Bawa Sesajen Keliling, Ditutup Ruwatan Sangkala

MEMBELUDAK: Penonton ritual tidak hanya berasal dari Malang Raya tapi juga luar daerah sampai Jakarta.

Area terminal Wonosari Kabupaten Malang kemarin menjadi lautan manusia. Mereka tidak hanya berasal dari desa setempat, tapi juga datang dari jauh, bahkan ada yang dari Jakarta. Mereka ingin melihat secara dekat upacara adat yang digelar Desa Wonosari.
Ya, seperti tahun-tahun sebelumnya, desa ini menggelar ritual  kirab budaya yang kali ini diikuti oleh 14 kontingen, dengan rincian 13 dari warga mewakili RW dan satu kontingen dari desa. Kirab ini sangat meriah dan memukau. Dimulai dari terminal Wonosari. Peserta yang datang mulai pukul 08.00 ini lebih dulu unjuk kebolehan dengan menari di area terminal. Iringan musik dari alat drumband memberi mereka semangat.
Tidak satupun dari penonton yang mengeluh meskipun terik matahari sangat menyengat. Begitu juga dengan peserta kirab, terlihat sangat puas karena bisa tampil dan eksis. "Senang juga. Event ini, selain menjadi upacara adat juga ajang silahturahmi," kata Suparmi dari RW 3 Desa Wonosari. Tidak hanya Suparmi, peserta lain pun mengatakan yang sama. Mereka sangat lincah menari. Untuk pertunjukan di terminal ini hanya peserta wanita saja, sedangkan peserta pria memilih menunggu. Tidak semua kontingen bisa tampil, namun ini saja sudah cukup memuaskan warga yang sejak pagi memadati area terminal.
Warga yang datang dari berbagai penjuru ini sempat membeludak di area terminal. Tapi mereka kemudian naik di tempat yang disediakan panitia. Di area terminal, anitia hanya membatasi untuk peserta yang show dan wartawan serta fotografer yang mengambil gambar. Meskipun melihat dari atas, warga juga mengaku sangat puas. Bahkan menurut mereka, pemandangannya terlihat lebih menarik.
Pukul 11.00, peserta diberangkatkan oleh Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Malang Made Arya Wedhantara. Selama perjalanan peserta tidak diam. Mereka tetap menari. Bahkan beberapa di antaranya juga menyanyi. Aktivitas inilah yang berbeda dengan karbaval lainnya.
Namun setelah melewati pintu keluar terminal, peserta tidak bisa bergaya bebas lagi. Itu karena warga sudah banyak memadati jalan. Tidak ada kendaraan lewat, karena untuk kegiatan ini desa memilih menutup total. 13 kontingen tersebut membawa sesaji yang oleh warga disebut julen dengan bentuk bermacam-macam. Ada kotak harta, ada Arjuna, celengan, kapal laut dan lainnya.
Julen ini lalu diarak keliling desa melalui gapura pintu masuk pesarehan Gunung Kawi, untuk dibawa ke areal Pesarehan. Warga secara bersama-sama melakukan ritual ikrar selamatan desa dan rangkaian royok sesaji. Dimana tumpeng yang diletakkan pada julen diperebutkan oleh peserta kirab dan seluruh pengunjung desa wisata Gunung Kawi.
"Kegiatan ini pada dasarnya adalah untuk menghormati almarhum Eyang Djoego dan Almarhum Raden Mas Imam Sudjono yang telah disemayamkan di Pesarehan Gunung Kawi. Di mana lantaran beliau berdua dan atas rahmat Allah SWT, Desa Wonosari banyak dikunjungi wisatawan yang telah membawa kesejahteraan bagi masyarakat desa," terang Ketua Panitia Gebyar Ritual 1 Suro 2014 Subowo.
Selain itu, pria ini juga mengatakan  dengan mengadakan kegiatan selamatan, masyarakat Deaa Wonosari berharap agar Allah SWT akan memberikan kenikmatan yang berlimpah kepada desa dan masyarakat.
Dalam prosesi kirab, peserta tidak hanya diam tapi juga melakukan aksi tari-tarian yang diiringi dengan musik dari band, atau tabuhan terbang. Bupati Malang  Rendra Kresna pun sangat mengapresiasi event tersebut. Ia mendukung penuh kegiatan ini. "Gebyar Ritual 1 Suro Gunung Kawi ini menjadi magnet para wisatawan, tidak hanya lokal tapi juga mancanegara," katanya. Pria ini juga sangat mendukung keaktifan warga. Terlebih saat ini, wisatawan memberikan kontribusi sangat bagus dan itu dibuktikan dengan pembangunan infrastruktur di desa ini yang sangat maju.
Kegiatan ini diakhiri dengan ruwatan sangkala. Tahun ini sangkala di bawa oleh RW 08 Desa Wonosari, yang memjadi pemenang kirab tahun lalu. Seperti peserta lain, Sangkala juga diarak keliling desa diiringi dengan musik dan tari. Di garis finis, Sangkala langsung dibakar.  "Sangkala (Butho Kolo) merupakan perwujudan dari nafsu manusia (nafsu angkara murka/amarah), nafsu mengejar kenikmatan," kata Kepala Desa Wonosari Kuswanto.
Pembakaran Sangkala menggambarkan bahwa dengan nafsu manusia akan disucikan. Dia juga menguraikan masyarakat diajak untuk siap memasuki dan memaknai tahun  baru dengan sebuah daya hidup yang sepenuhnya baru. "Berharap menemukan makna kehidupan yang sesungguhnya sehingga akan kembali suci untuk dapat menjalani tahun baru 1436 H dengan kesucian hati, dan akan tercipta tata kehidupan yang lebih baik, harmonis, tenteram damai, jauh dan angkara," tandas Kades.
Sementara ketua RW08 Desa Wonosari Hendro Wahyudi mengatakan, Sangkala yang dibuat adalah sosok raksasa setinggi 7 meter dan lebar 2 meter. Raksasa tersebut digambarkan naik kereta naga yang ditarik kerbau dan serigala. Untuk menggambarkan kejahatan, raksasa dan dua hewan penarik memiliki taring dengan mata berwarna merah menyala. "Kami membuat Sangkala selama sebulan, dengan biaya Rp 12,5 juta. Dana tersebut dari swadaya," tandas Hendro.
(vik)

