Lakukan Perjuangan Modern Lewat Koperasi dan Politik

LAHIR dari keluarga pejuang, Dra Sri Untari Bisowarno MAP memilih tetap jadi pejuang di sepanjang hidupnya. Jika puluhan tahun lalu kakek dan orang tuanya mengusir kolonialisme dari ibu pertiwi, kini Ketua Umum  Pusat Koperasi Wanita Jawa Timur (Puskowanjati) itu memilih berjuang untuk kesejahteraan rakyat melalui koperasi dan panggung politik.

Spirit perjuangan dan semangat kepahlawanan sudah tumbuh sejak Untari kecil. Bahkan tak sekadar tumbuh. Darah perjuangan mengalir dalam tubuhnya lantaran Untari adalah keturunan pejuang.
Kakeknya, Mangun Torong adalah peraih Bintang Gerilya dari pemerintah pusat karena tercatat sebagai pejuang.  Selain pernah menjadi lurah Desa Bendosari, Kecamatan Sanan Kulon, Blitar, Mangun Torong juga ikut angkat senjata mengusir penjajah.
“Putra-putranya juga turun ikut berjuang. Rumah kakek saya jadi tempat berkumpul para pejuang,” kenangnya.
Ayah Untari, Soeani juga pejuang kemerdekaan. Saat melawan penjajah, ayahnya berada di garda pejuang TRIP Brigade 17. Sedangkan ibunya, Djuminah barisan relawan petugas kesehatan yang bertugas mengobati para pejuang kemerdekaan yang terluka.
“Jadi saya sangat merasakan semangat perjuangan sejak kecil. Keluarga saya adalah keluarga pejuang. Kenangan tentang kegigihan dan heroisme melawan penjajah sangat kental, selalu terbayang dan menjadi sikap hidup  dalam kenangan keluarga,” kata Untari bersemangat.
Suaminya,  Tosan Bisowarno juga putra pejuang kemerdekaan. “Mertua saya  anggota awal BKR. Pemerintah pusat juga menganugerahinya Bintang Gerilya, Bintang Eka Paksi Nararya dan penghargaan lainnya,” kata alumnus IKIP Negeri Malang (sekarang UM) ini.
Kini Untari sadar betul bahwa berjuang tidak lagi angkat senjata. Tapi bangsa Indonesia masih harus terus berjuang. Sebagai warga negara, semua wajib ikut berjuang meneladani semangat kepahlawanan. Perjuangan saat ini, lanjut Untari, yakni mewujudkan masyarakat yang sejahtera dan berkeadilan.
Karena itu, ia memilih dua medan perjuangan. Melalui koperasi dan dunia politik sebagai jalan untuk berjuang. Ia juga mengisi waktu senggangnya dengan menjadi dosen tamu di sejumlah perguruan tinggi.
Di dunia koperasi, mantan penyiar radio dan mantan aktivis karang taruna ini dikenal sebagai wanita yang gigih memperjuangkan eksistensi koperasi. Alasannya, koperasi merupakan satu-satunya kepribadian ekonomi Indonesia. Bahkan menurut mahasiswa S3 ini, koperasi merupakan senjata ekonomi yang paling ampuh mengatasi persoalan perekonomian masyarakat sepanjang prinsip-prinsip koperasi ditegakkan.
Kiprahnya di dunia koperasi bukan kemarin sore. Untari merintis perjuangannya di Koperasi Wanita (Kopwan) Setia Budi Wanita (SBW) Jatim sejak lama hingga kini didaulat menjadi ketua koperasi wanita terbesar itu.
Pada tahun 1996 sampai 2001, ia merupakan Pembina Primer Puskowanjati. Sejak tahun 2006 sampai sekarang, Untari masih dipercaya sebagai Ketua Kopwan SBW Jatim. Pada tahun 2009-2014 ia juga dipercata sebagai ketua Divisi Pemberdayaan Perempuan, Dewan Koperasi Indonesia Wilayah (Dekopinwil) Jatim. Hingga kini, Untari juga bertugas sebagai Ketua Bidang Perempuan, Pemuda dan Hubungan Kerjasama Dewan Koperasi Indonesia (Dekopinda)  Kota Malang.
Untuk urusan koperasi, Untari memang memilih habis-habisan. Sebab menurut dia, sudah terbukti  koperasi bisa mengatasi persoalan ekonomi masyarakat. Koperasi sejati juga telah nyata berperang memberangus praktik rentenir.
Karena perjuangannya di dunia koperasi, Untari meraih penghargan Bhakti Koperasi dari Menteri Koperasi dan UKM pada tahun 2010. Pada tahun 2012, dia dinobatkan sebagai tokoh koperasi Jawa Timur oleh Gubernur Jatim, Dr Soekarwo. Tidak hanya itu, di tahun 2012, Untari mendapat anugerah The Best Exellence Services dari Indonesian Business Award 2012.
Di panggung politik, Untari juga bukan pendatang baru. Sejak masih muda, ia seorang politisi. PDI Perjuangan merupakan pilihan saluran politiknya. Untari pernah tercatat sebagai Sekretaris DPC PDI Perjuangan Kota Malang dan kini sebagai salah satu wakil ketua DPC PDI Perjuangan Kota Malang. Ia pernah menjadi wakil ketua Komisi B (Keuangan dan Perekonomian) DPRD Kota Malang. Kini Untari mewakili masyarakat Malang Raya sebagai anggota Komisi C (Keuangan) DPRD Jatim.
Berjuang di beberapa bidang sekaligus, Untari merasakan pragmatisme dan konsumerisme sebagai tantangan terbesar perjuangan saat ini. Bahkan jika lengah, pragmatisme dan konsumerisme bisa mematikan nilai kejuangan dan semangat kepahlawanan.
“Pragmatisme membuat masyarakat enggan berjuang dan memilih jalan pintas. Padahal segala sesuatunya tidak bisa diperjuangkan dengan jalan pintas,” pungkasnya. (vandri van battu/han)