Usung Konsep Gagana Inovasi Mitigasi Bencana di Indonesia

Mahasiswa UB Pemenang Saga 2nd Megathurst Geologi di Undip

Keluarga menjadi faktor utama dalam penanganan bencana. Konsep itu yang ditawarkan oleh Rika Mayasafya dan Yoel Marthen Mahasiswa Universitas Brawijaya dalam Kompetisi para akademisi kebumian di Universitas Diponegoro. Melalui konsep tersebut, mereka itu meraih juara  1 Saga 2nd Megathurst Geologi.

Konsep mereka dinamai Keluarga Siaga Bencana (Gagana). Dalam konsep tersebut, ibu ditempatkan sebagai aktor utama. Ibu merupakan sosok penyayang. Keberadaan ibu dalam sebuah keluarga ibarat motor penggerak. Seperti pada bulan Februari 2014 lalu, saat Gunung Kelud Meletus, ibu memiliki peran amat penting.
Dentuman gunung Kelud saat itu menakuti banyak orang. Berbondong-bondong mereka pergi ke pengungsian untuk menghindari abu vulkanik yang berjatuhan di seluruh penjuru. Mereka pun harus berjalan kaki, mencari tempat aman, dengan jarak pandang tidak lebih dari lima meter.
Tangisan anak-anak mengiringi perjalanan mereka ke tempat yang lebih aman. Para Ibu terus-terusan mendampingi anaknya, tanpa kenal lelah. Meski tidak sedikit pula yang ikut menangis karena khawatir nyawanya terancam.
Sekarang, kondisi di Gunung Kelud mulai mereda. Aktivitas sebagian masyarakat di sekitar gunung ini mulai berangsur normal, beternak, bertani, berdagang ataupun yang jadi penambang pasir, semuanya mulai tenang karena bencana sudah berlalu. Meski pada akhirnya, tak satupun bisa memastikan kalau bencana tak akan datang lagi.
"Bila bencana datang, tiba-tiba semua panik, berhamburan keluar, seolah tidak memiliki persiapan," ujar mahasiswa jurusan fisika Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) Universitas Brawijaya (UB), Rika Mayasafya, kepada Malang Post kemarin.
Rika, panggilan akrabnya, merupakan juara satu Saga 2nd Megathurst Geologi Universitas Diponegoro (Undip). Kompetisi para akademisi kebumian ini, mencari insan muda yang memiliki inovasi dalam mitigasi bencana alam di Indonesia. Rika, bersama partnernya, Yoel Marthen, menjadi pemenang dengan menggagas konsep Gagana (Keluarga Siaga Bencana).
Dengan Gagana, fungsi mitigasi bencana dinilai akan berjalan efektif. Maksud mitigasi disini, merupakan upaya untuk mengurangi kerugian akibat bencana. "Mitigasi itu ada tiga, pra bencana, tanggap bencana dan paska bencana, Gagana merupakan tipe pra bencana," jelas mahasiswi semester 7 itu.
Lebih lanjut, Rika menjelaskan kalau Gagana merupakan maksimalisasi peran ibu/wanita dalam sebuah keluarga, agar keluarga tersebut bisa mengurangi risiko saat bencana sungguhan datang.
Kenapa harus ibu? Karena dengan mental kuat seorang ibu dalam menghadapi bencana, dipastikan keluarga juga siap dalam menghadapi fenomena alam yang kedatangannya sulit diprediksi ini.
Bagi Rika dan Yoel, ibu memiliki kekuatan khusus dibanding seorang ayah. Dalam kehidupan sehari-hari, ayah memang pencari nafkah yang baik. Ibu lebih mudah memengaruhi psikologis diri sendiri dan keluarga. Berbanding terbalik dengan ayah. Rika mengatakan, menurut survey dari USGS (United States Geological Survey), saat dihadapi dengan risiko seperti bencana, pria akan lebih memilih untuk melindungi dirinya sendiri.
Ditambah lagi, masih dalam survey USGS, korban bencana kebanyakan adalah wanita. "Bila ibu diberi pengertian soal bencana, tidak hanya berguna untuk dirinya sendiri, melainkan keluarga. Sehingga, korban wanita juga akan berkurang," beber wanita asal Banyuwangi itu.
