Pengelola Tak Sekedar Jualan Kamar

RUANG TERBUKA HIJAU: Ruang terbuka hijau Majapahit Hotel dirawat menggunakan resapan air tanah tanpa menggunakan air PDAM.

KALAU saja Pemerintah Kota Surabaya jeli, sebenarnya konsep Surabaya Eco sudah dimulai sejak zaman Belanda. Prototipe Surabaya Eco sudah diwujudkan ketika Surabaya memiliki hotel pertama dan termegah, yaitu Hotel Majapahit sejak 1910. Berikut catatan Hary Santoso, Wartawan Malang Post.

Gagasan Lukas Martin Sarkies (LMS) mendirikan Majapahit Hotel, saat itu, paling tidak sudah sangat sempurna dizamannya. LMS, kelahiran Armenia, tidak sekedar menjual kamar hotel semata. Konsep green building dicermati dan diterapkan benar oleh arsitek Majapahit Hotel dengan kekuatan 143 kamar, yang awalnya bernama LMS Hotel ini.
Tidak itu saja, konsep detail penyelamatan bumi (save our earth) ternyata juga sudah diperhitungkan secara masak-masak. Bukti konsep save our earth ala Sarkies bersaudara itu, sampai sekarang, masih utuh dan masih berfungsi 100 persen seperti pertama kali dibangun di tahun 1910.
Agus Herinomo, Director of General Affairs Majapahit Hotel menyebutkan, konsep save our earth ditandai dengan keberadaan 44 bak kontrol resapan air. Bak kontrol itu letaknya persis di depan kamar-kamar hotel dengan jarak antara 1-1,5 meter.
Kemudian antara satu bak kontrol dan yang lainnya disambungkan dengan pipa buatan zaman Belanda. Pipa itu juga masih utuh dengan bahan campuran fiber dan besi, berdiameter kurang lebih 30 cm.
Praktis, saat musim hujan, aliran air hujan bisa langsung masuk bak kontrol yang didesain terbuka dengan ukuran kurang lebih 50 cm x 50 cm. Agar air di bak kontrol segera bergerak, di bagian atas pipa ditempatkan lubang kecil sebagai penambah tekanan udara dari luar. ‘’Air hujan di bak-bak kontrol, tidak langsung dibuang begitu saja ke selokan. Rupanya oleh arsitek Majapahit Hotel, ketika itu, langsung diarahkan ke tandon air yang ada di bagian belakang hotel sebagai penampungan,’’ jelas Agus.
Tandon air itu ditanam dalam tanah berukuran panjang 6 meter, lebar 6 meter dan kedalaman juga 6 meter itu, bisa menampung 6 M3 air. Kondisi bak penampungan ini juga masih bagus dan berfungsi normal. Sejalan perkembangan jaman, kini tandon itu diberi tutup agar saat kemarau tidak gampang menguap.
‘’Manfaat air dari tandon sangat besar. Musim kemarau panjang seperti sekarang, air tandon kita pompa untuk menyirami taman hotel yang luasnya 40 persen dari total luas lahan hotel. Jadi untuk siram-siram taman setiap hari kita tidak pakai air PDAM,’’ ujar Agus.
Konsep resapan air ala Sarkies bersaudara ini, andai kata diterapkan untuk 139 gedung di Surabaya, mungkin Surabaya bisa sedikit terhindar dari masalah banjir. Saat hujan, air tidak langsung mengalir di jalan raya atau selokan kota, tetapi dibantukan resapan milik gedung-gedung bertingkat.
Dalam jangka panjang, resapan air tanah bisa menjaga keseimbangan tata air, pencemaran air tanah dan menyelamatkan sumber daya air. Bukan malah sebaliknya keberadaan bangunan malah mengeksplorasi sumber air tanah secara besar-besaran untuk operasional gedung.
‘’Banyak keuntungan didapat. Selain airnya bisa dimanfaatkan saat kemarau, kontur dan struktur tanah menjadi lebih bagus dan kuat. Karena air hujan langsung diserap ke dalam tanah,’’ kata Agus dengan menunjukkan hamparan taman cukup luas yang membentang diantara dua sayap bangunan dua lantai kamar Majapahit Hotel.
Manajemen Majapahit Hotel yang sejak 2006 lalu dikelola PT Sekman Wisata, merasa yakin benar konsep resapan air miliknya tidak dimiliki gedung lain di Surabaya. Tetapi, Agus menginginkan bisa membagi konsep resapan air ini ke hotel-hotel, apartemen, plaza dan perkantoran. ‘’Jika dikehendaki kami siap berbagai ilmu. Menyelamatkan bumi secara bersama-sama jauh lebih baik, ketimbang kami sendirian. Jangan memikirkan biaya yang harus dikeluarkan, tapi mari kita memikirkan generasi anak-anak kita ke depan,’’ ajaknya meyakinkan.
Selain itu, konsep resapan air  Majapahit Hotel juga memiliki konsep ruang terbuka hijau. Ruang yang berada di dalam dan ditengah-tengah bangunan hotel, sangat diyakini tidak dimiliki hotel, apartemen atau pun plaza di Surabaya. Padahal, taman atau lahan terbuka hijau diantara dua sisi bangunan manfaatnya sangat komplek sekali. Selain untuk penyegaran dan pemandangan dari kamar hotel, bisa juga untuk menghemat pemakaian lampu di siang hari.
Memang, manajemen Majapahit Hotel tidak membatasi tamunya yang menginap menggunakan lampu-lampu kamar di siang. Tetapi, secara otomatis, keberadaan taman terbuka hijau di depan kamar hotel akan ‘memaksa’ tamu untuk enggan menggunakan lampu di siang hari.
‘’Tentu saja ini menjadi bagian penting progam save energy. Kalau energy listrik bisa dihemat, maka beban operasional pun otomatis akan terkurangi,’’ kata Agus dengan menyebutkan, hotelnya juga memiliki Tim Save Energy yang bertugas keliling memelototi pemakaian lampu hotel yang tidak perlu dinyalakan. (bersambung)