Kayu Masih Jadi Limbah, Daun Hasilkan Rp 27 Juta

Tak banyak yang mengenal pohon Kaliandra. Selain di beberapa tempat ada perbedaan nama, masyarakat lebih banyak mengenal pohon jati, sengon atau jabon. Maklum, kayu dari tiga nama pohon ini memiliki nilai ekonomis yang tinggi. Namun kini dengan sociopreneur penanaman Kaliandra yang dikembangkan Dahlan Iskan, pohon yang mudah tumbuh ini mulai dilirik. Termasuk di Malang Raya, pohon Kaliandra ternyata tumbuh subur. Bagaimana peluangnya?

    
Saat pegawai memulai aktivitas di kantornya masing-masing, Rabu (22/10) pagi sekitar pukul 08.00 WIB, tim sociopreneur Malang Post meninggalkan kantor Graha Malang Post di Sawojajar. Tim yang dipimpin Direktur Utama Malang Post, Juniarno Djoko Purwanto bergerak ke selatan, melewati Bululawang, ke arah Dampit.
Tidak berhenti di Dampit, tujuan perjalanan tim ini adalah Ampelgading, kecamatan terluar di wilayah Kabupaten Malang yang berbatasan langsung dengan Kabupaten Lumajang. Tak berhenti di pusat kecamatan dengan jalan beraspal halus, perjalanan berlanjut ke arah gunung Semeru, tepatnya di Desa Mulyosari.
”Beberapa hari lalu kita sudah ke sini, ikut tim Ekspedisi Samala Malang Post yang meneliti Candi Jawar, kita dapati di daerah Ampelgading ini ternyata banyak dijumpai pohon Kaliandra yang sedang dikembangkan Pak Dahlan, jadi sekarang kita datang lagi untuk survey,” ungkap Purwanto perihal perjalanan timnya.
Jika konsep awal Dahlan Iskan mengembangkan pohon Kaliandra untuk diambil kayunya sebagai bahan bakar biomasa, di Ampelgading atau di dearah kaki gunung Semeru, masyarakat lebih banyak memanfaatkan daunnya. Daun Kaliandra digunakan untuk pakan ternak kambing kini tengah diminati masyarakat.
Justru kayu Kaliandra bagi masyarakat peternak ini hanya dianggap sebagai ’limbah’. Mereka mengikatnya jadi satu, dan ditumpuk di samping kandang. Kayu dengan rata-rata diameter jempol orang dewasa ini dibiarkan begitu saja, selain untuk dibakar atau dijual, kalau ada orang yang mau ambil dan membelinya.
”Ya biasanya saya bakar, untuk penghangat, karena di sini dingin,” ungkap Cak Mis, salah satu warga Desa  Mulyosari yang berternak kambing. Penuturan pria yang kini memiliki 10 ekor kambing ini bisa jadi mewakili sebagian besar peternak lain yang menjadikan kayu Kaliandra hanya sebagai limbah.
 Pohon Kaliandra memang tumbuh subur, bahkan dalam kondisi musim kering sekalipun. Pohon yang memiliki kemampuan menyuburkan tanah ini memang termasuk jenis pohon pioner. Tanpa ada perawatan khusus bisa tumbuh dengan baik, dan hampir di sepanjang jalan kampung ada pohon Kaliandra.
Meski tumbuh subur dan terlihat tidak dipelihara, Kalindra tidak bisa ditebang atau diambil daunnya begitu saja. Pasalnya, pemilik lahan menjual daunnya untuk pakan ternak. Satu ikat Kaliandra atau sekitar 10 kg daun dijual seharga Rp 25 ribu, untuk satu hari pakan ternak 10 ekor kambing.
”Punya saya, saya pakai sendiri. Kalau sudah kehabisan baru beli,” terang Cak Mis yang mengaku pertumbuhan kayu Kaliandra cukup cepat. Usai dipotong, tiga bulan sudah tumbuh lagi untuk diambil daunnya.
Bisa dihitung, jika memiliki lahan pohon Kaliandra 1 hektar, diperkirakan daunnya cukup untuk sekitar 30 ekor ternak kambing dalam setahun, maka menghasilkan uang Rp 27 juta atau dalam sebulan Rp 2,25 juta. Hebatnya pohon Kaliandra setelah dipotong, menghasilkan cabang lebih banyak lagi dan hidupnya bertahun-tahun.
Menarik lagi, jika memiliki lahan sendiri dan juga memiliki ternak sendiri. Selain dari hasil ternak, bisa dapat hasil dari Kaliandra. Ternyata ini juga sudah dikembangkan salah seorang pengusaha asal Malang yang mengembangkan ternak kambing dan hutan Kaliandra di lereng gunung Semeru dengan ketinggian 1500 di atas permukaan laut.
”Kita ada 800 ekor kambing, punya lahan 12 hektar, dengan rincian 6 hektar Kaliandra dan 6 hektar rumput gajah untuk pakan. Kita di sini untuk penggemukan saja, jadi lima bulan sudah bisa panen, kita jualnya per kilo,” ungkap Deni, salah seorang petugas jaga peternakan mengaku saat ini kambingnya sudah laku semua.
Ada juga peternakan khusus breeding kambing yang juga memanfaatkan pakan dari pohon Kaliandra. ”Kami ada 120 ekor kambing, pakannya dari daun Kaliandra. Kalau kayunya kita buang,” terang Daryono, pemilik peternakan kambing yang lokasinya tak jauh dari Candi Jawar ini kepada Malang Post.
Meski jalan yang ditempuh ke lokasi peternakan ini tidak mudah, karena kondisi jalan masih tanah dan hanya untuk satu kendaraan, nyatanya ada dua peternakan besar di lokasi tersebut. Selain peternakan milik warga yang rata-rata memiliki 10 hingga 40 ekor kambing, mereka memanfaatkan banyaknya pohon Kaliandra di lereng gunung Semeru.
Itu baru sebatas memanfaatkan daun saja, belum kayunya yang sebenarnya juga memiliki nilai ekonomis tinggi. Untuk itulah, tim sociopreneur Malang post menangkap peluang dari pohon Kaliandra seperti yang dikembangkan Dahlan Iskan di luar Jawa. Diperkirakan, di wilayah Ampelgading dan sekitarnya itu ada 20 hektar lebih Kaliandra.
”Sebelumnya kita sudah survey di daerah Ngantang, di dekat gunung Kelud, di sana juga banyak Kaliandra, belum lagi di wilayah Poncokusumo atau di kaki gunung Semeru sisi utara dan di daerah gunung Arjuno, saya kira juga banyak Kaliandra,” yakin Purwanto menangkap peluang Kaliandra yang tumbuh subur di Malang Raya. (bua)