Optimalisasi peran ibu ini, melibatkan pos daya masyarakat, pemerintah dan akademisi dari perguruan tinggi di Indonesia. Pihak-pihak ini bisa memberikan sosialisasi dan pelatihan rutin terhadap para ibu di kawasan rawan bencana. Bentuk sosialisasi dan pelatihan beragam.
Mulai dari penyadaran kalau kawasan tempat tinggalnya berpotensi terkena bencana. Kemudian, memberi wawasan mengenai bencana dan kebumian di Indonesia, kiat-kiat mengenali munculnya bencana dan apa yang harus dilakukan ketika bencana itu datang. "Termasuk solusi paska bencana itu datang," ujarnya.
Wanita berjilbab ini menegaskan, bila sosialisasi dan pelatihan diberikan kepada ayah atau laki-laki, manfaatnya belum terasa. Rika berpendapat, laki-laki relatif 'angin-anginan' bila diberikan sosialisasi. Istilahnya, lanjut dia, masuk kuping kiri keluar kuping kanan. Inilah satu lagi yang menurut Rika dan Yoel menjadi kelebihan seorang ibu.
"Ibu akan lebih paham bila diberi pengertian. Jadi, bila disosialisasikan kepada ibu, mereka akan lebih meresapi dan mempraktekan ilmu barunya ini, terlebih kalau diberikan rutin. Karena ini menyangkut keselamatan keluarga. Lagi-lagi, inilah kelebihan seorang ibu," urai Rika.
Ide Yoel dan Rika muncul ketika mereka mulai tertarik dengan materi mitigasi bencana di perkuliahannya. Sejak saat itu, kedua mahasiswa asal Banyuwangi ini mulai membaca banyak referensi mengenai bencana di Indonesia, maupun di luar negeri. Keduanya prihatin terhadap pra korban bencana alam.
Wawasan pun bertambah saat keduanya menjadi relawan saat bencana gunung Kelud Februari 2014 silam. Meski sebentar, Rika mengaku melihat banyak fenomena keluarga para korban. Dimana ibu-ibu menangis menanggapinya. Muncul pertanyaan di dalam benaknya, bila ibu-ibu banyak menangisi kejadian itu, bagaimana kelanjutan hidup keluarganya.
"Pengalaman itu, ditambah wawasan literatur, muncullah kesepemahaman antara saya dan Yoel. Saat ada kesempatan di kompetisi saat itu, kami berniat menjajal langkah yang lebih serius. Ternyata kami menang, padahal ide-ide dari pesaing bagus-bagus," katanya.
Ada lima dari 80 lebih peserta, berasali berbagai jurusan kebumian di perguruan tinggi se-Indonesia yang masuk final. Kelimanya adalah Universitas Gajah Mada (UGM) Yogyakarta, Institut Teknologi Nasional (ITN) Malang, FMIPA Undip Semarang, Fakultas Teknik Undip Semarang, serta Rika dan Yoel dari UB.
Gagasan yang mereka bawa pun kreatif dan inovatif. Ada yang memadukan teknologi dengan wawasan geologi untuk pemetaan daerah rawan bencana, adapula yang menggunakan teknologi SMS untuk memberitahukan masyarakat saat bencana akn muncul dan berbagai gagasan kreatif lainnya. "Mungkin karena ide kami lebih dalam dan realistis, jadi dipilih sebagai pemenang," terangnya.
Di sisi lain, keberhasilan Yoel dan Rika dalam kompetisi itu berkat minat tinggi terhadap ilmu bencana dan mitigasinya. Karena minat tersebut, upaya mereka tidak berhenti setelah memenangkan kompetisi ilmiah itu.
Harapan baru muncul, yakni merealisasikan Gagana dan menyebarluaskannya di Indonesia, sehingga Indonesia yang secara geografis rawan bencana, bisa mengurangi risiko dan meningkatkan kesiapan masyarakat dalam menghadapinya.
"Dalam waktu dekat ini, saya juga akan bergabung dengan tim mitigasi bencana NKRI. Di sana saya bisa mendalami ilmu mitigasi bencana, sekaligus menambah pengalaman terjun langsung ke lapangan. Saya juga punya cita-cita menjadi ahli bencana di Indonesia," pungkasnya. (Muhamad Erza Wansyah/ary)