Hanya julen saja yang menjadi harapan peserta agar mereka tetap bisa tampil maksimal. Itu karena pembawa julen memaksa warga yang menonton mundur. Termasuk panitia "ayo bu dimasih jalan,'" kata panitia. Sementara warga laimn yang terpukau dengan julen yang dibawa peserta pun memilih mengabadikannya, baik melalui kamera pomet, kamera profezional afaupun HP.
Dengan beratraksi peserta tetap berjalan menyusuri jalan aspal. Selanjutnya mereka pun masuk ke jalan kampung menuju pezarean. Meskipun dijalan kampung mereka tetap beratraksi. Dan irinngan musimk drumband juga tidak pernah berchenti. Di jalan kampung warga pun terlihat membludak. Bahkan mereka tidak segan mengiringi peserta dari belakang.
Kirap budaya ini berakhir di lapangan. Di lapangan ini peserta kembali unjuk gigi. Termasuk pembawa julen pun eksis di lapangan ini. Tempat yang lebar membuat mereka bebas beratraksi.
Sementara penonton yang memblubdak lebih memilinh duduk di tribun yang tersedia di lapangan tersebut. Menurut Kades Wonosari Kuswanto, tribun ini sengaja dibuat untuk berbagai pagelaran. Di tribun penonton pun melihat dengan terpesona. Maklum
Warga melihat dengan sangat jelas. Aksi peserta sempat berhenti saat Bupati Rendra Kresna datang. Tp begitu sesaat kemudian atraksi kembali terlihat. Bahkan peserta sempat menari masal. Hingga alhir acara adalah membakar sangkala. Kades Wonosari berperan. Layaknya sang arjuna kades ini memanah sangkala dari rw 08 kemudian membakarnya.
Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Malang Made Arya Wedhantara mengatakan Gebyar Ritual 1 Suro Gunung Kawi tahun depan akan diikutkan dalam Anugerah Wisata Jatim. Tahun 2006 lalu, pihaknya mengikutkan event ini dan menjadi juara. (ira ravika/han)