Makan Besar di Nasi Bug Matira, Ngemilnya di Ketan Legenda 1967

BANGGA : Lelly Yulianti dan Achmad Fauzi, pemilik Warung Bug Matira, bangga kedainya didatangi Presiden Terpilih Jokowi.

Presiden Terpilih Jokowi meninggalkan kesan mendalam di Malang Raya. Selama kampanye pemilihan calon presiden beberapa waktu lalu, ia juga memiliki tempat kuliner jujukan selama di Malang.  Yakni Nasi Bug Matira di depan kantor Malang Post (Jalan Trunojoyo) Kota Malang dan Ketan Legenda 1967 di Kota Batu.


Gambaran presiden terpilih RI, Joko Widodo atau Jokowi, adalah sosok ramah, murah senyum dan sederhana. Gambaran tersebut diketahui hanya melalui  media massa, baik elektronik maupun cetak. Hal itu wajar saja, karena tidak semua orang berkesempatan bertemu langsung dengannya.
Pasangan suami istri, Lelly Yulianti dan Achmad Fauzi, pemilik Warung Bug Matira juga memiliki pendapat serupa. Menurut mereka, mantan gubernur DKI Jakarta itu tidak berbeda seperti apa yang dikatakan di televisi. Sebab, mereka pernah bertatapan langsung dengan Jokowi.
Bagi kedua pasangan yang puluhan tahun mengelola rumah makan khas Madura ini, Jokowi merupakan sosok nan ramah, murah senyum dan akrab dengan masyarakat. Benar apa yang dikatakan televisi, bagi mereka Jokowi benar-benar ramah.
"Bahkan, waktu itu saya sarankan ambil makan sendiri. Ya, akhirnya dia ambil makan sendiri, menuang kuah sendiri dan mengambi lauknya sendiri" ujar Fauzi, panggilan akrab Achmad Fauzi kepada Malang Post kemarin.
Berdasarkan cerita dari Lelly dan Fauzi, Jokowi datang tahun 2014. Tepatnya, sebelum dirinya menjadi presiden RI. Saat itu, Jokowi sedang ada agenda di Malang untuk kampanye. Karena waktu makan siang sudah tiba, mereka mampir ke Warung Bug Matira. Jokowi datang ditemani Wali Kota Batu, Eddy Rumpoko dan jajaran pimpinan PDIP.
"Banyak yang datang, saya pikir ada sekitar 60 orang datang bersama Jokowi. Waktu itu saya juga berpesan, semoga beliau menjadi presiden. Ternyata sekarang menjadi kenyataan," tandas Fauzi. Namun, pria berdarah Madura ini menyatakan kalau PR Jokowi setelah dilantik hari ini masih besar.
Menurutnya, PR terbesar bagi Jokowi ialah soal ekonomi dan korupsi. Indonesia masih belum tuntas dalam pemerataan ekonomi. Memang masih ada daerah-daerah tertentu yang kemampuan ekonomi tinggi. Tapi, lebih banyak lagi yang kesulitan untuk makan. Soal korupsi, secara implisit Fauzi menyatakan, "Soal korupsi buat apa ditanyakan lagi? Saya harap penyakit itu bisa diberantas," tegasnya.
Istri Fauzi, Lelly pun setuju dengan suaminya. Dia berharap, Jokowi bisa berhasil untuk rakyatnya. "Bukan berhasil untuk dirinya sendiri, bukan berhasil untuk keluarga dan golongannya saja. Tapi, berhasil untuk rakyatnya," jelasnya berharap.
Karena selama ini, dia beranggapan selama ini belum ada yang berhasil dengan maksimal. Yang rakyat kecil lihat, keberhasilan presiden dalam memimpin negara, belum merambat ke masyarakat kecil. Saat kampanye, menggaung-gaungkan janjinya menyejahterakan rakyatnya, ingin memperbaiki pembangunan bangsa. "Tapi toh akhirnya, rakyat masih sama saja, tidak ada perkembangan," terang wanita yang juga berdarah Madura ini.
