Dikenal Pendiam, Ibu Langsung Menjerit Saat Tahu Anaknya Ditangkap

DITANGKAP: Teuku Reza saat ditangkap Polres Malang Kota

Satu persatu pelaku perampok minimarket tersungkur akibat terjangan peluru tajam polisi. Di Kabupaten Malang, dari tujuh pelaku empat di antaranya tewas, sementara tiga lainnya ‘lumpuh’ setelah ditembak pada kaki. Sedangkan di Kota Malang, dua pelaku juga dibuat pincang karena ditembak.

Iwan alias Maknyik, adalah satu dari dua pelaku yang diringkus Timsus Polres Malang Kota, dini hari kemarin. Ia terpaksa dilumpuhkan dengan timah panas karena berusaha melawan dan kabur saat dikeler untuk menunjukkan pelaku lain.
Maknyik adalah bapak satu anak. Ia merupakan karyawan sebuah pabrik plastik di Jalan Tenaga Kota Malang. Maknyik  berasal dari lingkungan keluarga sederhana di Jalan Bantaran Malang. Ia anak sulung dari empat bersaudara pasangan Sauri dan Lipah. Namun sejak menikah sekitar tiga tahun lalu, ia tinggal di rumah mertuanya di Desa Bugis, Kecamatan Pakis.
Di mata orangtua, Maknyik dikenal sebagai pemuda sederhana, pendiam serta penurut. Mulai kecil hingga melepas masa lajangnya, tidak pernah satupun Maknyik terlibat masalah hukum. Tertangkapnya Maknyik karena terlibat perampokan minimarket membuat kedua orangtuanya shock.
“Saya kaget, karena selama ini anak saya itu pendiam dan tidak pernah berbuat macam-macam. Saya sama sekali tidak tahu kalau ia terlibat kejahatan. Kalau memang benar, maka ia telah membuat malu orangtuanya,” tutur Sauri, ayah Maknyik kepada Malang Post saat ditemui di rumahnya semalam.
Kabar tertangkapnya Iwan alias Maknyik ini, diketahui keluarga dari besan (mertua Maknyik) Selasa tengah malam. Mereka mendapat telepon dari mertua Maknyik, yang mengabarkan anaknya ditangkap polisi. “Kami shock dan istri saya (ibu Maknyik, red) sampai menjerit begitu mendapat kabar itu,” ujarnya.
Begitu juga di kalangan tetangga. Mereka mengaku kaget jika Maknyik terlibat kasus perampokan. Meskipun di kalangan pemuda sekitar, mereka sudah mendengar kabar kalau Maknyik lama menjadi target operasi (TO), namun mereka tidak tahu Maknyik adalah pelaku perampokan.
“Kami sudah tahu lama kalau Maknyik menjadi buronan polisi. Tetapi kami tidak tahu apa kasusnya. Terus terang kami kaget kalau memang dia terlibat kasus perampokan. Sebab sebelum menikah dia itu sangat pendiam, tidak pernah berbuat onar di kampung. Kepada teman seusianya juga sangat baik,” terang beberapa tetangga dan pemuda sekitar rumahnya, sembari mengatakan Maknyik sudah lama tidak pulang ke rumah orangtuanya, setelah dicari-cari polisi.
Selain Maknyik, satu pelaku lagi yang ditangkap Timsus Polres Malang Kota adalah Teuku Reza. Pemuda asal Aceh ini, ditangkap lebih dulu sebelum polisi menangkap Iwan alias Maknyik. Sesuai KTP serta KK, Reza memang tercatat sebagai warga Jalan Jaksa Agung Suprapto III Malang, dengan menumpang di rumah mertuanya.
Namun selama ini, Reza beserta Lia, istrinya tinggal dengan menyewa rumah di wilayah Sawojajar. Reza ditangkap di rumah kontrakan adiknya di Jalan Jaksa Agung Suprapto III Gang Masjid Malang pada Jumat 24 Oktober lalu sekitar pukul 19.00. Penangkapan bapak satu anak ini, cukup membuat warga kaget.
Pasalnya untuk menangkap Reza, polisi harus terlibat kejar-kejaran di atas atap rumah warga. Reza berusaha kabur dengan melompat-lompat rumah warga sebelum akhirnya bersembunyi di dalam kamar mandi rumah Ibu Ningsih, warga sekitar.  “Kami mengira ada tawuran pemuda, tidak tahunya polisi mau menangkap Reza. Saat itu sempat terdengar beberapa kali tembakan,” kata beberapa warga yang meminta namanya tidak disebutkan.
Selain menangkap Reza, malam itu diketahui warga polisi juga menangkap Mulyadi, serta seorang temannya yang sedang bertamu. Mulyadi adalah adik ipar Lia (istri Reza). Hanya apakah ada keterlibatan Mulyadi dan seorang temannya dalam kasus perampokan minimarket, tidak diketahui oleh warga. Dalam press release polisi pun juga tidak menyebut tentang keterlibatan keduanya.
Di kalangan masyarakat, Reza dikenal sebagai sosok pemuda yang pendiam. Ia tidak pernah membuat masalah di kampung. Bahkan, ia diketahui sebagai pemuda yang mudah bergaul dengan teman serta masyarakat. “Kalau ke sini (rumah mertuanya, red) kadang pagi lalu pulang sore. Reza anaknya pendiam dan tidak banyak omong. Wajar kalau warga sekitar kaget, ketika dia ditangkap karena kasus perampokan,” sambung warga, yang juga dibenarkan Yudi, Ketua RW01 dilingkungan sekitar.(agung priyo/han)