Sempat Frustasi, Kini Aktif Beri Semangat Kaum Difabel

Keterbatasan fisik tidak menjadi halangan untuk memberi semangat bagi orang lain, termasuk kepada mereka dengan kekurangan yang sama. Itulah yang dilakukan penyandang difabel aktif Ahmad Sholeh yang memberi perhatian kepada sesamanya. Termasuk kerap menjadi jujukan untuk memodifikasi sepeda yang bisa dipakai pengguna difabel.   
Ahmad Sholeh kini menjabat sebagai Ketua Perhimpunan Difabel Indonesia Malang. Sebelum aktif dalam aksi sosial tersebut, dia sempat mengalami masa dimana merasa putus asa karena cacat fisik yang dimilikinya. Dalam waktu yang lumayan lama, sekitar 20 tahun dia merasa tidak ingin hidup, tetapi tidak berani pula untuk mengakhirinya.
“Masa frustasi itu berlangsung cukup lama. Bahkan hingga memasuki tahun 2000an,” ujarnya mengawali cerita.
Sholeh mengalami kelainan fisik semenjak bayi. Menurut cerita orang tuanya, dia menderita folio, sehingga kaki sebelah kanannya tidak berkembang sebagaimana mestinya. Ketika masih kecil, dia belum terlalu mempedulikan hal itu. Namun begitu remaja dan dewasa, rasa sesal itu mulai muncul dan menguat.
“Siapa yang tidak iri melihat teman sebaya bermain. Lalu mereka bisa bekerja dengan mudah dan tanpa cibiran dari orang lain,” beber dia kepada Malang Post.
Akan tetapi, sejak tahun 2006, dia mulai menyadari untuk lebih berarti. Sholeh mulai tertarik untuk berlaku seperti orang normal. Misalnya bisa mengendarai sepeda dan memiliki pekerjaan sehingga tidak selalu bergantung pada orang tuanya. “Setelah bertemu dengan beberapa teman dengan keterbatasan yang hampir sama, pikiran positif mulai muncul. Saya mulai belajar memodifikasi sepeda agar bisa saya kendarai,” terang dia.
Bersama beberapa temannya, Sholeh mendirikan Difable Motorcycle Indonesia. Komunitas ini merupakan kumpulan dari penyandang tuna daksa. Awalnya, hanya beranggotakan lima orang saja. Namun kini, anggota DMI sudah mencapai 96 orang. “Semakin bertambah tahun, anggotanya makin banyak. Tidak mudah untuk memberikan semangat kepada mereka,” papar dia panjang lebar.
Dia pun berani pasang badan, karena mampu membantu sesama tuna daksa untuk bisa mengendarai sepeda. Diakuinya, banyak orang lain yang bisa memodifikasi sepeda motor menjadi roda tiga. Namun, yang membuatnya dengan hati dan pas ketika dipakai oleh tuna daksa, sangat sedikit.
Dari pengakuan beberapa kerabatnya, yang sudah memesan di bengkel orang yang tidak cacat, rasanya cenderung berbeda. Sebab, orang normal tidak bisa merasakan kekurangan yang dimiliki oleh orang cacat. “Misalnya membuat persneling motor terasa pas bagi teman-teman yang hanya memiliki satu kaki sebagai tumpuan. Harus benar-benar merasakan, bagaiman ketika salah satu anggota tubuh tidak berfungsi,” sebut dia, lirih.
Di sanalah, Sholeh menjadi jujukan bagi tuna daksa lain. Tidak hanya di kawasan Malang Raya, namun hingga keluar kota. Dia mengakui, mendapat beberapa pesanan modifikasi dari Purwakarta, Jombang hingga Banyuwangi. “Entah siapa yang memberitahu. Namun ya saya terima, karena untuk membantu mereka agar bisa merasakan bersepeda yang nyaman,” papar pria berusia 38 tahun ini.
Sholeh pun sangat aktif mengunjungi tuna daksa dan kaum difabel lain. Dia berharap, mereka tetap memiliki semangat untuk hidup, bahkan bekerja sekalipun memiliki kekurangan. Sejak April 2014 lalu, dia pun ditunjuk menjadi Ketua Perhimpunan Difabel Indonesia Malang. Untuk jabatan tersebut, pria yang kini sudah berkeluarga ini harus menanggalkan jabatannya sebagai Ketua Difabel Motorcycle Indonesia. “Sebenarnya tidak diizinkan sama teman-teman. Tetapi, saya berjanji tetap aktif bersama,” imbuh dia.
Kini, dia aktif di tempat yang baru sembari memiliki pekerjaan sebagai penjual cilok. Bila ada pesanan sepeda untuk difabel, pekerjaan jualan dia tinggal. Begitu pula jika dia harus melakukan sosialisasi, mengikuti pelatihan hingga memberikan materi kepada kaum difabel. “Sebatas ini yang bisa saya kerjakan. Yang jelas sekarang saya merasa menjadi sangat berarti, dan membuat orang lain berarti pula,” pungkas dia. (stenly rehardson/han)