar link dengan orang-orang elit di Kota Malang. Pasalnya, siapapun yang masuk klub malam, pasti adalah orang dengan kantong tebal. Hal tersebut membantunya untuk meraih banyak manfaat di luar profesi DJ.
“Siapapun yang rajin ke klub malam, itu bukan orang biasa-biasa, tapi orang yang berduit. Kita pun senang karena jadi banyak teman yang bisa bantu di luar pekerjaan DJ,” tandas pemuda yang tinggal di Jalan Sukarno Hatta tersebut. Meskipun sudah mencapai titik nyaman di profesi DJ, Andhi enggan berhenti.
Sebagai DJ asli Malang, ia ingin memajukan dunia DJ Malang dengan menawarkan musik-musik berkualitas untuk clubbers. Pasalnya, Andhi menyebut bahwa aliran musik yang digemari di klub-klub malam saat ini masih terhitung kacau. “Kalau di klub yang kita pegang, mungkin masih terkontrol dengan baik. Clubbers yang biasa mendengar musik kami, mampu membedakan mana DJ yang bagus, mana yang asal-asalan,” katanya.
“Tapi, sebenarnya aliran musik Electro Dance Music (EDM) secara keseluruhan di Malang masih belum bagus, tidak seperti Bali atau Jakarta. Beruntung, clubbers sekarang didukung gadget yang bisa update musik-musik terbaru, sehingga tidak ketinggalan,” tambah DJ yang mengidolakan Martin Garric tersebut.
Ia menambahkan, komunitas DJ Malang sebaiknya mulai menghentikan aksi blok-blokan dan menghidupkan lagi Malang DJ Community. “Kalau kita bisa bergabung dan bersatu di komunitas, kita tidak akan kesulitan sosialisasi kepada clubbers. Kita juga bisa sharing musik yang berkelas untuk referensi DJ di Malang. Malang itu bisa maju kalau musiknya juga maju,” tutup Andhi.(fino yudistira/ary)