Berawal dari Ijuk Atap, Rambah Pembuatan Gazebo

SANTAI: Putra pertama Muhammad Toha, M Imron Fauzi di gazebo buatan orang tuanya yang siap jual.

Bambu bagi sebagian orang menjadi tanaman yang kurang memiliki nilai jual tinggi. Namun, tidak demikian bagi Muhammad Toha, 46 tahun warga Jalan Prof M Yamin, Kelurahan Sukoharjo, Kecamatan Klojen, Kota Malang. Berkat tangan dinginnya dalam menyulap bambu, tanaman itu kini bernilai jual tinggi.
Gazebo. Itulah salah satu karya tangan dingin dari bapak empat anak itu. Dengan memanfaatkan bahan inti dari bambu yang perbatangnya dibeli seharga sekitar Rp 20 ribu itu ia membuat usaha yang baru dirilisnya delapan bulan lalu. Hasilnya, gazebo karyanya banyak dicari masyarakat kalangan menengah ke atas.
Mengawali usahanya yang baru seumuran jagung, modal yang digunakan Toha pun terbilang kecil yakni sekitar Rp 1,5 juta. Dengan memperdayakan warga di sekitar lingkungannya antara dua sampai tiga orang, modal itu digunakan untuk membeli lonjoran (batang) bambu sebagai bahan inti gazebo.  Selain bambu biasa, untuk pondasi gazebo juga digunakan bambu jenis petung yang ukuran diameternya jauh lebih besar.
Dari bahan yang sudah dibelinya itu, satu persatu lonjoran bambu dipotong sesuai dengan fungsi dan ukuran gazebo yang akan dibuat. Dengan modal yang terbilang terbatas, ia pertama kali membuat gazebo dengan ukuran 2 meter x 2 meter. Untuk membuat itu, ia hanya melakukan pemilahan bambu untuk pondasi (bambu petung), empat tiang gazebo, dasar gazebo, sandaran dan sisi per masing-masing gazebo. Sebagai lantai atau dasar, bambu pun di potong dengan ukuran sedang.
Begitu proses pemotongan rampung, barulah satu persatu bambu yang sudah disiapkan, mulai dibentuk sesuai dengan ukuran yang akan dibuat atau dipesan customer. Dari rangkaian yang nantinya berbentuk kerangka, diteruskan dengan pemberian anyaman di tiga sisi gazebo yang dipakai untuk bersandar.
“Biasanya, pada bagian bawah akan diberi dengan anyaman gedek. Khusus yang satu ini, saya memberdayakan warga untuk membuat dan dijual ke kami. Sedangkan pada sisi atas gedek, diberi potongan bambu untuk bersandar. Sehingga, selain bisa menikmati udara segar yang masuk, pemakai bisa bersandar di dalam gazebo,” terang Toha.
Setelah kerangka dan sisi tengah gazebo selesai, proses pembuatan kemudian diteruskan pada sisi atas. Khusus yang satu itu, ia memanfaatkan ijuk (dari pohon Aren-Dodok) atap sebagai peneduh gazebo. Karena pekerjaan sehari-harinya juga menjual ijuk atap, maka bahan itu pun mudah didapatnya untuk langsung digunakan. Gazebo dengan ukuran minimalis yakni 2 meter x 2 meter, biasanya hanya membutuhkan sekitar 30 kilogram ijuk atap.
Begitu bentuk gazebo sudah rampung, tibalah pada penghalusan bentuk. Biasanya, ia mulai melakukan pengecatan hingga memberikan potongan rotan di masing-masing titik penyambungan bambu. Karena, selain perlu dipaku untuk menguatkan bentuk gazebo, rotan dimaksudkan untuk membantu pemakai agar lebih nyaman atau tidak tergores dengan sambungan bambu.
“Ketika gazebo sudah jadi, maka untuk penjualannya per satu unit minimal seharga Rp 2 juta,” katanya seraya akan mengembangkan usaha itu hingga ke kawasan Bali dan Jogjakarta.
Toha sendiri mengawali usaha barunya itu setelah melihat perkembangan kawasan perumahan dan perhotelan yang sangat tinggi di kawasan Malang Raya. Dari kesibukannya yang aktif menjual ijuk atap, munculah ide untuk mengembangkan gazebo dengan memanfaatkan banyaknya mampu yang masih mudah dibeli.
Khusus ijuk atap, pemasaran yang dilakukannya sudah menembus sejumlah lokasi wisata. Mulai Wendit, Sengkaling, Kota Batu hingga Taman Safari. Dari sejumlah potensi itu pula, pengembangan akan dilakukan secara bertahap.
“Dalam pembuatan gazebo, tingkat kesulitannya saat melakukan pemasangan atau penyambungan bambu satu ke bambu yang lain. Karena, sistem yang digunakan adalah dengan melubangi. Jadi, harus pas sehingga gazebo tidak miring,” tambahnya.
Semangat Toha dalam membuat gazebo, tidak hanya dilatar belakangi oleh permintaan pasar yang bagus dan mudahnya bahan dasar yang gampang diperoleh. Tetapi, juga pada fungsi dan daya tahan gazebo tersebut. Dalam tempo minimal 5 tahun, gazebo tidak akan mengalami kerusakan.
Sebaliknya, kalau pun gazebo tersebut rusak, maka tingkat kerusakan hanya pada ijuk atap. Sementara pada sisi-sisinya, hanya memerlukan pengecatan atau penyesuaian warna. Dengan catatan, karena gazebo yang dibuatnya berbahan dasar bambu, pada empat pondasinya diberi alat bantu sehingga tidak bersinggungan langsung dengan tanah yang berpotensi untuk keropos atau dimakan rayap. (sigit rokhmad/han)