Ciptakan Pembuka Tutup Galon

Peneliti Remaja Wakili Indonesia di IEYI 2014
Ide terkadang datang dari arah yang tak terduga. Peristiwa sederhana yang bagi sebagian orang biasa saja, bisa menjadi awal mula penciptaan karya hebat. Seperti pengalaman dua siswa SMPN 6, Dimas Fahrizal Ramadhany dan Bening Sasmita Adam.
    Tak ada suara berisik atau gaduh di salah satu ruang kelas SMP Negeri 6 Malang. Hanya sesekali terdengar gurauan kecil dari sekelompok anak yang tergabung dalam Kelompok Ilmiah Remaja SMPN 6 Malang (KIR Spenmal). Maklum, hampir setiap ada waktu senggang, mereka disibukkan untuk mencari dan menciptakan alat baru. Sebagai anggota KIR, mereka wajib merancang konsep dan desain dari ide yang akan mereka wujudkan menjadi sebuah alat temuan baru.
Di antara sekumpulan siswa dan siswi yang tergabung dalam kelompok ilmiah tersebut, ada dua cowok yang sedikit terpisah dari teman-teman lainnya. Keduanya terlihat sangat serius mengamati alat temuannya. Ya, mereka adalah Dimas Fahrizal Ramadhany dan Bening Sasmita Adam, siswa kelas IX yang menjadi satu-satunya wakil dari Indonesia asal Malang di ajang International Exhibiton of Young Inventor (IEYI) 2014. Rencananya, kompetisi dengan level internasional tersebut bakal dihelat di Jakarta pada 29 Oktober hingga 1 November.
“Saat ini memang kami sedang persiapan untuk membenahi alat temuan kami berdua ini. Hanya butuh pembenahan sedikit biar tidak ada yang miss saat kami bawa ke Jakarta nanti,” sapa Dimas kepada Malang Post.
Alat temuan mereka berdua cukup sederhana jika dilihat dari segi fisik, hanya sebuah pembuka tutup galon. Dengan rangkaian dari beberapa besi yang menjadi bahan dasarnya, mereka berdua mencoba menciptakan sebuah alat yang belum pernah diusulkan atau dipublikasikan secara umum. Namun jika dilihat secara seksama dari segi fungsi dan manfaatnya, ternyata alat temuan mereka berdua mampu membuat orang yang melihat akan kembali berpikir untuk menggunakan alat tersebut. Sebagian besar masyarakat Indonesia, terutama warga Malang hampir di setiap rumahnya selalu ada galon. Saat mereka akan membuka galon, kebanyakan masih menggunakan pisau yang dapat menyebabkan luka atau cedera sewaktu-waktu.
Karena itu, keduanya menciptakan alat tersebut untuk membantu ratusan ribu atau bahkan jutaan konsumen. Meskipun alat tersebut terlihat sederhana, namun Adam dan Dimas butuh waktu lama untuk bisa menemukan inspirasi dan ide yang ternyata datang secara kebetulan. Secara tak sengaja, baik Adam dan Dimas melihat orang tuanya kesulitan saat membuka tutup galon air isi ulang.
“Waktu itu memang saya pulang dari sekolah melihat ayah kesulitan membuka tutup galon. Ayah saya hanya memegang pisau untuk membukanya. Kan bahaya juga kalo sampai tangan ayah cedera atau luka. Itulah mengapa akhirnya kita berdua sepakat untuk menciptakan alat yang lebih mudah dan aman,” papar Adam.
Setelah melalui riset hingga uji coba selama empat kali bersama pembimbing KIR Spenmal, akhirnya alat milik mereka berdua tercipta. Seusai mendapat revisi dan saran tambahan dari pembimbing, akhirnya alat tersebut diikutkan dalam kompetisi National Young Inventor Awards (NYIA) tahun 2013 lalu. Hasilnya cukup membuat mereka berdua terkejut.
“Kami waktu itu sempat nggak percaya dengan capaian yang kami raih. Tapi, Alhamdulillah LIPI selaku penyelenggara sangat mengapresiasi hasil temuan kami. Sehingga saat ini kami diberi kesempatan untuk mewakili Indonesia di ajang internasional dengan alat temuan kami tadi,” ujar Dimas penuh semangat.
Alat tersebut berukuran kecil dengan tinggi hanya 7,5 cm dan diameter lubang berukuran 6,3 cm. Dalam kesempatan tersebut, Adam juga menjelaskan kepada Malang Post bahwa alat temuan mereka bisa sebenarnya dengan mudah dibuat oleh siapapun. Hanya saja, karena mereka berdua belum mendapatkan hak paten dari lembaga yang berwenang, mereka belum berani memaparkan cara pembuatannya kepada media.        
“Kami takut apabila alat temuan kami ini nantinya belum mendapatkan hak paten secara sah tapi sudah ada yang meniru dan memproduksinya dalam jumlah besar,” celoteh bocah kelahiran Jogjakarta tersebut.
Tak hanya Adam, Dimas pun juga berpikiran setelah alat temuan mereka berhasil membawa nama Indonesia di kancah internasional, dirinya berkeinginan pembuka tutup galon itu bisa segera dipatenkan. Pasalnya, jika alat tersebut sudah bisa dipatenkan secara sempurna, nantinya mereka akan mengajak kerjasama beberapa perusahaan air minum gallon.
“Mengingat alat ini memang berguna bagi masyarakat luas, khusunya bagi mereka agen penjual air isi ulang dan ibu rumah tangga yang selalu menggunakan air isi ulang sebagai kebutuhan masak atau minum. Sehingga ini perlu untuk diproduksi secara massal,” jelas cowok penyuka pelajaran Biologi tersebut.
Pembimbing ekstrakurikuler KIR SMPN 6 Malang, Sri Gilang M.S.R.P, mengungkapkan mencari ide atau menemukan sebuah temuan baru sebenarnya tak perlu harus merenung lama atau memikirkan hingga resah. Yang terpenting adalah kemampuan panca indera seseorang harus benar-benar dilatih untuk lebih sensitif.
 “Coba bayangkan jika mereka berdua tidak memiliki kemampuan dan sensitivitas yang tinggi dari organ panca indra mereka. Ayahnya yang setiap hari kesulitan membuka tutup botol tidak akan menjadi ide yang bagus untuk menciptakan sesuatau yang baru. Itulah mengapa seorang penemu atau ilmuwan terlebih anak muda perlu mendapat arahan yang tepat,” terang Gilang.
Pria lulusan Universitas Brawijaya ini juga menjelaskan perannya sebagai pembimbing bagi mereka berdua dan anak-anak KIR Spenmal lainnya tidaklah sampai mencampuri dalam hal pencarian ide dan eksekusi terhadap alat temuan dari ide mereka. Ia hanya akan mengarahkan dan membebaskan anak didiknya untuk mencari ide seluas mungkin dari kejadian-kejadian sehari-hari yang ada di sekitar.
“Tidak perlu terlalu jauh untuk mencari ide. Carilah ide yang ada di sekitar kalian dan terjadi berulang-ulang kali. Jika itu menjadi sebuah masalah, maka temukanlah solusinya. Itu yang selalu saya canangkan di benak anak-anak KIR SMPN 6 Malang ini,” pungkasnya. (healza kurnia/han)