Soal kesan terhadap Jokowi, Lelly mengatakan kalau kedatangan Jokowi tidak berbeda dengan kedatangan pejabat lain. Hanya saja, saat itu dia tahu kalau ternyata apa yang dikatakan orang dan televisi tentang Jokowi. "Memang sama seperti yang dibilang televisi, ramah dan murah senyum. Dia juga sering bertanya-tanya soal masakan khas Madura kami," pungkasnya.
Tak hanya di Kota Malang, Presiden RI terpilih, Joko Widodo, kehadirannya mampu memberikan makna yang dalam untuk masyarakat Batu. Salah satu tempat yang dikunjungi oleh Jokowi adalah Ketan Legenda 1967 yang berada di Alun-Alun Kota Batu.          
Eko Wicaksono, kasir Ketan Legenda awalnya sempat tidak percaya kalau Jokowi mau berkunjung ke warung ketan mereka. Namun karena yang menelepon adalah Sekpri Wali Kota Batu, Eddy Rumpoko, ia pun bergegas menelepon Sugeng Hadi, pemilik warung ketan ini.           
“Langsung Bapak (Sugeng Hadi-red) saya telepon,” ujar Eko. Waktu itu, Jokowi berkunjung ke Kota Batu sebelum pemilihan legislative (Pileg). Jokowi datang ke warung ketan ini dengan didampingi ER, panggilan akrab Eddy Rumpoko dan Cahyo Edi Purnomo, Ketua DPC PDIP Kota Batu.           
Sekilas Eko melihat sosok Jokowi adalah orang yang sederhana, murah senyum dan enak untuk diajak komunikasi. Penilaian itu terlihat saat Jokowi memilih menu yang disajikan, bahasa yang dikemukakan oleh Jokowi adalah bahasa rakyat yang mudah dimengerti.           
“Beliau pesan ketan original bubuk, sama kopi serta wedang jahe,” ujar Eko ditemui Malang Post, kemarin (19/10). Melihat orang-orang di sekeliling Jokowi saat itu, semuanya cair tanpa ada kekakuan, malah terkadang terdengar gelak tawa dari meja Jokowi yang berada di sisi Timur Warung Ketan ini.           
Hal senada dikemukakan oleh Sugeng Hadi, ia melihat Jokowi adalah orang yang enak diajak berbicara, sederhana namun memiliki pengetahuan luas dalam banyak hal. Termasuk masalah ketan, Jokowi sangat paham semua proses pengolahan jajanan ini, maklum Jokowi berasal dari Surakarta.           
“Beliau memuji ketannya enak, tak kalah dengan ketan Solo,” ujar Sugeng. Hanya ada beberapa yang sedikit berbeda dari ketan solo dimana selain terdapat parutan kepala dan ditaburi bubuk kedelai diberi siraman juruh (sirup gula Jawa).           
Lain lagi kesan yang ditangkap Cahyo Edi Purnomo, Ketua DPRD Kota Batu, ia melihat Presiden RI ke-7 ini sosok yang sederhana, lugu, santun, mandiri dan tidak ribet. “Walaupun waktu itu beliau seorang calon presiden, beliau mau bergaul dan berbaur dengan semua masyarakat yang Batu yang ditemui,” ujarnya.           
Ada satu hal yang paling berkesan dirasakan oleh Cahyo waktu itu. Saat itu ia sedang duduk memimpin rapat di aula Hotel Jambuluwuk (seluruh pesertanya adalah Ketua DPC PDIP se-Jatim).       
“Beliau (Jokowi) yang berada di dekat saya, mendadak jari tangannya dilipat diletakkan di paha saya sambil berucap, tolong dibantu ya mas, saya kaget, berapa sopannya beliau,” terang Cahyo.(M. Erza Wansyah/M.Dhani Rahman/ary)