Kisah Yang Tersisa dari Kepergian Beto

TINGGAL KENANGAN : Beto Goncalves saat kumpul bersama teman dan anggota skuad Arema.

Striker Arema Cronus, Alberto Goncalves sudah memastikan pergi dari klub kebanggaan Malang Raya. Namun, banyak kenangan yang masih membekas di ingatan Beto tentang masa baktinya untuk Singo Edan. Pemain Brasil itu pun merasakan melankoli kesedihan usai pergi dari Arema.

Kostum bernomor punggung 9 selalu digunakan oleh pemain sepakbola yang punya dribble atau kemampuan mencetak gol yang mumpuni. Striker Arema Cronus, Alberto Goncalves memiliki keduanya. Selama membela Singo edan, Beto telah menghidupi tuah nomor 9 sebagai pencetak gol tim.
Selama dua musim membela klub pujaan Malang Raya, Alberto Goncalves memang diandalkan di lini depan oleh tim pelatih. Dia mampu mencetak 29 gol dari 68 penampilannya bersama Arema, sejak era Rahmad Darmawan dan Suharno-Joko Susilo.
Dengan minute play 5252 menit, Beto mewarnai catatan pemain asing asal Amerika Latin atau zona Conmebol yang pernah berkostum Arema. Kaki yang cepat, dribbling atraktif, serta kemampuan finishing lengkap, adalah kelebihan dari Beto. Namun, bukan hanya catatan profesional saja yang ditorehkan Beto di Malang. Pemain kelahiran Belem tersebut menorehkan memori indah ketika hidup di Bhumi Arema. Dia telah membangun pertemanan yang akrab di skuad maupun di luar lapangan.
Dua tahun bukan waktu yang lama bagi seorang pemain sepakbola untuk tinggal di sebuah klub. Namun, Beto mampu membangun pertemanan yang dekat dengan para pemain seperti I Made Wardana, I Gede Sukadana, Gustavo Lopez hingga asisten pelatih I Made Pasek Wijaya.
Pertemanan Beto tidak muluk-muluk. Pesta barbeque di halaman belakang rumah adalah momen yang bagus untuk mengakrabkan diri dengan pemain lain. “Saya sudah merindukan teman-teman Malang. Banyak memori di sini. Barbekyu bersama teman-teman satu tim, itu tidak terlupakan,” ungkap Beto.
Selain itu, Beto juga punya kesan mendalam di Malang karena anak ketiganya lahir saat ia berkostum Arema. Dandara Flavia Roesmala da Costa, lahir ketika Beto membela Arema era Rahmad Darmawan. Jelas, Beto tidak akan bisa melupakan Arema karena kelahiran putri ketiganya di Malang.
Dengan kuatnya ikatan antara Beto dan Arema, pemain yang mengoleksi tato di lengan dan badannya tersebut enggan berpindah klub, terutama klub di Indonesia. Pinangan Barito Putera Banjarmasin ditolak mentah-mentah oleh Beto. “Cuma ada dua klub yang mau saya bela di Indonesia, yakni Arema atau Persipura. Selain itu, saya tidak mau. Karena itu saya pilih pergi ke luar negeri,” tandas Beto.
Setelah memastikan diri tidak ada kontrak lagi dengan Arema, Beto hijrah ke Penang FA, tim asal Malaysia Super League yang diasuh oleh Jacksen F Thiago. Jacksen yang juga berdarah Brasil, memboyong Beto, Hilton Moreira, Fabiano Beltrame ke Malaysia.
Setelah semua air mata dan sukacita yang dirasakan selama berkostum Arema, Ia hanya bisa berterimakasih kepada seluruh elemen Arema. Ia bersyukur bisa mengenal manajemen, tim pelatih, ofisial, pemain, dan terutama Aremania yang sangat luar biasa menurut Beto, selama dua musim terakhirnya dengan Arema.
“Arema sudah sangat luar biasa. Manajemen, ofisial, tim pelatih, pemain dan terutama suporter Aremania luar biasa. Saya sedih harus pergi. Tapi, Arema dan Aremania akan selalu saya kenang. Goodbye Arema!,” tutup Beto.(fino yudistira/han)