Temukan Penanda Peradaban di Ranu Kumbolo

RANU Kumbolo menyimpan jejak perabadan masa lalu. Selain terdapat prasasti, danau yang terletak diketinggian 2.400  meter di atas permukaan laut (mdpl) itu diduga masih menyimpan tanda-tanda peradaban asalkan dieksplorasi lagi. Saat sejumlah penanda peradaban  masih tampak di sekitar danau tersebut.
Kabut tebal paling doyan menutup Ranu Kumbolo. Dingin yang menusuk tulang menjadi salah satu identitas Ranu Kumbolo selain pemandangannya yang sangat menawan. Tim Ekspedisi Samala Malang Post mengeksplorasi jejak sejarah lain dari sejumlah penanda yang tampak di sekitar Ranu Kumbolo.
Sebagian permukaan batu besar berada tak jauh dari bibir Ranu Kumbolo dan tanjakan cinta, sebuah tanjakan untuk melanjutkan perjalanan ke Gunung Semeru. Rumput liar menutup sebagian permukaan batu vulkanik tersebut.
Bersama beberapa warga Ranu Pani, Tim Ekspedisi Samala  membersihkan batu  yang semula  hanya diduga sebagai batu biasa. Semakin dibersihkan, wajah di permukaan salah satu sisi batu muncul bekas tulisan yang sudah tersamar.
Namun goresan yang membentuk formasi tulisan masih tampak jelas. Hanya saja sudah sangat sulit dibaca. Namun jika diamati secara detail, terdapat sekitar tiga baris bekas tulisan kata atau kalimat.
“Ukuran bekas tulisan di batu ini sama seperti tulisan Pu Kameswara Tirthayatra di prasasti yang terletak di tepi Ranu Kumbolo,” kata Shuvia Rahma dan Bagus Ary Wicaksono, dua anggota Tim Ekspedisi Samala yang melakukan pengukuran jejak tulisan menggunakan meteran.
Ukuran bekas tulisan di batu vulkanik dengan tulisan di prasasti yang juga kerap disebut prasasti Ranu Kumbolo itu sekitar 5 Cm. “Tapi sayang sudah sangat samar. Ini perlu dieksplorasi lagi,” sambung Shuvia.
Tim ahli Ekspedisi Samala, Dwi Cahyono  mengakui tentang kemungkinan jejak tulisan di batu besar itu. Bahkan Dwi semula merasa terpanggil untuk mengeksplorasi jejak peradaban di batu yang dikelilingi rumput itu. “Saya menduga masih terdapat jejak peradaban di sekitar Ranu Kumbolo. Batuan yang tersebar di sekitar bisa saja bukan sekadar batuan biasa,” kata  arkeolog Universitas Negeri Malang (UM) ini disembari melakukan observasi di tepian Ranu Kumbolo.
Menurut Dwi, beberapa batuan yang tersebar di sekitaran Ranu Kumbolo tak menutup kemungkinan merupakan sisa-sisa peradaban zaman megalitik. Analisanya bersandar pada keberadaan Ranu Kumbolo yang menjadi sumber air. Misalnya sumber air untuk pertanian.
Apalagi tak jauh dari Ranu Kumbolo terdapat pangonan cilik, sebuah lembah yang kemungkinan awalnya terkoneksi dengan Ranu Kumbolo. Hanya saja sekarang di sekitar lembah tersebut sudah kering karena perubahan zaman.
“Ranu Kumbolo ini sangat menarik. Butuh eksplorasi lagi yang lebih dalam untuk mengungkap jejak peradaban di sini. Kalau dieksplorasi terus dan melakukan penelitian secara intens, bisa saja menemukan petunjuk peradaban yang pernah ada di Ranu Kumbolo,” kata Dwi.
Berdasarkan pantauan Tim Ekspedisi Samala, di sekitaran Ranu Kumbolo terdapat sebaran bebatuan. Namun bukan sekadar batu vulkanik biasa yang merupakan bekas letusan Gunung Semeru. Tak jauh dari panggonan cilik terdapat juga sebuah batu yang sebagian masih tertanam. Permukaan batu tersebut datar. Tim ekspedisi Samala telah observasi kondisinya. Namun tak ditemukan bekas aksara yang tersisa.
Namun jika diamati bentuknya yang tertata, bisa saja bebatuan tersebut juga merupakan bagian dari peninggalan zaman megalitik. Hanya saja, sekali lagi, butuh penelitian yang lama untuk membuktikan dugaan-dugaan itu.
Di balik sebaran jejak peradaban di Ranu Kumbolo, masyarakat Ranu Pani memiliki cerita tersendiri. Cerita ‘dunia lain’  danau tersebut tentang ‘penghuni’ Ranu Kumbolo. Tuangkat, salah seorang pegiat budaya Ranu Pani menuturkan, penunggu Ranu Kumbolo bernama Singo Barong. Dinamai Singo Barong karena berdasarkan penglihatan mereka bentuknya menyerupai singa.
“Singo barong itu punya dua putri, yakni Puspo Dewi dan Raja Dewi. Yang Puspo Dewi itu berupa naga putih,” tuturnya. Singo Barong, kata Tuangkat, mendiami prasasti Ranu Kumbolo.
Pendaki maupun wisatawan yang berkunjung ke Ranu Kumbolo tak boleh berbuat sembarangan. Ia lantas mencontohkan, seorang pendaki pernah kemasukan Singo Barong hingga lima hari. Penyebabnya, ternyata pendaki tersebut menjemur pakaian dalamnya di prasasti. Setelah meminta maaf, akhirnya pendaki itu sadar.
Hikayat dan cerita mistis memang terdapat di berbagai tempat, termasuk di Ranu Kumbolo. Namun cerita-cerita tersebut setidaknya tetap memiliki pesan bernilai. Yakni agar berperilaku santun serta tak merusak Ranu Kumbolo dan sekitarnya. “Pendaki selalu diberitahu agar tak membuang sampah sembarangan. Bertutur dan berperilaku yang santun. Setidaknya ikut menjaga Ranu Kumbolo,” kata Tuangkat. (van/han/bersambung)