Berlari ke Puncak Mahameru Hanya 8 Jam, Pendaki Biasa 3 Hari

Baru dua tahun menentukan pilihan pada olah raga marathon gunung, Juanico Coli Chepeda langsung mengukir prestasi dunia. Olah raga yang dipilih oleh mahasiswa berusia 22 tahun ini bukan olah raga biasa lantaran medan laganya selalu  ekstrim. Kini, mahasiswa Universitas Merdeka (Unmer) Malang ini ingin mengobarkan semangat nasionalisme melalui marathon gunung.

Penampilan mahasiswa yang akrab disapa Juan ini tak menunjukkan diri sebagai atlet olah raga ekstrim. Ia kerap mengenakan kemeja lengan panjang. Sederhana dan ramah adalah ciri khas Juan.  
Namun di balik kesederhanaannya, Juan memilih olah raga yang tak biasa, yakni marathon gunung. “Marathon gunung adalah olah raga lari di gunung. Dari bawah, ke lereng hingga puncak gunung,” terang Juan, memperkenalkan marathon gunung.
Tak sekadar lintasannya  yang berat lantaran harus berlari kencang menanjak di lereng hingga puncak gunung, olah raga ini biasanya digelar tengah malam hingga pagi pada suhu yang sangat
dingin. Selain itu biasanya  berlangsung sepanjang hari atau selama 24 jam.
Mahasiswa semester 5 jurusan Mesin, Fakultas Teknik Unmer Malang ini mengenal marathon gunung dari Iwan Priyadi, seniornya di Impala, organisasi pencinta alam mahasiswa Unmer Malang.
“Saat saya mendapat penjelasan tentang olah raga ini, saya langsung tertarik karena saya suka mendaki gunung dan juga suka lari,” katanya. Usai mendapat cerita dari seniornya, pria kelahiran Same, Timor Leste yang kini berdomisili di Soe NTT karena tetap memilih sebagai WNI ini mulai berlatih.
Sadar olah raga yang dipilihnya merupakan olah raga ekstrim, Juan memulai latihan secara esktrim pula. “Saya latihan lari di Gunung Semeru. Saya lari dari Ranu Pani sampai ke Puncak Mahameru lalu balik lagi ke Ranu Pani,” ujarnya.
Putra kedua dari enam bersaudara ini mencatat rute yang ditempuhnya saat latihan lari di Gunung Semeru itu sepanjang 34 Km. Yakni dari start dan finish di Ranu Pani. Bukan masalah jarak tempuh, tapi medan latihannya di Gunung Semeru terbilang berat.  Yakni harus melewati  tanjakan dengan kemiringan rata-rata mulai dari 60 derajat sampai 90 derajat. “Saya start jam 00.00 WIB dari Ranu Pani. Tiba di puncak Mahameru jam 05.00 WIB lalu foto sebagai bukti telah sampai puncak terus langsung turun dan kembali ke Ranu Pani. Saya tiba di Ranu Pani jam 08.00 WIB. Ya saya tempuh sekitar delapan jam,” terangnya.
Waktu tempuh Juan menembus puncak Mahameru terbilang sangat cepat. Bayangkan saja, seorang pendaki Gunung Semeru rata-rata membutuhkan waktu tiga sampai empat hari untuk mencapai punak gunung tertinggi di Pulau Jawa itu.
Soal  jalur ke Gunung Semeru, Juan terbilang sudah hafal. Sebelum latihan, ia telah lima kali ke Gunung Semeru. Karena itulah, dia tak bakalan nyasar untuk mencapai puncak Mahameru setinggi 3.676 meter di atas permukaan laut (mdpl).
Selama latihan, pria ramah ini mengaku selalu lari sepanjang rute. Namun demikian, ia berusaha untuk istirahat. Hanya saja, istirahat ala Juan berbeda dengan kebanyakan pendaki, terutama pendaki pemula. “Kalau istirahat ya saya tetap jalan. Jalan itu istirahat,” ucapnya sembari tersenyum.
Gigih berlatih, Juan pun mulai menoreh prestasi olah raga yang baru dikenalnya itu. November 2013 lalu merupakan pertama kalinya dia ikut lomba. Yakni Ultra Marathon Bromo Tengger Semeru. Ini merupakan even internasional yang diselenggarakan Ultra, sebuah komunitas lari ekstrim tingkat dunia yang berpusat di Perancis.
Rutenya start dari Lava View Bromo, lalu ke padang pasir kemudian naik tanjakan B29 Bromo menuju Ranu Pani, Ranu Kumbolo, Kali Mati, lalu kembali ke Ranu Kumbolo, naik di tanjakan Ayak-ayak, dilanjutkan ke Ngadas, naik ke Jemplangan, lalu ke Bromo lagi kemudian memutar di kaldera Bromo. Setelah itu di Lava View.
Total rute yang dilewatinya itu sepanjang 102 Km. Start dari jam 00.00 WIB kemudian finish pada jam 23.54 WIB. Jadi total lama lari 23 jam, 54 menit. Saat itu, lomba tersebut diikuti 30 peserta dari 15 negara. Di antaranya Perancis, USA, Singapore, Malaysia dan sejumlah negara lain. Peserta dari Indonesia sebanyak 10 orang berasal dari Bandung, Jakarta dan Malang. Kendati bersaing di medan berat dan menjadi lomba pertamanya di olah raga ekstrim, Juan berhasil meraih juara 1. Hadiah yang diraihnya berupa sebuah headlamp seharga Rp 1,5 juta dan sepatu gunung dengan harga Rp 1,2 juta.
9 Agustus 2014, pria yang hobi sepak bola ini kembali ikut even internasional. Yakni Mount Rinjani Ultra. Dalam even ini, Juan harus berlari mencapai puncak ketinggian  Gunung Rinjani di NTB. Untuk mencapai puncak gunung setinggi 3.726 mdpl itu, Juan harus berlari sejauh 52 Km dengan menembus tanjakan terjal di atas 60 derajat. Melintasi medan yang berat, ia meraih juara tiga setelah menempuh waktu 14 jam, 18 menit. Juara satu di even tersebut diraih oleh pelari asal USA dan juara dua dari Inggris.
Selalu mencatat juara di negeri sendiri, 18 Oktober lalu, Juan terbang ke Malaysia. Kali ini dia mengikuti Climbathon di Gunung Kinabalu. Panjang rute yang ditempuh untuk mencapai finish di gunung yang memiliki tinggi 4.095 mdpl itu sepanjang 33 Km.
Untuk berjuang di negeri orang, Juan harus tampil ekstra. Tapi sayang, kaki kanannya mendadak cedera karena mengalami sobek otot dalam. Sakitnya sangat terasa, bahkan pergelangan kaki kanannya tak bisa ditekuk.  “Sekalipun cedera saya tetap berlari hingga memasuki finish,” katanya.
Kendati tak sampai meraih juara di Kinabalu, Juan tetap bangga.  Karena ia bersaing dengan atlet dari berbagai belahan negara. Di antaranya USA,  Malaysia, Nepal, Jepang, Philipina, Kenya dan Perancis.
Dua kali menang dilomba marathon gunung, Juan terus mengumpulkan poin. Saat ini dia telah mengantongi lima poin. Jika telah mengumpulkan tujuh poin, maka Juan akan mengikuti lomba serupa di Mont Blanc, yang merupakan puncak tertinggi di Perancis.
Sembari menuntaskan kuliahnya, ia tetap setia di marathon gunung. “Saya ingin membuat cerita sendiri dalam hidup saya. Selain itu ingin mengobarkan semangat nasionalisme,” pungkasnya.(vandri battu/han)