Penghilang Stres, Betah Enam Jam Menyambung dan Menjahit Kain

CANTIK: Guru Besar ITN, Prof Tri Poespowati, menunjukkan kerajinan quilting bermotif mirage yang cantik miliknya.

Di tengah kesibukan sebagai pengajar di Institut Teknologi Nasional (ITN) Malang dan peneliti Teknik Kimia, guru besar ITN Prof Tri Poespowati, tidak lupa untuk terus berkarya. Meski setiap hari dia harus berhadapan dengan mahasiswanya, Puspa, panggilan akrab wanita kelahiran 2 Agustus 1958 ini, tetap setia melakukan hobinya.
Saat masuk ke rumahnya, pandangan mata langsung dimanjakan dengan keindahan belasan lukisan yang menghias dinding rumah istri dari Djoko Prayudo ini. Ditambah dengan desain rumah bernuansa klasik, rumah Puspa terasa hangat. Tak lama menikmati suasana lantai satu, Puspa mengajak Malang Post beranjak ke lantai dua rumahnya. Di sana, puluhan kain bewarna-warni dengan motif bermacam-macam, memenuhi ruang tengah lantai dua rumah di kawasan Jl Bunga Lely Lowokwaru Malang itu. Kain-kain hias itu disebut kerajinan quilting.
Telinga masyarakat Indonesia memang masih asing dengan istilah seni quilting ini. Ini wajar, karena seni dari bangsa Amish, Amerika Latin tersebut, belum lama masuk ke Indonesia. Bahkan, di Malang sendiri kerajinan tangan ini belum booming.
"Selama ini, saya belum pernah lihat ada industri quilting di Malang. Seni ini, memang baru besar di Jakarta dan Bandung. Surabaya saja, sepertinya belum ada," ujarnya kepada Malang Post saat ditemui Selasa (28/10/14) lalu.
Bila dilihat sekilas, kerajinan quilting tampak seperti kerajinan kain perca biasa. Bisa digunakan untuk bed cover, selimut, sajadah, hiasan dinding, sarung bantal, dan sebagainya. Akan tetapi, bila diperhatikan dengan seksama, tingkat kesulitan quilting tidak semudah yang dibayangkan. Kerajinan dari kain perca biasa, tinggal membentuk sebuah motif baru dari potongan kain perca. Sedangkan dalam quilting, tidak sembarang potongan kain bisa dipakai. Perajin harus pintar menentukan ukuran potongan kain, untuk membentuk sebuah motif baru. Tidak hanya itu, jumlah corak kain dan jumlah potongan juga menentukan.
"Misalnya, untuk membuat motif Mirage, dibutuhkan sedikitnya 20 corak warna," ujar Puspa.
Tidak cukup menentukan 20 corak warna saja karena perajin juga harus menyesuaikan ukuran potongan. Dalam motif Mirage, sedikitnya dibutuhkan 500 potongan kain. Dan potongan kain dari satu corak, jumlahnya beragam. Sementara dalam satu motif, potongan tidak selalu berbentuk bujur sangkar, tapi memiliki bentuk berbeda pula.
Selain bujur sangkar, bentuk potongan kain ini, ada yang trapesium, jajar genjang disesuaikan dengan motif apa yang ingin dibuat. Bisa dibayangkan, bagaimana rumitnya seni quilting ini. Tapi kesulitan itu seolah dilakukan dengan mudah oleh Puspa. Kepada Malang Post, Puspa mendemokan dengan lihai bagaimana menjahit satu demi satu potongan kain tersebut, menyambungkannya dengan potongan lain, kemudian menjahitnya lagi, disambungkan lagi dan terus menerus seperti itu.
"Bila ingin motif melengkung, tentunya setiap potongan harus dibuat mengecil. Ketika sudah jadi, otomatis nanti bentuknya terlihat melengkung," jelasnya singkat.
Meski sudah mahir, Puspa mengaku tidak mendapatkan kemampuan itu dengan mudah.  Ya, semuanya bermula saat dia lulus SMP. Saat itu, Puspa mulai senang di dunia jahit menjahit. Baru lulus SMP saja, dia sudah bisa membuat baju dari tangannya sendiri. Sejak saat itu, kemampuan menjahitnya terus dia asah.
Ketertarikan terhadap dunia quilting sendiri muncul saat Puspa tinggal lama di Australia. Saat itu, dia menemukan sebuah buku panduan tentang quilting tahun 2002. Setelah mempelajari banyak tentang quilting lewat buku, Puspa mencoba mengikuti kursus quilting di Australia pada tahun 2004. "Sejak saat itu, saya terus berlatih. Saya sering gagal, tapi dalam belajar, gagal itu wajar," jelasnya bijak.
Sampai hari ini, Puspa sudah memiliki 46 karya. Satu karya, dia kerjakan paling lambat satu minggu. Biasanya karya tersebut dia pajang sendiri di rumahnya. Ketika ada pameran, baru dia mengeluarkan semua karyanya itu.
Dalam setiap pameran, pengunjung selalu berminat untuk melihat-lihat kerajinan tangan milik Puspa. Bahkan, tidak sedikit yang berminat membelinya. Nilai tawar satu kerajinan quilting ini sangat tinggi. Satu buah quilting berukuran kecil dengan motif standar, bisa dijual sampai Rp 2 juta. Semakin rumit motifnya, semakin mahal harganya. Tidak tanggung-tanggung, harga kerajinan quilting bisa lebih dari Rp 15 juta. "Tapi saya masih belum menjajaki dunia bisnis, saya masih menjadikan (quilting) sebagai hobi," tandas wanita berusia 56 tahun ini.
Melihat kemampuan Puspa dalam seni quilting, seolah lupa bahwa sebenarnya dia adalah guru besar. Puspa memang bisa menghabiskan enam jam bila sudah mulai membuat kerajinan quilting, namun wanita berambut sebahu itu tetap setia dengan profesinya sebagai peneliti teknik kimia.
Di kalangan ilmuwan teknik kimia, nama Puspa sudah tidak asing lagi. Lulusan universitas ternama di Australia ini, menyandang gelar professor 2010 silam, dengan penelitian tentang energi terbarukan. Semenjak menjadi ilmuwan, Puspa sering mengikuti berbagai event international di berbagai negara.
Tahun ini saja, Puspa sedang melakukan penelitian tentang pemanfaatan makro Alga untuk bioetanol. Hasil penelitian ini akan dia presentasikan di Sydney dalam International Conferrence on Energy System Enginering Technology pada Desember 2014 mendatang. Di sisi lain, sehari-harinya dia habiskan dengan menjadi pengajar di ITN. Setiap malam, dia harus membuka materi-materi yang akan dia sampaikan ke mahasiswa. Apalagi saat ada tugas yang dikumpulkan, Puspa dengan ikhlas meluangkan waktunya untuk memeriksa tugas para anak didiknya tersebut.
"Sampai-sampai, saya selalu tidur di atas jam 12 malam. Kalau sudah pusing dengan kerjaan,  baru saya mulai quilting lagi. Quilting memang obat penghilang stres. Tapi, kalau sudah mulai quilting, saya sering lupa waktu. Soalnya asyik," pungkasnya. (Muhammad Erza Wansyah/han)